Violet

violet

Di sini kami berada, duduk berhadapan di suatu sebuah restoran taman, langit masih terang, belum ada tanda-tanda senja.   Pikiran kami berkecamuk, bertumpuk… mata kami lekat memandang satu sama lain tanpa sepatah kata di awalnya.

Aku memandang wajah pria di hadapanku ini sekali lagi, aku berusaha mengingat garis wajahnya. Waktu telah sangat lama berlalu, dan harus kuakui aku hampir-hampir tidak mampu mengingatnya.

Cerita ini telah begitu usang, tenggelam bersama tumpukan cerita lain di hidupku.

“Aku telah sungguh-sungguh mencarimu 22 tahun ini…” kata Raihan, matanya memandangku tajam

Aku masih terdiam tanpa kata, mataku menatapnya, aku tidak tahu apakah ini cerita bohong atau tidak.

“Aku pergi ke Sumatra, bertanya kepada Bulik Lien… beliau menutup mulut rapat-rapat dan mengatakan tidak tahu keberadaanmu. Aku ke Depok ke tempat Pakde Suryo, aku memperoleh jawaban yang sama. Aku ke Jogjakarta menemui Mbak Endang, Mas Dewo… aku tanyakan kepada Agus tetanggamu… aku ke Pati… semuanya menutup rapat mulutnya. Dalam keadaan putus asa aku ke rumah nenekmu, tapi aku diusir dan dibentak… aku putus asa…” jelasnya

“Benarkah?” mataku menatapnya bertanya-tanya

“Benar. Bagaimana aku bisa mengenali semua keluarga besarmu yang tersebar dimana-mana itu jika aku tidak benar-benar ke sana?” jawab Raihan dengan suara mantap

Ingatanku berputar, mencoba menemukan potongan-potongan kisah yang sekiranya mungkin bisa membuatku mengingat seseorang bernama Raihan ini.

***

“Suruh Si Kiki itu sekolah ke Semarang saja… pulangkan dia ke rumah ibunya” satu suara seseorang dengan lantang mengajukan usulan kepada nenekku

“Jika dia mau dikuliahkan… anakku juga harus dikuliahkan oleh keluarga ini! Emang siapa dia? Anak haram! Dia tidak layak mendapatkan semua ini!” Seru seseorang lagi

“Bukan hanya anakmu… tapi anakku juga… Anak kami jelas asal-usulnya! Kalo dia? Siapa?” timpal satu suara lagi

Aku mendengarkan dari balik pintu semua percakapan itu. Hatiku … entah dimana hatiku saat itu. Tolong katakan siapa aku…? Bisikku pelan

***

“Aku terbuang ‘Han… tidak ada seorangpun yang mau mendekat padaku waktu itu. Entah apa yang terjadi,… aku dengan tiba-tiba harus segera pergi dari desa ketika lulus SMA…” jawabku sambil mengaduk-aduk minuman

“Iya. Aku tahu… karena satu tahun kemudian aku datang ke sana…  sudah tidak menemukan jejakmu. Dan tidak ada seorangpun yang mau memberitahukan aku dimana kamu berada…” jawab Raihan

Aku menatap matanya. Garis wajahnya tidak lagi bisa kuingat dengan jelas,… tapi dengannya aku merasa menemukan rasa nyaman yang kucari. Tidak tidak! Ini bukan cinta… bukan semacam gairah orang dewasa. Bukan… ini sebuah perasaan aman…

Aku, aku tidak pernah merasa senyaman ini sebelumnya, sejak bertahun-tahun lalu… entah berapa puluh tahun lalu…

Perjalanan hidup telah membawaku berjalan sangat jauh melewati banyak sekali mimpi gelap. Dilahirkan, dan dibesarkan dalam sebuah keluarga besar tanpa mengenal ayah dan ibu yang sesungguhnya membuatku banyak mengalami hal pahit yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menceritakannya. Potongan-potongan kisah itu terus berputar liar di ingatanku.

***

“Dia bukan adikku! Dia orang lain yang dipelihara keluarga kami… ” suara seseorang yang kukenal baik itu sedang mengatakan sesuatu kepada temannya

Aku terdiam di balik pintu…

Kakakku… seorang kakakku mengatakan demikian tentangku…

Hatiku? Entahlah…

***

“Ha ha ha ha… kau tahu ‘Han? Aku sempat bertaruh kepada teman-temanku yang ada sekarang… kalau mereka bisa menemukan jejakku di desa sana… jika ada yang mengenali sosokku,… jika ada yang tahu nama asliku, aku akan memberi mereka uang seratus ribu… ha ha ha … ” kataku sambil tertawa sinis.

“Iya. Dan itu menyiksaku! Mau tahu…? Aku juga demikian. Tidak ada seorangpun yang mengenaliku di desa sana, bahkan tidak ada yang percaya kalau aku berasal dari sana. Aku mengubur semua kenangan hidupku di sana. Terlalu pahit. Aku berasal dari keluarga yang sangat miskin, hancur,… dan ….” katanya sambil menghela nafas panjang, pandangannya menerawang jauh, entah kenangan apa yang masih diingatnya

Aku berani bertaruh kalau sangat sedikit orang yang akan mengingat kami. Aku telah melarikan diri dari desa tempat aku dibesarkan dan mencoba melupakan semua cerita yang ada didalamnya, demikian juga Raihan.

Seorang sahabat, ya hanya Naya seorang sahabat terdekatku masih tertinggal di desa yang mengerti dan tahu persis keberadaanku. Akhirnya aku bisa mengingat Raihan dengan bantuan Naya.

“Apa aku pernah dekat dengan seorang cowok bernama Raihan waktu SMA dulu?” tanyaku pada Naya melalui chatting beberapa hari lalu waktu untuk pertama kalinya Raihan berhasil terhubung denganku

“Iya, tentu saja…” jawab Naya sambil bercerita panjang lebar

Aku hanya mampu membaca teks chatt kami dengan mata berkaca-kaca, potongan cerita kami telah tercerai berai.

***

“Kamu ngapain dekat-dekat dengan cowok miskin itu?! Kamu mau jawab berteman saja??! Aku bisa membacanya dari matamu!! Tinggalkan dia?? Pilih baik-baik! Kamu itu ada di keluarga seperti apa… siapa kita dan siapa dia???!” bentak seseorang kepadaku

Aku menyayanginya. Seseorang dengan sosok biasa, wajah biasa,… dari keluarga miskin. Rumahnya berdampingan dengan sebuah kandang…

Aku tahu siapa aku, siapa kami, dan siapa keluarga besarku yang kata mereka keluarga keturunan entah apa. Tapi dia selalu berkata dengan lembut kepadaku… tatapan matanya ramah… senyumnya…

Tidak ada yang memberikan padaku kelembutan, keramahan dan senyuman serupa itu.

Tidak ada.

***

“Kita tersambung terakhir hanya oleh sepucuk suratmu… aku tidak bisa melupakannya, aku tidak bisa melupakanmu. Mungkin begitulah cinta pertama… yah.. pertama bagimu… dan juga yang pertama bagiku. Aku sangat menyayangimu, tapi aku miskin sekali… aku ingin mengatakan padamu tunggulah aku… tapi ketika aku mencarimu kamu sudah menghilang…”

“Aku? Cinta pertamamu dan kau cinta pertamaku??” tanyaku tidak percaya. Tidak ada yang bisa kuingat…

Bisakah aku mendapatkan kebenarannya…

“Ya! Aku merasakannya lekat di hatiku. Dan itulah yang membuatku mencarimu bertahun-tahun pertama… ah… apakah kau mencariku juga?”

Aku bukannya tidak berusaha mencari, tetapi jalan hidupku berputar tanpa kendali. Trauma kekerasan demi kekerasan selalu menimpaku, ancaman demi ancaman,… dan aku terkubur di dalamnya, tanpa pernah tahu jalan keluar. Potongan cerita itu semakin liar dibenakku, kepalaku terasa berdenyut keras.

***

“Kubunuh kamu kalau sampai membocorkan rahasia ini!” seseorang menatapku dengan seringai liar

“Kubunuh kamu kalau sampai mengatakan kepada seorangpun tentang yang aku lakukan padamu ini!!” seseorang yang lain lagi dengan senyum jahat di ujung bibirnya

“Kamu! Keturunan penjahat! Tidak layak kamu di rumah ini! Pergi!!!!” seru seseorang yang beda lagi

Tidak ada yang menginginkanku… Tidak ada yang mencintaiku. ..hidupku terbuang di tengah kegelapan yang teramat pekat… adakah yang bisa mengatakan padaku, apakah ini yang bernama kehidupan itu… bisikku sambil menangis di kegelapan

Aku menatap lekat pisau di bawah bantalku, jika harus terjadi sesuatu… aku akan berteman denganmu selamanya…. bisikku pelan

***

“Ceritakan padaku bagaimana kamu akhirnya bisa menemukanku…” tanyaku kepada Raihan. Aku masih tidak mengerti alasannya mencariku. Sudah 22 tahun, sudah mulai ada satu dua uban di kepalaku. Bukankah melupakanku adalah jalan terbaik?

“Senin kemarin, aku harus menghadiri suatu acara pernikahan di pedalaman Sumatra yang harus ditempuh selama 8 jam jalan darat dan 4 jam kemudian dengan speedboat. Aku bertemu seseorang,… kami bercerita panjang lebar, ketika aku beritahukan asal usulku yang ternyata sama dengannya, aku langsung bertanya tentang kamu. Dia… ternyata kakakmu dari lain ibu… Aku memohonnya dengan sangat untuk mencari tahu keberadaanmu, nomor teleponmu malam itu juga. Aku bersedia membayarnya dengan apapun… asalkan aku bisa terhubung denganmu… dan dia menghubungi kakakmu yang lain ibu lagi katanya… dan disinilah kita sekarang…” jelas Raihan

“Hmmmmphhhh….” aku hanya sanggup menghela nafas panjang tanpa menjawabnya

Kulemparkan pandanganku jauh ke arah utara, kota Semarang terlihat sangat cantik dari atas perbukitan ini. Laut, bangunan dan jutaan manusia di kota ini memiliki jutaan pula cerita.

“Hei… ” tegur Raihan pelan

“Ya… ” jawabku

“Pernahkah kamu mencariku? Apa yang kamu pikirkan pertama kali waktu melihat namaku di teleponmu? Apa kau ingat aku?” tanya Raihan dengan tatapan mata penasaran

“Aku mencarimu… ya aku ingat pernah mencarimu dengan bertanya pada beberapa orang, tapi tidak ada seorangpun yang tahu kemana kamu pergi… dan aku pikir kamu pergi begitu saja. Sudah… aku pikir kamu… hilang untuk selamanya…” jawabku

“Lalu? Apa yang kamu pikir waktu melihat namaku di teleponmu?” desak Raihan lagi

“Hatiku mengatakan sesuatu… ada nama itu entah di suatu masa… ada nama itu… aku tahu itu. Tapi itu tidak mungkin! Kamu … tidak mungkin… dan pikiranku… otakku yang kacau itu membuatku sama sekali tidak yakin kalau itu kamu… jadi aku menjawabnya asal asalan, apa itu nama lagu yang dinyanyikan JKT 48? ha ha ha ha… jawaban yang konyol ‘kan?” aku tertawa sinis

“Tapi kamu pasti mengingatnya. Aku yakin itu… dan aku bersabar…” jawabnya sambil menatapku

“Sejujurnya aku mengelak darimu selama beberapa hari setelahnya. Pikiranku mengatakan ini tidak mungkin. Sangat tidak mungkin. Terlalu jauh perjalanannya… terlalu lama… terlalu terkait dengan banyak hal… terlalu sakit… tidak mungkin! Karena itulah aku tidak pernah membalas sms-mu dengan serius dan mengelak waktu kamu menelpon… tidak mau! Aku sama sekali tidak mau mengingatnya. Meskipun tidak ada sakit yang ditinggalkan oleh cerita kita… tapi potongan cerita lain akan terkait dengan sendirinya ke pertemuan kita ini…” kataku

Dan, itu seperti membongkar kubur yang berusia ratusan tahun…. keluhku dalam hati

***

“Benarkah KAU itu ada? Siapa KAU?  Siapa KAU? Apa gunanya KAU menciptakanku? Apa gunanya KAU membuatku ada di dunia ini jika aku tidak tahu siapa diriku??? Katakan apakah KAU ada ???”

Suatu malam di tengah rasa frustasi, depresi, dan kegelapan yang teramat pekat aku meneriakkannya… 

Aku tidak tahu siapa aku… tolonglah aku…

….

“Tahukah kamu ada seseorang di dunia ini yang sangat mengasihimu?” tanya seseorang itu pelan

“Siapa?”

“Aku … terima kasih … terima kasih… terima kasih… karena telah mengasihiku Tuhan…” hanya itu yang mampu kubisikkan di tengah derasnya air mata yang membanjir di wajahku

***

“Aku akhirnya menikah setelah putus asa, dan dikenalkan oleh seseorang kepada seorang gadis keturunan Pakistan.  Aku pikir kita mungkin memang tidak berjodoh. Tapi aku masih terus mencarimu… bukan lagi untuk tujuan meneruskan cinta pertama kita. Tetapi untuk membantumu menemukan kebahagiaan yang sama… hingga tiba jaman FB … aku tahu suatu saat kamu akan muncul di sana.. dan aku memasang akun di sana sejak itu. Lihatlah, semua temanku mempunyai nama terakhir yang mirip denganmu… karena aku pikir itu mungkin bisa saja kamu… tetapi bukan…”

“Ha ha ha ha ha… FB ku over protected… tidak mudah dicari oleh mesin pencari sekalipun… ” jawabku ringan

“Ha ha… tapi aku masih terus mencari…” kata Raihan

“Apa gunanya kau mencariku? Bukannya kamu sudah berbahagia dengan keluargamu? Tidak ada lagi gunanya kita bertemu kan?” potongku cepat

“Aku… sejak meninggalkan desa berupaya keras, bekerja keras supaya sukses dan tidak lagi dihina orang… dan sekarang inilah aku. Aku  seolah memiliki tanggung jawab padamu… kita ini dulu mahluk yang paling sengsara… kita tidak boleh selamanya seperti itu ‘kan?”

“Tanggung jawab? ha ha ha ha… kamu…? Nobody loves me… ”

“Terkecuali aku…”

“Dan Tuhan tentunya…” jawabku cepat

***

“Berusahalah sendiri! Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin hidupmu…!” kata seseorang di masa lampau

“Kamu pikir kamu itu siapa…? Jadilah kaya dan pintar! Ngaca!!” kata seseorang lagi

“Kamu ‘kan tidak cantik… sana pergi…!”

“Kamu bagian belakang saja… siapin makanan buat kami… atau ngepel atau bersihkan WC aja… tidak layak di depan!!!” sergah seseorang 

Aku bukan siapa-siapa… bukan apa-apa… tidak siapapun…

***

“Lihat ini foto anakku. Aku memberinya nama Priski Raihan Damayanti… gabungan namaku dan namaku… jangan katakan padanya kalau suatu saat nanti kalian bertemu, karena itu akan membuatnya heran karena nama ibunya sangat berbeda dengan namanya…” kata Raihan sambil memperlihatkan foto anaknya

“Kamu itu gila!! Bagaimana mungkin kamu bisa memberikan namaku kepada anakmu! Itu benar-benar ide gila!!!” kataku sambil menatap wajah anaknya, seorang gadis kecil cantik dengan rambut panjang

“Aku harus bagaimana menghapus kenangan kita? Kau cinta pertamaku dan aku cinta pertamamu… namamu begitu terukir dalam di hatiku… dan aku ingin mengenangmu selamanya…” jawab Raihan

“HAH! Itu tidak mungkin….kamu gila!” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepala

“Ini benar… Kamu masih tidak percaya kalau ini aku? Dan aku benar-benar mencari dan mengingatmu???”

“Tidak! Tidak mungkin… untuk apa? Tidak mungkin… kamu pasti gila ” aku melemparkan pandanganku, mengelak menatap matanya

“Tidak mungkin apa?”

“Tidak mungkin ada seseorang yang sebegitu mencintaiku… tidak mungkin! Aku…”

“Ki… aku mengenalmu… aku tahu cerita hidupmu di masa lalu… waktu itu kamu banyak bercerita padaku… dan kita itu sama… kamu tidak sedang bermimpi… lihat aku!” kata Raihan sambil meraih wajahku untuk melihat ke arahnya

***

Ada sesuatu yang terus berbicara di pikiranku, “Adakah yang mencariku? Tapi kenapa aku tidak ingin ditemukan oleh siapapun juga?”

Aku menutup semua akses… aku menutup setiap jalan masuk untuk semua orang dari masa lalu datang menghampiriku. Aku tidak tahu  entah untuk alasan apa…

Aku tidak mau dikenali… biar saja semua selesai di belakang… aku hanya akan berteman dengan orang yang datang di masa kini dan masa datang… selain itu tidak…

***

“Kau menangis?” tanya Raihan pelan

“Ya! Aku heran! Apa gunanya kita bertemu? Aku masih tidak mengerti … sama sekali tidak!” jawabku sambil berusaha menyeka air mata yang turun tak terkendali

“Ini rencana Tuhan… Kamu seharusnya tahu itu…” kata Raihan lagi

“Untuk apa? Segala sesuatu ada gunanya dan harus memiliki alasan kan?” tanyaku

“Kenapa kamu masih sendiri dan belum menikah?” tanya Raihan

“Tidak usah mengalihkan pembicaraan…”

“Kamu mencari seseorang dimana kamu merasa nyaman kan? Seseorang yang menerima masa lalumu… menerimamu… mencintaimu dengan sederhana dan tulus… ”

“Ya tentu saja…” jawabku cepat

“Setelah kita, apakah kamu pernah berpacaran dengan orang lain?”

“Tidak! Tidak satupun… kalaupun teman dekat ada banyak… cuma yah… seperti itu saja…”

Aku menatap matanya lekat-lekat. Orang ini… mengapa aku bisa bercerita banyak kepadanya tanpa merasa takut, khawatir dan malu? Mengapa dengannya aku seolah menemukan bagian kecil hidupku? Aku merasa begitu tenang… aku … mungkinkah benar kalau aku pernah menyayanginya bertahun lalu? Inikah perasaan sayang yang telah menguap dari hatiku itu?

“Akupun tidak pernah berpacaran. Aku menikah begitu saja setelah dijodohkan oleh temanku.Kamu tahu? Aku ingin pertemuan ini… menumbuhkan cinta di hatimu yang telah rusak oleh berbagai hal yang menimpamu…”

“Cinta?”

“Yah… cinta… cinta bagi seseorang yang benar-benar telah digariskan olehNya bahwa ia akan menjadi milikmu selamanya…”

“Ha ha..”

“Jangan tertawa sinis seperti itu… Ki… aku telah jauh berjalan selama 22 tahun ini untuk mencarimu… dan waktu aku menemukanmu sekarang… aku tahu… kau layak dicintai… kau layak disayangi oleh seseorang yang tepat dan memang untukmu”

“Jangan katakan itu. Aku tidak mau menangis lama di hadapanmu…”

“Tidak apa-apa. Kalau kamu mau menangis, menangislah… tidak apa-apa… Ie.. kamu layak dicintai… layak disayangi… ”

“Ha ha ha ha… I hate this!” jawabku sambil menyeka ujung mataku, ada bulir air yang keluar di sana

“Aku tidak pernah yakin kalau itu kamu… sampai kamu menunjukkan nama anakmu, menyusur sedemikian banyak nama, memberikan aku setumpuk bukti… kalau kita pernah saling menyayangi, dan aku ….”

“Dan kamu disayangi sedemikian rupa… diingat selamanya… di nama anakku”

“Ya… dan cerita kita ini… biarlah hanya menjadi cerita kita saja…”

“Mungkin memang beginilah hidup… ”

“Yah… mungkin memang beginilah hidup…”

“Han, suatu saat kalau aku menikah … datang ya… bukan lagi untuk mengenang apapun… bukan! Tetapi karena aku sangat menghormati mu… orang yang telah menyayangiku begitu rupa… terima kasih dari kedalaman hatiku…”

“Ki… aku akan mengenangmu selamanya lewat nama anakku…?”

“Ya… terima kasih… terima kasih telah mencariku, menemukanku dan menyayangiku tanpa ku tahu… ” kataku

***

Langit telah berubah warna ketika kami menutup pertemuan kami. Aku menatap punggung Raihan yang berjalan menjauh ketika lagu sepotong lagu lama tiba-tiba terdengar.

Aku menatap punggung Raihan yang berjalan menjauh ketika lagu sepotong lagu lama tiba-tiba terdengar

Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan 
Yang terindah dalam hidupku
Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang telah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah

“Sial!” umpatku sambil menyeka mataku

“Heh! Dilarang mengumpat tidak jelas…  ayo pulang! Katanya minta dijemput setengah enam… jadi nggak pulang bareng?” sapa Christian sahabatku

“Ha ha ha ha ha… ayoooooo!!!!” jawabku sambil tertawa

Untuk kesekian kali aku menengok ke arah tempat duduk tempat aku dan Raihan berada. Ada sesuatu yang hangat mengalir di jiwaku. Pencarianku berakhir,..

Pencarianku pada sepotong cerita yang menghilang itu telah selesai..

Mengerti, memahami dan tahu kalau aku disayangi, dicintai oleh seseorang dengan begitu lekatnya telah membuat ujung mataku tak henti mengeluarkan butiran air yang kubenci.

Aku… Ya… aku dicintai… dan layak mendapatkannya…

Ie’

23 Februari ‘2013

I’m so unworthy but still you love me…

Forever my heart will sing of how great You are

Iklan

7 thoughts on “Violet

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s