Secuil Kenangan

piece

Hidup di kota yang sama selama bertahun-tahun sebenarnya bukan hal yang menyenangkan, itu menurutku. Jutaan cerita, milyaran kenangan bertumpuk jadi satu, dan bisa muncul kapan saja tanpa diminta ketika kita melalui jalan, gang atau sekedar lewat. Tapi itulah hidup, harus terus berlanjut dengan berjuta kenangan yang menyertainya. Kurasa begitu.

Siang ini, waktu aku dan beberapa karyawan melewati sebuah jalan, tanpa sadar sopir berbelok ke suatu gang untuk menghindari macet.

“Wah… ini kostnya Billy…” celetuk Riana sekretarisku

“Cieeeee… yang punya kenangan di sini…” timpal beberapa karyawan lagi

Aku tak tahu yang mereka bicarakan, mungkin itu nama salah satu teman. Aku tak mengenalnya.

“Ah iya… aku pernah kerja di daerah sini…” timpalku

“Mbak pernah kerja di sini? Di perusahaan apa?” tanya Kadir Room Boyku

“Bukan di perusahaan, tapi di sebuah rumah…” jawabku

“Oh… rumah apa mbak, usaha perorangan? Mbak bagian apa..?” tanya Kadir lagi

“Rumah tangga.. jadi pembantu… ha ha ha ha… suatu cerita di perjalanan hidup… bahwa aku pernah menjadi seperti salah satu dari kalian…” jawabku

“O…” kata Kadir

Sunyi. Mereka tak akan berani bertanya lebih lanjut.

Aku tak berani mengingatnya lebih lanjut, tidak untuk saat ini. Biarlah kenangan itu hanya aku yang memilikinya.

Selesai.

Ie

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s