Untuk sejuta ucapan cinta yang belum sempat terucap…

holding your heart


Seorang sahabat, mungkin aku bisa menyebutnya begitu. Adik bungsu BOSS besar, tapi bertahun-tahun sangat bersahabat denganku. Seorang yang sangat aktif dan tulus melayani di event rohani Kristen di Semarang. Seorang yang tidak pernah ragu menarik kabel, mengangkat kardus, repot teriak sana sini, atur ini itu.

Aku senang bersahabat dengannya, karena dia sangat terbuka dan rendah hati. Kami sering mentertawakan ulah para pendeta yang kadang aneh setengah mati, dan seringkali minta pelayanan muluk-muluk.

2 minggu lalu, aku masih menagih janji traktirannya. Ya, dia memang senang pergi makan siang denganku, padahal aku bukan orang yang menyenangkan baginya untuk diajak bicara. Aku masih mengingat pembicaraan kami yang terakhir…

“Aku sebenarnya pengen pindah gereja ke tempatmu aja… tapi apa kata keluarga besarku?” katanya

“Ga usah pindah gereja… apa sih yang dicari di gereja? Percuma ngejar kesana kemari… gereja bukan jaminan seseorang bisa menjadi pengikut Kristus sejati di dalamnya, …” hanya itu jawabanku

“Kamu itu… kenapa tidak mencoba menarikku masuk gerejamu? Kalau hal ini ku utarakan kepada orang lain… pasti mereka sibuk menawarkan banyak progam yang menyenangkan untukku…”

“Hallah!… percuma… ngapain aku menawarkan ini itu… toh… aku ini bukan Juru Selamat… iya kan?”

Dia sering bercerita tentang anak-anak terkasihnya yang sekarang menjadi “ajaib” setelah dewasa, dia sering mengeluh “Aku ingin mengatakan pada mereka… bahwa aku memang bukan ayah yang baik, tapi aku sangat mengasihi mereka…”

Hujan masih mengguyur Semarang, saat aku tiba di ICU RS. ELIZABETH..

Aku melihat keluarga besar Wijaya duduk di ruang tunggu… kesedihan terpancar di wajah mereka.

“Hai…” sapaku pada salah satu dari mereka

“Semalam sempat gagal jantung, hari ini gagal ginjal… hidupnya hanya tinggal bergantung pada alat dan kemurahan Tuhan…” jelasnya tanpa diminta

Aku memperhatikan selang-selang yang terpasang di tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah katapun

Seseorang menepuk punggungku, “Doakan Bapak ya… seperti kamu mendoakan suamiku… dan oleh anugerahNYA dia diberi kesempatan hidup sekali lagi…”

Aku menatapnya dan berkata, “Ya tentu saja… tapi aku bukan Tuhan…”

Semoga… Tuhan memberikanmu kesempatan lagi untuk memberikan sejuta ucapan cinta bagi anak-anakmu yang saat ini memandang dengan mata sembab…

#untuk sahabatku Bapak Candra Wijaya

4 Juni’13

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s