Merawat Kenangan – 3

menua

foto: dokumen pribadi

ketika kenangan itu menua bersama usia kita…

***

Aku mengunggah beberapa koleksi foto perjalanan tugasku, aku menyukai jeda ini. Melihat beberapa foto perjalanan yang kuambil seolah melihat kedalam folder ingatanku, hanya terisi gambar, warna warni, bisu, dan hanya aku yang bisa menceritakannya.

Diantara banyak file kutemukan foto nenekku dan kakaknya yang kuambil sekitar 2 tahun lalu, sebelum kakak nenekku itu meninggal. Kami mengantar nenek mengunjungi kakaknya, mereka berdekapan, berbisik mesra. Adegan paling menarik saat mereka berbicara tentang masa lalu sampai terkekeh kekeh.

Sejujurnya aku iri dengan mereka, mereka masih mampu mengingat, berbicara, berbisik, mengingat waktu yang telah jauh berlalu.

Sedangkan aku? Aku lebih banyak memancing emosi teman-temanku karena aku jarang bisa mengingat mereka.

Seperti ketika seseorang teman mengunggah foto kami, setelah beberapa komentar lucu, munculah 1 komentar asing “Halooo… Ki… ini kamu  kan? Aku Endang… Hotel Santika… masih ingat? Melihat fotomu aku yakin kamu Ki… kita sudah 17 tahun tidak ketemu… kamu tidak berubah… bla bla bla… “

Astaga! Ini yang kubenci dari media sosial, seseorang demi seseorang bisa menemukan dan memaksaku untuk mengingatnya, atau lebih parahnya mengingat banyak hal yang (mungkin) telah kami lakukan bersama.

Aku menjawabnya dengan petikan salam dan emoticon senyum, mungkin dia memang salah satu teman masa laluku.

vintage album

foto : google

Apa yang bisa kuingat? Apa yang bisa kukenang? Apa yang yang bisa kuceritakan pada kekasih hatiku? Apakah dia akan mempercayaiku bahwa aku tak punya apapun yang bisa dikenang?

Aku hanya memiliki cerita masa kini, harapan dan sedikit kenangan…

“Kau tahu… sebenarnya itu anugerah buatmu… karena kamu tak akan bisa menyimpan dendam pada siapapun…”  kata ibuku

“Kau tahu Ki… aku memiliki banyak cerita dalam hidupku yang ingin kubagi denganmu…”  itu yang selalu dikatakan teman-teman padaku saat bercerita, dan aku dengan senang hati mendengar. Aku hanya belum pernah bercerita padanya… bahwa tak ada yang bisa kuceritakan tentang masa laluku padanya, karena tidak ada yang bisa dikenang.

Ketika sebuah kenangan itu nantinya menua bersama usiaku… aku rasa aku tak perlu mengingat terlalu jauh ke belakang, aku telah cukup bahagia dengan mengingat hadirMu di masa sekarang dan nanti di hidupku… bisikku pelan

Sayangnya aku melupakan sesuatu tentang kenangan yang menua itu, sesuatu yang bisa melemparkanku ke belokan yang tak kumengerti,  pelan namun pasti dia menghampiriku…

(bersambung)

Ie

Merawat Kenangan – 1, Buat apa merawat kenangan

Merawat Kenangan – 2, laut telah menghapus jejaknya

Merawat Kenangan – 3, ketika kenangan itu menua bersama usia kita…

old danbo

Iklan

2 thoughts on “Merawat Kenangan – 3

  1. “Apa yang bisa kuingat? Apa yang bisa kukenang? Apa yang yang bisa kuceritakan pada kekasih hatiku? Apakah dia akan mempercayaiku bahwa aku tak punya apapun yang bisa dikenang?

    Aku hanya memiliki cerita masa kini, harapan dan sedikit kenangan…”

    hampir sama dengan yang aku alami kok… kita seimbang deh 🙂

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s