Sebuah Lubang Tak Berdasar

geisha

Sebuah Lubang Tak Berdasar”Mbak.. mbak… bajuku baru lho…. ini dibelikan mama kemarin lho…” celoteh Naya riang

Naya, anak tetangga umur sekitar 5 tahun, tumben-tumbenan main ke rumah dan berceloteh riang

“Eh… kamu kok item dan ga cantik putih kayak mama kamu sih…” celetuk Sorna

Sorna, adalah seorang anak yang tinggal di rumah kami selama 2 bulan ini, karena sedang libur kuliah.

Spontan Naya terdiam

“Hush! Kamu itu…! Naya cantik kok ya… ayooo tossss… anak cantik main sama mbak Iik..” sergahku sambil langsung menggandeng tangannya

Beberapa jam kemudian…

“Kamu itu… apa untungnya coba kamu ngatain Naya ga cantik?”

“Ga ada, ya kan dia emang hitam…dan ga secantik mamanya…” jawab Sorna

“Iya. Tapi apa untungnya kamu bilang kayak gitu?” tanyaku lagi

“Ya nggak ada…” jawab Sorna

“Lalu? Kamu berarti tadi itu cuma buang kata-kata saja begitu? Kamu tahu ga anak segitu sudah bisa mengingat perkataan, apalagi jika itu mengena di hatinya…? Pernahkah kamu melihatku mengatakan seseorang seperti itu selama kamu mengenalku?” cecarku

Sorna terdiam

“Na, kamu mungkin ga merasakannya. Tapi aku telah penuh dengan ucapan seperti itu sejak aku masih kecil. Aku salah satu korban penganiayaan anak melalui fisik dan mental sejak kecil. Dan tahukah kamu seperti apa rasanya dikatain dan diperlakukan seperti itu???” kataku

Adikku yang sebelumnya hanya menyaksikan pecakapan kami, akhirnya ikut berbicara

“Kami, anak-anak yang kenyang sampai muntah dengan perkataan seperti itu. Dulu, dengan mudah orang bertanya ‘mana ayahmu’, ‘kenapa kamu begini’, ‘kenapa hidup kalian begitu’, dan sebagainya. Seolah kehidupan kami layak menjadi ejekan dan cibiran bagi banyak orang, beruntunglah kami bisa hidup sampai dewasa dan bertumbuh” kata adikku

“Perkataan – perkataan seperti itu seolah melemparkanku ke lobang sumur dalam tanpa dasar. Bukan salahku kalau aku tidak cantik, bukan salahku kalo aku hitam, bukan salahku aku terlahir di keluarga yang seperti apa, dan sebagainya… tetapi kenapa ejekan itu terus ditujukan kepadaku? BLUNGGGG… dilempar begitu saja… dan aku tidak tahu apa jawabannya… bayangkanlah…”

“Seperti waktu beberapa waktu lalu ketika kami di suatu tempat. Orang-orang bebicara kepada kamu, ‘wah ini adiknya… cantik kayak mama-nya… ga seperti kakaknya… kok beda banget ya.. bla bla bla… tanpa perasaan mereka melemparkan omongan itu… rasanya pengen kuhajar mulutnya… orang-orang yang tidak punya perasaan itu…” sambung adikku

“Ya kan orang itu yang salah.. kenapa ngatai kalian seperti itu…” jawab Sorna

“Heh! Sekarang aku balik! Apa bedanya kamu dengan orang-orang itu yang ngatain seperti itu kepada anak umur 5 tahun!!” sergah adikku

Sorna kembali terdiam

“Jangan diulang, karena itu menyakitkan. Rasanya seperti ada sesuatu dalam perutku yang mengerikan!!” kata adikku

“Yah.. seperti melemparkan seseorang ke dalam sumur tanpa dasar, gelap… dan kita tak pernah tahu akhirnya… dan lagi, kamu tidak ingin dikatain seperti itu juga kan oleh orang lain… karena itu jangan lakukan… ”

“Beruntunglah Mbak Iik itu bisa mengenal Tuhan akhirnya… kalau tidak… kita sama-sama tidak pernah tahu… apa yang terjadi hari ini… sudahlah!” kata adikku mengakhiri pembicaraan

 #8 Februari ’13
Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s