Bapak

Pencil Sketch. Delicate touch.

Aku hanya mampu menghela nafas panjang setiap kali mengingatnya.

Mungkin Tuhan sedang rindu padaku, dan ingin mentraktirku makan siang waktu itu.

***

I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to say but good-bye
You deserve the chance at the kind of love
I’m not sure I’m worthy of
Losing you is painful to me

(Chorus) You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can’t live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There’s nothing left to try
Though it’s gonna hurt us both
There’s no other way than to say good-bye

Potongan lagu jadul Air Suply berjudul Goodbye mengalun pelan di restoran Nglaras Roso siang itu, aku sudah lama sekali tidak mendengarnya mungkin belasan tahun lalu.

Seorang pria menatapku dan bertanya, “Nanda suka lagu itu?”

“Ya… bertahun – tahun lalu aku sangat menyukainya… entah mengapa… aku sudah lupa” jawabku

Beberapa saat kemudian dia beranjak dari kursi menuju podium tempat solo keyboard berada, memesan iringan lagu dan mulai menyanyi, aku meliriknya sebentar dan melanjutkan makanku.

Siang yang sangat aneh. Aku masih tidak mengerti alasan tepat pria itu mengajakku makan siang di restoran mewah ini.

“Saya mau mengajak Nanda makan siang jajan pasar di tempat sopir taxi biasa makan…” demikian katanya waktu menjemputku di kantor tadi

Ya, dan entah mengapa aku meng “iya” kan ajakan itu begitu saja. Padahal aku bukan orang yang mudah percaya dengan orang lain.

Siapa sebenarnya orang ini? Apa maksudnya? Mengapa? Beberapa pertanyaan  berputar di benakku

Aku melemparkan pandanganku ke seluruh ruangan restoran. Deretan makanan tersaji rapi di ujung ruangan. Aku sudah mencicipi beberapa diantaranya, ini jelas bukan makanan murah. Pelayan cantik dengan seragam indah yang bersiap di tempatnya, iringan solo keyboard dan penyanyi.

Lunch dengan gaya prasmanan mewah seperti ini jelas bukan gayaku, dan beberapa temanku.

“Aku sama sekali belum pernah kesini….” itu komentarku dengan mata berbinar-binar saat memasuki ruangan

“Yang bener?” tanya pria itu dengan mata jenaka

“Ya… ! Mana bisa saya membayar makanan di sini?” jawabku singkat

Pria itu masih asyik bernyanyi dan ingatanku terlempar ke beberapa waktu sebelum hari ini

***

Siang yang terik, aku dan ibu begitu cemas menunggu kedatangan taxi yang harus membawa kami ke bandara secepatnya.

Hingga taxi datang menjemput dan membawa kami. Tidak ada percakapan berarti, kami duduk dalam diam dan berusaha menyibukkan diri dengan pikiran masing-masing.

Tepat di gapura Bandara sopir taxi itu tiba-tiba berbicara, “Ibu dan Nanda, saya mohon maaf jika pelayanan saya kurang berkenan di hati. Saya hanya mampu mengucapkan doa… kiranya Tuhan senantiasa mencurahkan berkat kepada Ibu dan Nanda sehingga perjalanan yang akan ditempuh selamat, dan sanggup menyelesaikan semua urusan dengan baik… dst ”

Ada yang menyentak, dan mataku sontak berkaca-kaca. Kulemparkan pandangan ke luar…

“Terima kasih Bapak…” hanya itu yang kuucapkan sambil menurunkan barang-barang dari bagasi taxi

Sesederhana itu, ya… sesederhana itu

Tidak ada lagi apa-apa sesudahnya, dan aku sedang tidak ingin bercerita mengapa dan bagaimana perasaanku waktu itu

Tidak

***

Tok tok tok… Tok tok tok… suara pintu depan diketok, dengan kepala pusing dan badan terasa melayang aku membukakan pintu.

Hari itu aku tidak masuk kerja, masuk angin kelas berat, ditambah lagi shock karena salah satu orangku mengakhiri hidupnya dengan jalan gantung diri.

“Lihat siapa ini…” seru ibu begitu melihatku

Aku memandang kepada seorang pria di sebelahnya.

“Siapa?” tanyaku

“Bapak taxi yang membuat kamu terharu… ” jawab Ibu

Pria itu menatapku, mungkin heran dengan tampilanku yang semrawut. 

“Saya sedang masuk angin pak… tidak enak badan… mungkin baru flu”

Penjelasan yang bodoh dan sepertinya tidak perlu, karena melihat sepintas pun semua orang sudah tahu.

Tidak ada pembicaraan yang serius siang itu

Hanya sekedar mampir, silaturahmi, dan sudah.

Begitu saja

***

“Apa sebenarnya maksud Bapak ini? Bukan untuk sesuatu kan? Terima kasih untuk semua ini pak…” kataku padanya saat dia selesai menyanyi

“Nanda jangan salah paham, Bapak tidak mempunyai maksud apapun bagi Nanda maupun Ibu. Bapak mempunyai keluarga… dan mereka senang sekali saat Bapak mengutarakan maksud Bapak untuk menjamu makan Nanda dan Ibu siang ini…” jawab Pria itu sambil tersenyum

Sepertinya pria ini tahu maksudku.

“Nanda… ini Bapak Nanda… sejak saat ini, jika Nanda membutuhkan sesuatu atau apapun… jangan segan-segan menghubungi Bapak …” kata Pria itu lagi sambil menepuk dadanya

Aku masih menatapnya tak percaya

“Nanda… Bapak tahu ini bukan hal yang mudah bagi Nanda… tapi entah mengapa… Bapak begitu tertarik pada Nanda… entah berapa banyak pengorbanan yang sudah Nanda berikan pada keluarga Nanda selama ini… semua terbaca dari mata Nanda… dan kali ini Bapak ingin sedikit menghibur Nanda dengan menjamu makan siang di tempat ini…” katanya lagi

“Saya….”

“Nanda sangat mengasihi keluarga Nanda… dan itu sangat luar biasa… Nanda ini Bapak Nanda… Bapak hanya bisa mendoakan Nanda semoga Nanda bisa segera bertemu jodoh yang tepat, sesuai dan sangat mengasihi Nanda…”

“Terima kasih… terima kasih… dan terima kasih…” jawabku

Tidak ada pelukan, tidak ada sentuhan, tidak ada apapun yang mengakhiri pertemuan kami siang itu. Pria itu tetap asing bagiku sampai saat ini. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai “siapa sesungguhnya dia”

Aku hanya mampu menghela nafas panjang setiap kali mengingatnya.

Mungkin Tuhan sedang rindu padaku, dan ingin mentraktirku makan siang waktu itu.

***

Ie’
23 April ’13

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s