Malaikat Tanpa Sayap

wings

“Emmm… boleh tahu nggak? Ngapain kamu repot-repot menemaniku yang notabene orang asing dan hanya sekedar salah satu tamu grup di hotelmu ini untuk melihat – lihat beberapa tempat di kota Semarang?” tanya Novi

“Nggak kenapa-kenapa… seneng aja…” jawabku singkat

“AH… itu karena standar layanan hotel ya…? tanya Novi lagi dengan wajah penasaran

“Nggak kok… kalau memakai standar pelayanan harusnya kamu bayar aku… ini ‘kan nggak… aku ga pungut apapun dari kamu… santai aja nona… aku hanya mengantarmu, menabur kebaikan padamu… yang sama sekali asing di sini,… aku tidak kehilangan apapun kok… demikian juga kamu… betul kan?” jawabku

“Ha ha ha ha… menejer hotel yang aneh…” kata Novi sambil tertaawa lebar

“Lhoh… kok malah ngatain aku aneh? Kemanapun aku pergi, bersama siapapun, bahkan lebih ekstrimnya… apapun yang kuhadapi… dimanapun itu… Entah mengapa selalu akan ada orang orang “sepertiku” ini yang kutemui… orang asing.. orang ajaib… orang yang mungkin bisa kuberi nama “Malaikat Tanpa Sayap” atau bisa jadi Tuhan yang berubah bentuk jadi seperti mereka ya… ha ha ha .. aku nggak tahu… tapi itu nyata dan selalu terjadi… ” sambungku sambil mengunyah gado-gado

Novi, akhirnya bukan hanya sekedar tamu, tapi menjadi teman dalam sekejap, kutemani jalan-jalan di beberapa tempat di kota ini, bercerita, tertawa, dan entah mengapa aku merasa seperti telah mengenalnya bertahun-tahun lamanya. Dia single, tinggal di Manhattan, dan penampilannya… aha! Tapi aku menyukainya… sangat menyenangkan rasanya bercerita bebas dengannya.

“Yah! Memang kadang seperti itu hidup… kurasa Tuhan kadang seolah berubah bentuk menjadi siapa saja… untuk menolong, untuk menyentuh dan entah apalagi… ” kata Novi

“Yah begitulah… ” jawabku singkat

***

Beberapa hari kemudian

“Mbak, aku rasa kau itu malaikatku… ” kata Icha

“Ngapain bilang kayak begitu?” tanyaku

“Kamu itu bukan siapa-siapa bagiku… bukan saudara, bahkan kita berteman pun baru saja … tapi kamu sudah repot-repot mau mengantarku ke dokter, dan sebagainya…”

“Yah… kalau bukan aku siapa lagi?” jawabku sambil nyengir

“Ih… mbak ini… ” kata Icha lagi

Icha belum selesai berbicara ketika kami dipanggil masuk ruang periksa dokter. Icha seorang anak yang baru saja “kutemukan”, kami berteman, berbicara, bercerita tentang apa saja selama hampir satu bulan ini. Berasal dari keluarga “kurang mampu” namun sangat bergairah, bersemangat dan berjuang sehingga bisa kuliah. Dia mengeluh sakit, dan belum membaik beberapa hari ini, jadi aku menjemputnya di kost dan mengantarnya ke dokter

“Sudah! Tidak ada apapun yang perlu dikhawatirkan… kamu hanya butuh istirahat… ” kata dokter Juron kepada Icha mengakhiri nasehat dan prosedur pemeriksaannya.

“Emmmm dokter… boleh saya bilang sesuatu… ” kataku tiba-tiba saat Icha sudah hampir melangkah keluar dari ruang periksa

“Ya…” jawab dokter dengan tersenyum

“Saya mengucapkan terima kasih untuk seluruh bantuan yang dokter berikan pada seorang sahabat saya… ” jawabku

“Siapa?”

“Ayu… yang sakit Lipoma…” jawabku

“O… yang mana?” tanya dokter Juron bingung

“Yang gendut… besar badannya… cewek… ” jawabku sambil menyebutkan ciri-ciri Ayu

“O itu! Ya.. ya .. gimana dia? Udah baikan? Dimana sekarang?”

“Udah baik dok…tapi dia dah disana…  besok sabtu 40 harinya …” jawabku dengan telunjuk mengarah ke atas

“Oh! bukan lipoma to’… Limfoma… ya  ya.. ganas… saya ingat… ” jawabnya

“Iya… dokter yang memberikan banyak bantuan padanya… dan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya… karena tangan dokter terulur pada keluarganya di tengah kesesakan, kebingungan dan dukacita yang besar… ”

“Ya… memang harus begitu kan hidup ini? Apapun yang terjadi dalam hidup ini.. pasti akan ada tangan yang terulur bagi kita.. mungkin bisa jadi itu tangan Tuhan yang tak terlihat… “jawab Dokter Juron lagi sambil tersenyum

Untuk kesekian kali aku mendengar kalimat “tangan Tuhan yang tak terlihat” atau “malaikat tanpa sayap”… yah .. di perjalanan hidup, saat berat, saat kesesakan datang, DIA pasti selalu datang menyentuh, menolong, bahkan seringkali tanpa kata-kata.

Mungkin aku saja yang selalu tak menyadari kehadiranNya… dan ketika tanganNya telah berulang kali terulur padaku, apakah akan kutahan tanganku untukNYA bagi orang-orang yang diinginkan dan sangat dirindukanNYA??

Ie’

28 Maret ’13

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s