Simon Dari Kirene

“Satu episode berakhir hari ini. Ini proses hidup hebat buat kita. Tenang saja… Tuhan akan mengirimkan orang-orang yang akan menjadi Simon dari Kirene berikutnya bagi kita” kataku pada Ibu waktu kami menunggu bagasi di bandar udara A. Yani Semarang

————————————————————————————-

Aku tak pernah mengenal istilah Simon dari Kirene, mungkin tepatnya jarang. Setiap kali harus berhadapan muka dengan tantangan atau sesuatu yang ‘mau tidak mau” harus dihadapi dan tidak bisa dihindari, ya SUDAH… aku akan menghadapinya itu saja.

Itu yang terjadi selama ini.

Entah berapa kali, entah berapa banyak kenekatan yang kulakukan karena “keterpaksaan” dan karena “tidak ada yang lain”. Jika kisahnya mampu kutuliskan, mungkin akan menghasilkan buku yang sangat tebal, mulai dari : Paket Jenazah, Ari-Ari Anak-mu, Bangun dari Kematian, Lanjutkan Hidup-mu, dan entah apalagi.

Hidup… selalu saja membawa banyak cerita aneh ke dalam perjalananku.

Seringkali, semua kisah itu memaksaku menjadi HERO bagi orang lain. Bukan-bukan untuk memperlihatkan bahwa aku hebat, sama sekali tidak, karena aku sekali lagi sebenarnya melakukannya lebih karena alasan terpaksa, bukan karena aku bisa dan atau hebat.

Tetapi bagaimana jika suatu saat hidup ini membawa sesuatu yang “sebaliknya”?

Jika hidup seolah menjadi terjungkal? Jika hidup seolah membawa ke dalam pusaran yang tak kita mengerti arahnya? Jika hidup seolah membawa kita ke dalam hutan gelap yang misterius dan penuh tanda tanya?

Bukannya hidup kita terkadang menjadi seperti itu?

Beberapa waktu lalu aku menelpon dan berbicara kepada seseorang, “Aku tidak mengerti kenapa hidup kadang harus jadi seperti ini ya? Jalannya sungguh tak bisa dipahami, semua berjalan seolah ke arah sebaliknya, dan aku tidak butuh nasehat bahkan dari seorang motivator sekalipun”

“Aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan lagi padamu selain sabar… sabar … dan sabar…” itu jawabnya

Ya! Sabar dan terus HADAPI ITU DENGAN BERANI! Buset dah!!!

Hidup terkadang seolah merentangkan hati, pemikiran, emosi, dan semuanya di luar batas yang kubisa, meskipun teori logika-ku mengatakan aku pasti masih bisa bahkan lebih dari ini.

Dan aku tiba di satu titik yang paling dihindari oleh seorang yang biasa disebut HERO… yaitumenyerah!

Bukan! Ini bukan menyerah yang artinya lemes, pasif, putus asa, hopeless dan semacamnya. Menyerah ini mungkin tepatnya bisa diterjemahkan begini, “Ya sudahlah! Hadapi saja… entah bagaimana nanti… itu urusan nanti…”

Hidup, aku di usiaku kini…

Ya, aku mempelajari sesuatu di hidup. Terkadang hidup membawaku kepada lingkaran kehangatan begitu banyak teman, sahabat, dan keluarga… terkadang begitu ‘kan???  Tetapi akan tiba saat di suatu titik entah mengapa ‘semua mereka menghilang’, dan parahnya, terkadang saat seperti itu datang pada waktu kita tiba di “ujung”

Dan akupun memaki, “Kampret! Kemana mereka semua yang selama ini menyebutku ‘sahabat’? Kemana mereka pergi waktu aku butuh mereka? Padahal selama ini aku ‘kan udah begini begitu…

Ya itulah hidup! Kupelajari itu sekarang!!! Tanpa dengan yang ‘biasa’ disebut oleh kekristenan sebagai “kepahitan”.

Sudahlah!!

————————————————————————————-

Dan, kali ini episode hidupku memang benar-benar hebat! Sangat hebat! Belum pernah kualami yang seperti ini.

Salah satu yang pertama adalah;

Aku harus menghadapi makian, kecaman, dan sumpah serapah pada sesuatu hal yang sama sekali tidak kulakukan! Tidak sama sekali!! Sangat memuakkan, menyakitkan dan entah apalagi kata yang bisa disebut untuk menggambarkannya. Dan aku harus menghadapinya TANPA perlawanan, ya TANPA perlawananan. Aku yang terbiasa melawan, konfrontasi, bertempur, harus menerima semua itu dalam DIAM, bahkan memohon AMPUN untuk hal yang TIDAK aku lakukan itu. Astaga!

Aku telah berpikir seribu kali sebelum melakukannya, dan telah sampai di titik menyerah, saat DIA mengirim seorang Simon dari Kirene.

Tidak ada yang dilakukan orang ini, sama sekali tidak. Dia hanya menemaniku tertawa di suatu perjalanan menuju pembantaian.

Aku berhutang kepada Simon dari Kirene ini, bukan untuk dibayar kepadanya suatu saat nanti, tetapi untuk DILAKUKAN kepada orang-orang yang akan kutemui berikutnya.

Ahhhh!!!

————————————————————————————-

Berikutnya, aku harus menemani keluargaku menghadapi suatu pergulatan hebat yang terkait dengan banyak hal di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.

Aku, sulung dari 3 bersaudara yang terlahir di keluarga yang remuk redam, sebenarnya telah sangat terbiasa dan terlatih menghadapi hal seberat apapun. Itu jelas! Tetapi setiap episode hidupternyata memiliki alur ceritanya sendiri, dan tidak bisa dijadikan pijakan untuk episode berikutnya.

Untuk kesekian kali, aku tiba di satu titik menyerah,saat satu orang mengirimkan sebuah pesan singkat, “pesawat jam berapa… aku yang akan antar dan jemput”

Aku tak bisa menjawabnya. Jari-jariku seolah macet ketika hendak mempertanyakan jawaban bantuannya. Suaraku seperti tercekat di tenggorokan ketika dia tidak sabar dan menelpon!

Hingga bertemu dengannya di bandara dan menemani kami di perjalanan, makan, berbicara sangat banyak tentang “HIDUP” berjam-jam berikutnya hingga pagi menjelang.

Aku tahu! Aku belajar! Aku mengerti!

Hidup, kadang tak bisa dijawab dengan ayat-ayat di Alkitab! Hidup, kadang tak bisa dijawab dengan nasehat-nasehat teologis! Hidup, kadang memang tak bisa dimengerti dan dipikirkan.

Aku kembali berhutang kepada Simon dari Kirene ini, bukan untuk dibayar kepadanya suatu saat nanti, tetapi untuk DILAKUKAN kepada orang-orang yang akan kutemui berikutnya.

Ahhhh!!!

————————————————————————————-

Dan, cerita apalagi yang bisa kuberikan, ketika dukungan berupa pesan, bisikan lembut, dan nasehat bergema di telingaku untuk ‘terus kuat dan kuat dan kuat datang dari orang-orang yang sangat kuhargai kehadirannya di hidupku…

Nasehat, dukungan datang dari orang-orang yang tepat yang mungkin memang telah disediakanNya bagiku. Mereka bukan seorang HERO, bukan seorang yang tinggi sehingga susah digapai, bukan pula orang yang sempurna, tetapi…

Entah mengapa dan entah bagaimana mereka telah digerakkan, diberikan, dikirimkan pada saat yang TEPAT

Aku sungguh telah belajar! Sungguh-sungguh belajar!

Aku, debu dari sang MAESTRO HIDUP telah dihargai begitu rupa, dicintai, di saat aku merasa dihindari dan ditinggalkan.

Aku, akan meneruskan perjalananku berikutnya. Masih begitu banyak misteri, masih begitu banyakkengerian di benakku… tapi aku telah belajar, BAPA tidak akan meninggalkanku sendirian.

Dia, melalui SIMON dari Kirene… memperlihatkan bahwa DIA sungguh NYATA, mengirimkan, mengulurkan tanganNYA melalui orang-orang yang menopangku begitu kuat!!

Terima kasih

Every single day

I find it hard to say

I could be yours alone

You will see someday

That all along the way

I was yours to hold

I was yours to hold

–YOURS TO HOLD by SKILLET–

————————————————————————————-

I’

13 Sept ’12

Special thanks for:

Smile King, Hai Hai, Candra Purnomo, Penny Saraswati

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s