Bab Yang Hilang – Antara Sate Dan Kuburan

dark

Setahun yang lalu. Sore itu bukan malam minggu biasa. Aku, tepatnya kami sekeluarga harus melakukan hal yang amat sangat penting demi kelangsungan masa depan seseorang, yaitu memutuskan pertunangan.

“Buset dah! Bangsat! Bajingan!” Umpatku berkali-kali

Adikku ganteng! Malahan sangat ganteng! Saking gantengnya, banyak perempuan terkentut-ketut menggaetnya. Sial! Setelah setahun bertunangan, tiba-tiba hal yang sangat diinginkannya terjadi… eh salah! Hal yang tidak diinginkan… menurut kami tentunya. Dia kembali tergoda dengan gadis lain, dan ingin menikahinya. Mimpi buruk pun menyambar ranjangku! Uh!

Menikahi gadis lain, berarti tentu saja meninggalkan tunangannya!! Hal itu harus dilaksanakan sebelum mereka melangsungkan pernikahan! Sialnya lagi… si ganteng ini berpikir bahwa “pemutusan pertunangan” semudah “putus pacar” yang cukup dilakukan olehnya di suatu tempat!

Aku mengajukan beberapa syarat yang harus dilakukan si Boy, begitu aku menyebut si ganteng ini.

“HE! Kamu itu harus memutus tunanganmu baik-baik di rumahnya, didampingi beberapa orang tua, dan melakukan beberapa hal. Memutus tunangan berarti menaruh aib pada seseorang gadis. Dan hal itu tidak bisa dilakukan secara sembrono” kataku

“Aku udah memutusnya baik-baik di bandara waktu aku mau berangkat ke Jakarta, dia mengerti, dan dia mau bilang ke orang tuanya. Apalagi yang kurang” kilah si Boy

“Heh! Tunanganmu itu perempuan! Camkan ini baik-baik! Memutus seorang perempuan yang sudah diajak untuk bertunangan itu tidak begitu caranya! Orang Jawa menyebutnya “meletakkan omongan”… dan harus ada tua-tua yang menemanimu” kataku lagi

“Ah aku tidak peduli! Pokoknya udah putus! Aku harus berangkat dinas lagi!” jawabnya enteng

Kumaki, kukeluarkan isi kebun binatang padanya pun tidak akan berguna! Si Boy yang manja ini sudah berubah menjadi pemuda, gagah, tampan, berpangkat, tapi kelakuannya …. huffffffttttt

Aku hanya bisa memandang ibu yang selalu berurai air mata dengan hati remuk.

***

Hari-hari berikutnya aku mencari seseorang yang bisa menemani aku menyelesaikan kasus “pemutusan tunangan” itu, tapi ternyata tidak mudah.

Seorang Engkong tua menasehatiku, “Pesanku hanya satu, jangan ajak ibumu saat memutus hubungan pertunangan itu, karena lukanya akan terbawa sampai mati, pergilah ke sana sendirian, ajak siapa saja… hanya untuk berjaga-jaga”

Di hari penentuan akhirnya kutemukan satu teman. Aku memanggilnya “Mangun”. Dia teman kuliah Si Boy, imut dan lumayan tampan.

“Ikut aku ya ngun… menyelesaikan masalah tunangan ini…” pintaku memelas

“Boy yang udah menciumi gadis itu, kok kamu yang mutus… mana bisa…?” jawab Mangun

“Yahhhhh… mau gimana lagi… mau udah diciumi atau diapain…  emang bukan aku sih pelakunya… tapi ini atas nama baik keluarga ngun…. aku sebagai anak sulung harus menghadapinya” jawabku

“Yo! Okelah dul” jawabnya ringan

Dia selalu memanggilku “dul”. Kurang ajar betul!

***

Tibalah sore itu!

Aku dan Mangun naik motor menuju rumah Aga, gadis tunangan si Boy!

“Pokoknya ngun… habis ini aku mau beli sate … aku mau makan enak… ” teriakku di atas motor

“Kamu itu… malah beli sateeeeeeeeeeee aja yang diucapkan dari tadi….” keluh Mangun

“Ah! Kubayangkan sateeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee…..” teriakku lagi

Aku gila! Ya! Aku berasa gila! Tepatnya itu yang kurasakan! Aku tidak bisa lagi mengatur debar jantung, keringat dingin, emosi, amarah! Aku tidak pernah menyakiti hati seorang perempuan… tidak tahan melihat mereka menangis terluka… tapi hari ini? Apa yang kulakukan ini? Menebus dosa yang tidak kulakukan?

“BANGSAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAATTTTT!” teriakku mendadak sambil ngebut diatas motor

“Apaan sih dul???”

“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha….” tawaku

“Haduh! Jangan-jangan kamu malah gilaaaaaaa…” teriak Mangun dari belakang

Rumah Aga tertutup dan terkunci rapat!

“Ini mereka pasti misa di gereja ngun… kita gimana ya….”

“Masak mau pulang? Sayang dong… udah jalan sejauh ini…” jawab Mangun bingung

“Kayaknya ada Goa Maria deket-deket sini Ngun… gimana kalau kita kesana? Ini masih jam 5… misa selesai jam 7. Kita nongkrong di Goa Maria  aja ya… siapa tahu bisa sambil berdoa….” kataku

“Ah kowe iki! Sok rohani betullll…”

“Kita ini mau perang ngun… nanti kalau kita dirajang-rajang sama bapaknya si Aga gimana…, dipotong kecil-kecil… ditambah kecap, cabe rawit dan bawang merah….” kataku

“Heh wong edan! Terus habis itu dibakar… kamu pasti mikirnya sate lagi….” Mangun meringis

Goa Maria pun akhirnya kami temukan. Nangkring diatas bukit, dan sunyi.

Ada dua orang ibu yang sedang berdoa waktu kami sampai di sana.

“Wah… bener Goa Maria nih ngun… udah sana kamu berdoa…” kataku

“Lha kamu?”

“Aku nongkrong di sini aja… pemandangannya bagus….”

“Kamu malah ga berdoa? Kamu ini beneran gila! Yang perang itu kamu… kok aku yang suruh berdoa?”

“Heh! Ini ceritanya tuh kayak di Alkitab itu lho… waktu sang raja berperang… nabi-nabinya berdoa…” kilahku

“Sial! Aku heran ibumu kok bisa punya anak kayak lu sih! Sinting…!”

“Udah ga usah ribut, sana berdoa gih!” kataku sambil mendorongnya

Mangun berdoa sekitar 15 menit, dan kami melanjutkan aktifitas dengan tiduran di atas bangku. Sepi, teduh, dan matahari perlahan menghilang.

“Tidur bentar enak kali ya ngun… ” usulku

“Ho’oh! Aku ngantuk!” jawab Mangun sambil memejamkan mata

Dan kami tertidur begitu saja. Perjalanan ini sungguh menyita energiku!

Aku terbangun saat merasakan suasana remang.

“Jam 7 kurang ngun! Bangun! Kita dimana ini..?”

“Di Goa Maria” jawab Mangun dengan suara parau

“O iya…. kok pohonnya serem ya ngun… kayak kuburan”

“Heh! Lu aja yang ngaco! Ini Goa Maria geblek! Bukan kuburan…”

“Tunggu ngun, aku lihat dulu di balik pagar itu… ini pasti kuburan ngun! Perasaanku mengatakan seperti itu!” kataku sambil meloncat

“Heiiiiiiiiiiiiiiiii tunggu dul! Asyem! Kowe itu edan bener!!”

Ngun benerrrrrrrrrrrrrrrrrrr… ini kuburan…. yooook kabur ngun…. wahhhhhhhh….” teriakku sambil berjalan cepat ke arah motor. Ada bayangan nisan berjajar di balik pagar

“HE! Tunggu aku wong edannnnnn! Sial! Ojo ditinggal toooooooo…” teriak Mangun

Aku naik motor dengan terkekeh-kekeh… kesialan yang kesekian.

***

Sesuai perkiraan, aku “dibantai” habis oleh keluarga Aga.

“Bapak Ibu…. saya atas nama seluruh keluarga besar memohon ampun atas kekurang ajaran, ketidak patutan, dan kesalahan adik saya… saya tahu, kata maaf tidak akan cukup … karena itulah saya mohon ampun…” kataku sambil meletakkan perhiasan yang telah mereka berikan saat pertunangan.

Kata itu berulang kali kuucapkan kepada keluarga besar Aga setiap kali mereka “menumpahkan” amarahnya padaku. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan! Perasaanku hancur lebur, remuk berkeping-keping.

Mangun kuperintahkan mencari taxi, sedangkan aku menghadapi “pembantaian” itu sendirian.

“Bawalah ini semua, tidak baik kalau tetap di sini, karena akan menyakiti hati Aga saat melihatnya” kata mereka sambil membawa semua barang “seserahan” yang pernah keluarga kami berikan

“Baik Bapak….” hanya itu jawabku sambil memasukkan semua barang ke dalam taxi

Aku berpamitan dengan membungkukan badan. Aku merasa sangat lelah!

“Kamu naik taxi aja ya… aku naik motor” perintahku kepada Mangun

“HEH orang gila! Kamu yang naik taxi… aku naik motor… mukamu itu tidak meyakinkan buat naik motor” kilah Mangun

“Udahlah ga apa-apa… aku baik-baik saja… dan lagian aku itu mau mampir beli sate… Ingat ga?” kataku sambil meringis

“Ya sudahlah! Hati-hati dul. Jangan pecicilan di jalan! Jangan ngebut! Jangan ketawa sendiri…” kata Mangun persis kayak kakek kakek

“Kamu kayak kakek aja nasehatinya… hi hi hi ..” jawabku enteng

Aku menepati perkataanku membeli sate. Tidak tanggung-tanggung 30 tusuk! Padahal di rumah hanya ada adik perempuanku, ibu, Mangun dan aku

“Stop! Tidak boleh ada yang bertanya apapun! Aku mau mandi dan langsung makan sate” kataku begitu masuk pintu rumah

Mereka menatapku bingung! Melihatku makan sate belasan tusuk seperti orang yang baru keluar penjara bertahun-tahun.

“Udah… kenyang! Sekarang aku mau tidur! Tidak ada cerita apa-apa! Semua urusan sudah selesai. Bye!” kataku sambil menutup pintu kamar

Aku tahu semua orang menatapku bingung

Aku merebahkan badan di kasur, air mataku berlinang di kegelapan.

***

Ie

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s