Merawat Kenangan – 1

Memories

buat apa merawat kenangan?

Malam telah datang, tetapi aku masih duduk di ruang tamu rumah Dani. Tidak ada yang istimewa di rumah ini. Terletak di pinggir atau mungkin tepatnya di sudut kali. Bau sungai menembus hidungku, dan jerit jangkrik seperti sebuah konser musik rock n roll.

“Waktu aku ke Malaysia kemarin berarti kamu main sama siapa?” tanya Dani

“Ya nggak ada…. paling sesekali pergi sama anak ababil itu… ketawa ketiwi… dan sudah” jawabku sambil mengupas kacang

“Kamu ga suka jalan dengan mbak Siska?” tanya Dani lagi

“Yah… kadang-kadang… kami makan bersama gulai kepala ikan, pizza atau apa ajalah… tapi tidak terlalu sering”

“Kenapa?”

“Kamu itu kok mau tahu banget sih Dan? Aku tidak begitu suka jalan dengan mbak Siska karena dia yang lebih sering menguasai pembicaraan” jawabku sambil menegukย sereal buatan Dani. Aku tahu setelah ini pasti perutku akan berulah… tapi itu urusan nanti

“Yahhhh… itu karena kamu terlalu pendiam dan tertutup! Aku juga cerewet, tapi kenapa kamu suka jalan denganku?” cecar Dani

“Cerewetmu itu menyebalkan, tapi cerewetnya mbak Siska itu memuakkan!” aku melempar kacang ke mulutku. Tingkah yang tidak sopan sebenarnya, tetapi terkadang aku melakukannya juga

“Heeeee?” kata Dani dengan mata melotot

“Aku muak dengan cerita masa lalu dan kenangan!! Mbak Siska selalu bercerita tentang masa lalu dan kenangan, lalu ibuku di rumah juga begitu! He! Aku muak dengan semua itu! Emangnya enak mendengarkan orang bercerita tentang masa lalu dan kenangan terus menerus??? Sedangkan denganmu aku bisa menggila, tertawa, membicarakan hal yang tidak penting,… ha ha ha… anggaplah bergaul denganmu itu sebagai pelarian…” jawabku sambil menghabiskan sereal

“Sudah.. sudah Ki…. jangan sewot! Ha ha ha… kamu sih… orang dengan kenangan yang ga jelas… makanya banyak orang suka berbicara tentang kenangan denganmu”

“Kenanganku sudah banyak yang kabur. Sakit parah tahun 2007 itu menghancurkan susunan ingatanku seperti letusan gunung Merapi yang meluluhlantakkan dusun di bawahnya, butuh waktu untuk menemukan garis tepatnya… ketika itu ditemukan dan berusaha dibangun kembali, tidak ada lagi yang 100% tepat” ย jawabku

“Tetapi penghancuran kenangan itu ada gunanya juga kan? Karena kamu tidak perlu lagi mengingat banyak hal yang tidak penting ย dan ย tidak berguna” kata Dani sambil menepuk punggungku

“Ha ha ha ha … iya…! Ah udah jam sembilan… aku pulang dulu ya…”

“Yo! Ati-ati di jalan ya…” pesannya

“Hmmmmm…” gumamku sambil menjalankan motor

Jalanan telah sepi, seperti kenangan di benakku yang berupa potongan-potongan gambar berceceran tanpa kata-kata.

(bersambung)

danbo 1

#Merawat Kenangan – 1

Ie

Iklan

8 thoughts on “Merawat Kenangan – 1

    • FTV? aduuuuuhhhh aku ga pernah nonton sama sekali… jadi ga tahu cerita2 FTV…
      sebenarnya sih ini mengambil beberapa sisi ceritaku…
      aku ini susah mengarang fiksi… (ups jujur)
      paraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh :p

      • nah itu mengarang fiksi, merawat kenangan. itu menurut saya uda flash fiction sih. ๐Ÿ™‚
        secara tidak sadar kadang kita tidak mengerti apa yg sudah kita tuliskan.

      • Owhhhh gitu yaaaa…. okelah! tahu sekarang… hi hi hi… belajar hal baru nih hari ini..
        sebenarnya, dan jujur pake banget…
        aku ga tahu banyak hal soal menulis…
        aku cuma menulis semua hal untuk penyembuhan…
        belajar darimu boleh ya…
        ๐Ÿ˜€

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s