Grey – Peluk Aku Saat Kau Merindukannya…

grey

Aku benci cerita sedih… warna abu-abu…

***

2 minggu lalu

“Sini… lihatlah dia untuk terakhir kali…” kata Bu Ambar seorang teman ibuku sambil menarik tanganku ke arah jenasah Ayu yang terbaring di ruang tengah

“Aku akan sangat merindukannya mbak… aku masih ingat waktu kalian tertawa bersama… saling mengejek… ”

Aku hanya terdiam menatap wajah Ayu yang telah membeku itu, tidak ada satu patah katapun yang kuucapkan. Kanker merenggutnya di usia 21 tahun. Waktu terasa begitu cepat berlalu…

Sepasang tangan Nia, adiknya memelukku erat. Semuanya membisu, tanpa kata-kata.

“Aku akan sangat merindukannya mbak… dan aku akan selalu mengingatnya… apalagi jika melihatmu….” kata Bu Ambar dengan suara tertahan oleh tangis

“Ibu boleh memeluk saya waktu Ibu merindukannya… tidak apa-apa…” jawabku

“Ya…” dan dia memelukku erat

***

Kemarin pagi.

Aku memarkir motorku dengan tergesa. Aku melihat sosok pria tua itu memandang kejauhan dengan mata kosong. Dia seorang karyawanku bagian taman, anak perempuannya meninggal 2 hari sebelumnya karena kanker.

“Bapak… saya ikut berdukacita…” kataku sambil memegang tangannya dengan kedua belah tanganku

“Injih… mbak… saya udah ikhlas kok…” jawabnya

“Bapak pasti masih sangat sedih ya…”

“Iya mbak… saya masih “tom-tom’en” (terbayang-bayang), wajah anak saya… dia sangat manja sama saya sebelum meninggal. Saya sangat kangen padanya… ini saya bawa fotonya” jawabnya sambil mengeluarkan selembar foto serta memperlihatkannya padaku

“Anaknya cantik ya pak… perawakannya mirip saya? Apakah seumur saya?” tanyaku sambil melihat foto itu

“Iya… perawakannya sangat mirip, umurnya pun sama dengan mbak… apakah saya boleh menatap mbak… kalau saya kangen padanya?” tanya dia dengan mata berkaca-kaca

“Tentu saja pak… tidak apa-apa…” ku genggam erat tangannya, hatinya pasti sangat sedih dan kehilangan

***

Kemarin malam.

“Haiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…………” sapaku kepada teman-temanku yang sedang asik berkumpul, tertawa dan ngobrol bareng

Semua ribut… tertawa… rame… ketika pandanganku bertabrakan dengan seseorang yang menatapku dengan mata berkaca-kaca…

“Hai ola… gimana kabarmu hari ini?” tanyaku

“Kalau aku melihatmu mbak… aku merasa begitu rindu pada kakakku… sayangnya aku tidak bisa melihat dia untuk terakhir kalinya hari ini… ” jawabnya dengan air mata mengalir

“Sudahlah! Kamu bicara saja kepadanya! Aku rasa dia orang yang tepat untuk berbicara tentang kesedihan hatimu…” timpal Ari

“ARI! Ola baru kehilangan kakak perempuan satu-satunya kemarin… dan dia tidak bisa pulang Kalimantan… sebaiknya …”

“Iya aku tahu. Tapi aku ga bisa bicara sedih-sedih”  jawab Ari

“Waktu kesedihan datang, dan kamu tidak bisa bicara apapun… diam itu akan menjadi hal terbaik yang bisa kamu lakukan… rangkulan dan sentuhan tanganmu itu bisa melebihi seribu kata…” jawabku pelan

“Ah sudahlah!” potongnya cepat

“Mbak… satu minggu yang lalu aku bertanya kepada mbak tentang hidup dan kehidupan… ternyata ini to…” kata Ola pelan

“Iya. Aku rasa begitulah hidup… tidak ada yang bisa diperkirakan… segala sesuatu bisa begitu saja terjadi…” jawabku

“Baru beberapa hari lalu aku menelpon dia… baru beberapa minggu lalu… sepertinya baru beberapa waktu lalu kami bertumbuh bersama di rumah…” cerita Ola

“Iklas Ola…! Kamu pasti kuat lalui…” celetuk Ari

“Sudahlah ri! Kamu ngobrol saja dengan yang lain sana…” sergahku

“Aku masih rasa nggak ikhlas mbak… aku merasa sedih sekali… aku tidak merasakan apa-apa…” isak Ola

“Tidak apa-apa… tidak usah dipaksakan… sedihlah… menangislah… kenanglah dia…” jawabku sambil melingkarkan tanganku di bahunya

Ola menatapku dengan wajah penuh air mata.

“Aku mengerti Ola… aku mengerti… di saat seperti ini pasti duniamu berasa berwarna abu-abu… kamu pasti merasa sangat kosong… hampa… dan entah apapun itu… yang semuanya tidak akan bisa dijelaskan dengan kata-kata.. tidak apa-apa…”

“Iya mbak… tapi mbak ‘kan orang kuat” jawab Ola sambil menangis

“Itu tidak sepenuhnya benar. Orang sering tertipu oleh karakteristikku yang terlihat kuat. Aku sangat sering jatuh. Aku sangat sering merasa seperti yang kamu rasakan sekarang… ” jawabku

“Lalu bagaimana mbak melaluinya?” tanya Ola

“Di saat kegelapan seolah melingkupiku… waktu aku mendadak berada di keadaan yang tidak kumengerti… aku meminta tolong kepada seseorang tidak akan meninggalkanku sendirian… aku berdoa… aku meminta tolong padaNya untuk menguatkan hatiku, untuk membantu menemaniku melewati keadaan yang tidak kumengerti, untuk mengirimkan orang-orang yang bisa menolongku…” jawabku

“Ih… agamawi bener…” celetuk Ari lagi

“Ini tidak agamawi kok… ini malah yang bener… emang siapa yang bisa menuntun kita di saat-saat sulit? Emangnya siapa yang bisa tiba-tiba memunculkan bantuan? Emangnya siapa… bisa jawab ri??” aku balik bertanya kepada Ari

“Ola… perjalanan hidup kita ini akan sangat panjang… apalagi kita ini masih sangat muda. Seringkali kita merasa Tuhan sangat baik, hebat, dan luar biasa waktu semua yang di hidup kita ini baik-baik saja, tanpa masalah. Tetapi… akan ada saatnya nanti kita ini harus hidup berkeluarga, suami, anak, dengan berbagai macam kesulitan… apakah jika saat “kegelapan” itu datang Tuhan tidak baik? Tidak… DIA tetap baik…”

“Iya mbak…” jawab Ola sambil mengusap air matanya

“Aku tidak akan selamanya ada didekatmu Ola… akan datang masa dimana seolah kamu harus menghadapi kesulitan, kesedihan, kemarahan itu sendirian… jika saat itu datang… ingatlah… akan tetap ada DIA, satu pribadi yang tidak akan meninggalkan kita sendirian.. entah kita rasa atau tidak… DIA ada… menuntun langkah kita dan menyertai kita senantiasa… sampai kita melewatinya…”

“Boleh kupeluk kamu mbak? Aku sangat merindukan kakakku…. sayangnya aku tidak bisa lagi bertemu dengannya…” tanya Ola

“Ya Ola… peluklah aku… kapanpun saat kamu merindukannya…” jawabku sambil memeluknya erat

Ketika warna abu-abu itu datang … sebuah pelukan kurasa cukup untuk menghangatkan jiwa yang terasa hampa…

***

Aku benci cerita sedih… warna abu-abu…

Ie’

09 Maret ’13

#gambar copas dari http://pinterest.com/pin/243264817342377014/

Iklan

4 thoughts on “Grey – Peluk Aku Saat Kau Merindukannya…

  1. Kasih sayang Tuhan memang tak akan meninggalkan manusia sendirian, tapi terkadang manusia lah yang tak pernah mau mengingat kasih sayang Tuhan.

    aku terharu membaca dialog di cerpen kamu, pesan moral yang sangat bijak 🙂

    • terima kasih er..
      abu-abu gelap… tetaplah itu sebuah warna yang bagaimanapun diijinkan Tuhan mengisi hidup kita..

      terima kasih er..

      Ie

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s