Angkat Telponnya!

telephone

Tut… tut…

Tut … tut…

Ini sudah ke lima kalinya aku menekan nomer yang sama, dan tidak diangkatnya. Sial! Aku sudah mencoba dengan nomerku yang lainpun tetap tidak diangkat. Anak ini benar-benar menggodaku, atau mungkin menghindariku.

Tut… tut…

Tut … tut…

Nada panggil terdengar lagi, dan tetap tidak diangkat.

Ayolah… keluhku dalam hati.

Aku mau bicara…

Tunggu… apa sebenarnya yang ingin kubicarakan dengannya? Benarkah aku ingin berbicara sesuatu dengannya? Ataukah aku hanya ingin mendengar suaranya?

“Aku sedang meeting… aku sedang nyetir… aku sedang sibuk… aku sedang… ” selalu itu yang dikatakannya lewat pesan singkat, dan bukan jawaban telpon.

Anak ini benar-benar seperti Houdini… sangat ahli meloloskan diri, dia begitu  mudah lenyap, menghilang tanpa pesan,.. gumamku

Tunggu… tetapi untuk apa lagi mencarinya…

“Jangan mencariku lagi, ini terakhir kali aku berbicara” katanya beberapa waktu lalu

Dia tidak pernah tahu rasa rindu yang kupendam bertahun-tahun, tidak pernah tahu bagaimana rasanya mencari sampai ke ujung bumi, tidak pernah tahu bagaimana rasanya menyerah dan memilih menyerahkan hatiku pada orang lain.

“Aku tidak ingat apapun, maaf” hanya itu yang dikatakannya

Enak sekali dia berbicara seperti itu, padahal… hanya namanya yang mengisi kedalaman hatiku bertahun-tahun.

Kini dia menghilang begitu saja setelah kutemukan.

Hampir saja aku mengumpatnya.

Aku mengamati halaman facebooknya, dia merubah foto beberapa menit lalu, pertanda dia hadir, tersambung oleh peradaban,  dia pasti sengaja tidak menjawab telponnya.

Tut… tut…

Tut … tut…

“Siapapun istrimu dan keluargamu sekarang mereka mencintaimu, dan kita hanya sebuah kisah roman picisan cinta monyet anak SMA yang hanya bisa diingat olehmu, bukan olehku.  Jadi pergilah… jangan hubungi aku lagi, karena aku menghormati istrimu sama seperti aku menghormati diriku sendiri” itu pesannya beberapa waktu lalu sebelum akhirnya dia tidak bisa dihubungi lagi

Mungkin benar yang dikatakannya, aku hanya terjebak pada emosi masa lalu. Aku seharusnya membiarkannya memiliki dunia sendiri. Dunia yang tidak akan terjangkau olehku bahkan meski dalam mimpi.

“Papa… papa… ceritain lagi tentang putri yang kemarin”

Aku menoleh ke arah suara itu, melambaikan tangan ke arahnya, dan memeluknya

Dia benar, aku harus kembali kepada mereka… istri dan anakku.

“Terima kasih tidak mengangkat teleponku… dan mencegahku berselingkuh” gumamku lirih

***

Sepuluh menit yang lalu…

Tut… tut…

Tut … tut…

Telepon itu berbunyi belasan kali, dan aku dengan sengaja tidak mengangkatnya. Aku berbisik seolah berbicara kepada benda itu, “Kembalilah kepada keluargamu… aku bukan milikmu dan masa lalu”

Ie

 

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s