Curhat Lajang Kristen 1

night sky

“Tuhanlah yang akan jadi pembela dan pelindung kita… percayalah… ”

“Ha ha ha ha…. akhirnya kita bisa kumpul-kumpul lagi…. ” kata Mbak Nita sambil tertawa lebar dan menghempaskan pantatnya di sofa

“Iya nih… lama kita ga ketemu… aku kangen berat obrolan kita …” sambung Mbak Dewi

Aku hanya tersenyum melihat mereka, kulemparkan pandanganku pada buku menu yang diletakkan di depanku

“Aku mau salad… mau sop … mau yang paket keju… ” celetuk Mbak Dewi

“Haduh, pelampiasan ya… ha ha ha ha… gara-gara ga ikut acara makan di hotel Gumaya terus begitu rakusnya… ” kata mbak Nita

“Iyalahhhhhh! Kau tahu kan’ kalau aku lagi galau  begini pasti pelariannya ke makanan… ! Eh Ki’ gimana kabarmu…?” tanya mbak Dewi mengalihkan pembicaraan

“O… aku .. ya beginilah… baik-baik aja…” jawabku ringan

“Gimana? Udah ada ‘rasa’ pada seseorang belum?” tanya mbak Dewi lagi

“Aduh! Ngapain lagi itu yang ditanya pertama.. bikin sumuk tahuuuu…” jawabku

“Ha ha ha ha ha ha…. santeeeee… ini cuma kita bertiga kok.. nggak lagi di forum pertemuan… ” sambung mbak Nita

“He he he… tahu aja nih… kalo aku sering merasa sumuk kalo hal ini disinggung – singgung di pertemuan…” jawabku

“Banyak orang bilang lajang itu masa yang paling menyenangkan… tapi kok kita juga sering ditertawakan dan juga … ehmmmmm…. sepertinya disudutkan ya… kamu merasa gitu nggak?”

“Sebenarnya iya… tapi ya mau bagaimana lagi” jawabku pelan

“Mereka sering mengatakan kalau kita itu harus terfokus pada Firman Tuhan, dan bukannya hanya pada mikirin siapa yang akan kita menikahi kita… hmmmphhh… padahal kita itu tidak selalu memikirkan hal itu…” kata mbak Nita

“Padahal tidak seperti itu! Ya … tentu saja tidak selalu seperti itu! Bukannya membela diri, tetapi bagiku ada banyak hal yang harus dipikirkan… pekerjaan, keluarga, keuangan… perusahaan…  hmmmppphhh… itu semua sangat menyita perhatianku… tenagaku… belum lagi urusan anak-anak sel group yang harus dibimbing, diarahkan dan sebagainya…” jawabku

“Ya… tapi siapa yang akan membela kita?” kata mbak Dewi

“Tuhanlah pembela kita… itu saja sih yang bisa kupegang selalu di sini… di dalam hatiku…” jawabku

“Ya… dan… kemarin … sebenarnya ada perkataan yang menyakitkan tertuju padaku ketika aku membicarakan tentang impianku tentang usaha perkebunanku… kepada seseorang… ” kata Mbak Nita dengan wajah tertunduk

“Ayo dongg cerita…” jawabku

Pembicaraan kami terputus beberapa detik karena pesanan pizza kami mulai berdatangan.

Aku, mbak Dewi dan mbak Nita adalah 3 lajang sukses, begitu orang biasa menyebut kami.  Mbak Dewi seorang pengusaha salon, dan Mbak Nita seorang bidan di sebuah rumah sakit terkenal, sedangkan aku aku hanya seorang pekerja biasa di sebuah perusahaan kecil, jadi sebenarnya sebutan 3 lajang sukses itu menurutku kurang tepat.

Usia Mbak Dewi dan Mbak NIta beberapa tahun diatasku, sedangkan aku… masih 36 tahun.. dan menurut anggapan orang-orang sudah waktunya untuk memikirkan  sebuah “PERNIKAHAN” dengan serius.

“Ketika aku memikirkan akan menginvestasikan uangku untuk tanam pohon jati, cabe di ndeso sana… seorang mengatakan padaku kalau pikiranku itu sama dengan pikiran orang dunia karena “duit” melulu… dan kalau aku seperti itu berarti aku tidak memberikan otoritasku pada laki-laki.. dan karena itu aku lama menikah dan susah bertemu pasangan hidup…” lanjut mbak Nita

“Apa?! Apa maksudnya itu?? Lalu kamu menjawab apa??” jawabku sambil melotot

“Aku tidak tahu Ki’… aku cuma diam saja…”

“What’s the *&*^&^^&$!!!” gumamku

“Nah… memaki…” celetuk mbak Dewi

“Ha ha ha ha… apa dasar Firmannya dari pernyataan itu coba???” jawabku

“Aku juga mendapat perlakuan yang sama kok… waktu aku mempertanyakan kelakuan seseorang perempuan, akupun menerima jawaban yang sama yaitu tidak memberikan otoritasku pada laki-laki.. dan karena itulah aku lama menikah dan susah bertemu pasangan hidup…” kali ini Mbak Dewi yang bercerita

“Benarkah? Mereka katakan itu pada kalian?” tanyaku sambil menggeleng-gelengkan kepala

“Ya Ki… itu benar… tahukah kamu rasanya? Hati ini … ” Mbak Nita tidak bisa melanjutkan perkataannya, matanya terlihat berkaca-kaca

“Astaga… ” aku hanya mampu terdiam

“Kalau mau menerima lamaran pria “luar” … mungkin udah dari dulu aku melakukannya… tapi apa hidup ini cuma sekedar itu… ” keluh Mbak Nita

“Ya seandainya saja… hidup kita semudah wanita-wanita lain… tidak perlu takut akan Tuhan, mempercayai bahwa tujuan hidup bukan melulu sex dan pernikahan…” kali ini mbak Dewi

“Tuhanlah yang akan jadi pembela dan pelindung kita… percayalah… ” kataku sambil memegang tangan kedua sahabatku

“Iya… tapi… itu menyakitkan.. apalagi yang mengatakan itu adalah saudara-saudara kita yang juga memahami Firman Tuhan…” kata mbak Nita

“Tuhan sangat mengasihi kita… tanpa terkecuali… mau kita lajang atau tidak … ” hanya itu jawabanku sambil berusaha menelan potongan pizza

Entahlah… Semua akan berlalu, semua pasti bisa dilewati… dan datang tepat waktu,  hanya itu yang aku tahu saat ini.

Ie’

16 April ’13

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s