Kisah Malam Natal

Image

Semua urusan kantor sudah selesai. Aku bersiap untuk menjemput ibu belanja keperluan harian selama natal…Selesai… pulang, dan membuat kue2 kering untuk persediaan natal. Itu rencanaku

Setelah makan siang, ada yang terasa kering di hati. Aku bergegas berganti pakaian, menaiki motor

“Mau kemana lagi? Ini malam natal…” tanya ibu

“Menjenguk Ayu… di RS. Ken Saras” jawabku singkat

“Hati-hati… jalanan menuju arah jogja sana padat merayap”

“Ya”

Aku tidak tahu apa yang mendorongku ke sana, dia bukan sodara, bukan pula siapa-siapa… hanya anak seorang teman ibuku.

Sampai di rumah sakit. Perlahan ku buka pintu kamarnya, terlihat masker oksigen menempel di wajahnya.

“Nafasnya sesak lagi…” kata seseorang di sebelahnya berusaha menjelaskan tanpa kutanya

Aku menunggu sampai matanya terbuka.

“Heh…” sapaku pelan

Dia membuka matanya, terbatuk-batuk. Vonis pertama berupa Tumor getah bening di leher, dan dengan tiba-tiba diketemukan lagi “massa” di ‘dekat’ paru sebesar bakso. #@%^&*$! Aku mengumpat, memaki, dan entah apalagi saat mendengarnya. Dia masih 20 tahun, muda, tegap dan bersemangat!

Tiba-tiba saja lidahku terasa kelu, tak sanggup berbicara, aku hanya mengelus pelan punggungnya. Hanya tersenyum, itu yang bisa kulakukan.

“Doakan aku dalam nama Tuhanmu…” bisiknya pelan ke telingaku

“Yap!”

Aku berdoa untuknya, meski bibirku terasa sangat berat, karena sesuatu yang “penuh” mendesak di dadaku. Mataku terasa panas. Aku benci perasaan ini.

Aku berbicara sedikit dengannya sebelum meminta ijin untuk keluar sebentar untuk menerima telepon dari hotel.

Aku mengirim sms kepada 2 orang tentang keberadaanku, dan seseorang menjawabnya dengan :Kalau dia berharap untuk terus hidup, doakan agar dia hidup terus dan sembuh. Kalau dia berharap segera mati dukunglah dengan berdoa agar dia segera mati. Itulah caraku selama ini. Menemaninya sehari agar dia punya satu hari indah lagi dalam hidupnya. Itulah besok.

Hmmmmmppphhh… aku hanya menarik nafas panjang.

Aku kembali masuk ke kamarnya, berbicara, tertawa… hingga waktu pulang tiba.

Aku terduduk diam di halaman Rumah Sakit, memandang air mancur, mendung yang menggantung, dan perbukitan. Ada sesuatu yang berasa “kosong” di hatiku. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Aku begitu membenci perasaan ini.

Aku tak kecewa menghabiskan malam natalku dengan melewati jalanan padat, hujan dan dingin selama 30 km berikutnya…  Ahhhhh… Aku masih berharap dan terus berharap esok masih ada untuk sahabatku.

I’

24 Desember 2012

Iklan

4 thoughts on “Kisah Malam Natal

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s