Bukan Cinta Satu Malam

not

Aku sedang mengeluarkan kue kering  yang telah matang dari oven ketika satu pesan masuk di telepon selulerku “Ini Devi, aku sedang di Semarang … bisa tolong bantu aku? Aku tidak tahu ini dimana…”

Aku mengernyitkan dahi! Tidak tahu dimana? Bantuan apa?

“Kamu ngapain? Acara apa? Bantuan apa?” tanyaku

“Aku bingung, tidak tahu harus kemana” jawab Devi di telepon

“Okelah aku ke sana. Tunggu! Jangan berpindah tempat ya…” kataku

Aku tidak mempedulikan waktu yang sudah mulai malam. Mengambil 2 helm untuk cadangan jika aku harus memboncengkannya.

Aku mengenal Devi dari sebuah Komunitas Blogger. Berkenalan, berteman, dan akhirnya mendapat kabar kalau dia berpacaran dengan salah satu sahabatku dari Komunitas Blogger yang sama. Suatu hari, mereka datang mampir ke hotelku dan merayakan “hari jadian”, aku memandangnya takjub! Pacaran diawali dunia maya memang bukan sesuatu yang aneh untuk jaman sekarang, pikirku. 

Aku memarkir motorku di jalan pahlawan yang masih rame dengan orang-orang hangout. Sejak pemerintah kota membangun pedestrian menjadi tempat aktivitas warga, jalan protokol ini mendadak jadi tempat yang sangat menyenangkan. Aku salah satu orang yang sering berkunjung di tempat ini untuk menghabiskan waktu sore hari.

Kepalaku menoleh ke kanan kiri, mencari sosok Devi tapi tak menemukannya. Aku memutuskan untuk menghubunginya langsung.

“Aku di depan gedung Bank Indonesia” jawabnya

Aku menemukan Devi masih sama seperti setahun sebelumnya ketika kami bertemu di hotel. Cantik, putih, dengan rambut panjang tergerai. Wanita yang benar-benar menawan. AKu bersumpah 9 dari 10 pria tidak akan keberatan menemaninya menghabiskan waktu sepanjang malam.

“Hai… kenalkan ini temanku” kata Devi seraya menunjuk seorang pria di sebelahnya

“Kancil” kata pria itu sambil mengulurkan tangannya

“Kancil?” ulangku

“Iya, Kancil….” jawabnya lagi sambil tersenyum

“Ha ha ha ha… okelah… ” kataku sambil tersenyum lebar

Devi bertanya tentang banyak hal padaku, hubungan maya-ku dengan teman-teman di komunitas blogger, kabar dan topik pembahasan terbaru, tidak ketinggalan gosip yang beredar, aku menanggapinya dengan tertawa hangat.

“Bagaimana hubunganmu dengan David?” tanya Devi

“Oh ya! Kami berteman, bersahabat baik, kadang kami bertemu untuk beberapa hal, tetapi kadang juga terpisah untuk waktu yang lama. Yah… begitulah… masing-masing kami kan sibuk dengan urusan sendiri-sendiri… dia dengan anak jalanan… sedangkan aku dengan hotelku” jawabku

“Bisa ya berteman seperti itu?” tanya Devi

“Maksudmu?”

“Yah… berteman… bersahabat… tanpa landasan apapun… atau kamu mungkin mencintainya?” selidik Devi

“Mencintai? Maksudmu kami berpacaran gitu? Ah tidak! Aku dan dia sahabat baik… yah sahabat! Kami biasa tertawa, makan, dan jalan bersama tanpa tendesi apapun… bahkan dia sering menjitak kepalaku kalau gemas dengan tingkahku… ha ha ha…” jawabku

“Ah masa seperti itu tanpa rasa cinta?” Devi kembali bertanya dengan pandangan menyelidik

“Iya! Lha mau gimana lagi kalau memang seperti itu? Aku berteman dengan banyak cowok dengan cara itu … aku menyayangi mereka… berjalan bersama mereka… persahabatan – persahabatan yang indah… tulus dan manis…”

“Gitu ya… ” jawab Devi menggantung

Devi melanjutkan pembicaraannya dengan Kancil, cowok itu. Pembicaraan yang semula biasa itu, tiba-tiba mulai menjurus ke sesuatu, aku pikir begitu. Panggilan “yang” mulai satu dua kali terdengar.

“Eh Dev, katanya itu temenmu, baru kenal sore ini…”

“Iya…” jawabnya

Tapi masak udah pake “yang”… masak tangannya udah mulai jalan… lanjutku dalam hati

Tiba-tiba Kancil melambaikan tangan memanggil dua orang pria.

Ups!

Dua cowok itu duduk, dan mulai memesan makanan, minuman, serta mengobrol.

“Dav! Lu dimana? Aku di depan BI dengan Devi! Tadi katanya minta tolong.. tapi feelingku ga enak… lu aja yang urus ya… lu kan kenal dia juga… aku mau pulang!” pesan kukirim kepada David

“Ya… entar gua urus dia.. gua juga di bbm dia tadi…” jawab David

Tidak sampai 15 menit aku permisi pulang, “Dev.. sori… sebenarnya tadi tujuannya apa ya kamu suruh aku ke sini? Apa bener kamu butuh bantuan? Sudah jam sebelas nih… aku mau pulang aja ya… aku capek banget… banyak kesibukan hari ini soalnya… atau kamu mau kubonceng dan kamu kutemani tidur di hotel?”

“Oh! Kukira kamu suka nongkrong sampai malam…” kata Devi

“Hemmmm iya sih… tapi dengan teman-temanku… bukan dengan teman-teman baru yang tidak kukenal…” jawabku sedikit nyolot

Aku tahu, jawabanku tidak menyenangkan. Tetapi aku sudah merasa tertipu, setidaknya sampai waktu itu.

“Ehmmmm… padahal aku masih pengen cerita-cerita banyak sama kamu, soal hubunganmu juga dengan Widi… ”

“He he he… aku bersahabat… kalaupun pernah dekat… ya dekat saja, tapi kalau memang hubungan kami tidak mengarah kemana-mana atau kepada hal yang lebih serius… ya kembali saja bersahabat… aku pulang ya… gimana? Kamu apa mau nginap di hotelku aja? Tidak apa-apa kok! Gratis! Atau aku perlu temani kamu tidur?” tawarku lagi

“Ah tidak! Ya sudah kalau kamu mau pulang… aku masih mau disini sama Mas Kancil dan teman-teman…” jawab Devi

“Okelah, aku pulang ya…” kataku sambil berjalan menuju motorku dan melambaikan tangan

Aku langsung menelpon David setelah sampai rumah dan memberikan perintah singkat, “Lu! Urus dia… Aku merasa aneh! Aku ngantuk! Mau tidur!”

***

“Eh ie, lu dimana?” tanya David melalui telepon saat aku sudah di kantorku paginya

“Di kantor, gimana semalam?”

“Buset! Hampir gila aku dibuatnya! Cewek gila! Katanya dia mau mau nginap di rumah pengentasan untuk merasakan bagaimana pedihnya menjadi anak terbuang. Aku sudah siapin tempat untuk dia. Aku sms dia, katanya di depan BI, aku samperi ke sana tidak ada. Lalu aku sms, dia bilang di Marina… aku cari tidak ada. Lalu aku sms lagi katanya di Lawang Sewu.. begitu terus sampai dengan jam 1 malam. Terakhir dia sms lagi, aku bilang sudah pulang… selesai. ”

“Eh… buset!” komentarku dan aku bercerita komplit kisah semalam

“Wong edan! Cewek cinta satu malam ini namanya” umpat David kesal

“Eh… ini dia sms lagi… katanya dia di stasiun Poncol… mau ketemu kita, kamu dan aku. Katanya mau minta maaf”

“Ah lu! Sana lu pergi kalo hati lu emang kayak mother theresa…” jawab David

“Ha ha ha ha ha ha… pahit yeeeeeee…. udahlah! Daripada kita marah-marah ga jelas… gimana kalau kita lampiaskan hari ini dengan makan mie goreng bareng?” tawarku

“Ya… jam 12 aku ke kantor!” jawab David semangat

***

Jam 12, aku dan David serta 2 mangkuk mie goreng. Kami mentertawakan kebodohan kami sendiri yang tertipu cewek gila yang mengaku sahabat.

“Eh… poto …! Kita poto berdua sambil makan yuk… ntar ku upload ke pesbuk” usul David

“Ah gila kamu! Nanti dia lihat di pesbuk kita… , kita ga datangi permintaan maafnya tapi malah ketawa-ketawa ga jelas di depan mie goreng”

“Ah… ga apa-apalah… untuk pelipur lara… kita kasih lihat bahwa kita nih contoh sahabat sejati! Sahabat dalam suka dan duka itu kayak kita… ga saling memanfaatkan…  ha ha ha ha…” kata David sambil ngakak ga jelas.

“Ya sudahlah!” jawabku singkat

Kami tertawa bersama… dan mulai menyantap mie goreng kami dengan rakus.

Bila cinta wanita dan pria dapat hadir dalam satu malam. Maka cinta dalam persahabatan membutuhkan ratusan hari dan ribuan jam untuk mengikatkannya, erat!

Ie

😀

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s