Sobat — Bukan Soto Babat

Image

Ingat ya… di apapun keadaannya… kita itu sobat — tapi bukan soto babat…

“Jalan sama kamu itu enak… kayak sama sobat cowok…” kata Stevan

“Ha ha ha ha… cowok gundulmu itu… ” jawabku sambil tertawa ngakak

Yah… seperti itulah, dan memang selalu seperti itu jika aku dan Stevan bertemu. Saling mengolok, saling mengejek, saling melempar apa saja yang ada di depan kami, tanpa merasa tersakiti ataupun tersinggung. Kami adalah sobat yang cucok satu sama lain. KLOP — meski kami memiliki amat sangat banyak perbedaan, baik hoby, karakter, pekerjaan, dan entah apa lagi.

Apa yang menyatukan kami? Atau lebih tepatnya apa sebenarnya yang bisa membuat kami “kadang” bertemu? Tidak ada! Kalaupun ada, itu mungkin “kegilaan” dan “konslet” yang bersamaan waktunya saja. Ha ha…

Seperti siang ini, aku dan Stevan berhadapan muka di meja makan dengan menu iga panggang yang hmmmm… Dia makan lahap, atau rakus, atau khilaf atau kelaparan??? Dan kami berbicara tentang banyak hal.. ya banyak hal

Eits! Tunggu… kami berteman.. jangan salah sangka! Dia sobatku… benar-benar sobat…

Tanpa “rasa itu”, tanpa “maksud ini itu”, tanpa apa-apa… membuatku bebas bercerita apa saja padanya… dan itu menyenangkan

Selesai makan dan ngobrol tak jelas, kami jalan lagi… dan entah mengapa dia mengajakku berbelok le arah kafe mahal

“Hei.. aku ga mau ke situ, kopinya mahal… satu cangkir aja udah 30 ribuan..” kataku

“Hallah… aku yang bayar…” jawab Stevan

“Okelah…”

Dia memesan minuman dengan sedikit campuran kopi di dalamnya, spontan aku menegurnya, “Pilih yang lain saja… nanti kamu muntah…”

“Ah.. ga apa – apa… cuma dikit kok kopinya..” jawabnya

“Terserah! Aku tanggung kamu muntah nanti…!” kataku mengancam

“Aku… baru saja putus cinta… patah hati… asem tenan!” potong  Stevan

“Heh?! Sama yang mana? Yang itu? Lha padahal kan kulihat kamu seneng bener sama dia…?” tanyaku bertubi-tubi

“Iya… aku seneng bener… yah.. ketipu sama orang yang “sok rohani” gitu…” jelasnya

“Sok rohani? Maksudmu?” tanyaku

“Iya… dia bilang… udah “dapat” dari Tuhan…tapi nyatanya? Eh…. aku ditinggal begitu saja… Udah berapa cewek nih kayak begini sama aku….” jelas Stevan lagi dengan muka berkerut..

“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha… lu geblek sih! Payahhhhhhhhh! Masak aku punya temen cowok yang gampang ditipu sama cewek begini sih…. ah kamunya sih terlalu rohaniii.. realistis donggggg kayak aku….” kataku sambil tertawa ngakak

“Kamu itu! Ada orang sedih malah ngakak! Dasar!!!!”

“He he he he… jangan marah…. udahlah… cari yang lain… banyak stock kan? Orang kayak kamu… tenang aja lah….” jawabku sok menghibur

“Ah lu!”

“Eh… tuh ada cewek cakep di ujung sana… samperin gih… temenin dia kalo perlu… aku di sini sendiri ga apa-apa kok… tapi asal dibayarin.,.. ha ha ha ha ha…” kataku lagi dengan tertawa yang ga putus putus

“Lu itu… untung gua cuma punya satu teman cewek di dunia yang kayak lu… bisa GILA!!!”

“Ha ha ha ha ha ha…”

Seperti itu, dan hampir selalu seperti itu.

Kami berjalan berdua ke ke parkir, “Lu diem aja van… wah gejala mau muntah nih… gara-gara banyak makan, minum kopi atau ku ejek…?”

Dia diam.

Aku sudah menghafal gelagat “mabok” dan mau muntahnya. Alhasil, terjadilah.

“Sudah… ? Selesaikan dulu muntahnya… Sompret kamu! Untung aku ini cewek setengah cowok…” kataku sok ngomel

“Udah…” jawabnya dengan mata berair… suer bikin kasihan

“Beneran? Ga usah pulang dulu… nongkrong-nongkrong aja  sambil angin-angin… atau kamu perlu diapa-apain dulu kalo habis gini?” tanyaku

“Ga apa-apa… ga usah panik gitu ah…” jawabnya

“Ih! Ga panik! Cuma kan aku yang repot kalo kamu muntah di mobil” jawabku

Dan kita meneruskan perjalanan. Aku sengaja bercerita dari timur — selatan — utara — barat daya — barat laut untuk mengacau…

“Ini buat lu…” katanya sambil mengangsurkan sebotol syrup ketika sampai di depan kantorku

“Buat apa?”

“Buat lu, bego! Thanks ya udah temani gua…” katanya lagi

“Yoi! Besok gua antar lu ke dokter THT biar ga budeg! Ingat ya… di apapun keadaannya… kita itu sobat — tapi bukan soto babat… ha ha ha ha ha…” jawabku menghiburnya

Begitulah sekelumit cerita tentang aku dan Stevan…

Kami memang sobat — bukan soto babat

I’

11 Januari 2013

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s