Warisan Cinta

love_prison-wide

Satu hari menjelang lebaran. Aku menghabiskan siang hari ini di kantor, memeriksa semua kebutuhan, persiapan, dan berbagai hal.

Beberapa orang karyawan libur, sedangkan yang lain memilih lembur. Aku membayar dengan harga tinggi kepada mereka yang mau lembur lebaran, impas buatku tepatnya bagi perusahaan.

Jalanan telah mulai lengang, beberapa warung tutup.  Suasana terasa berbeda dibandingkan hari-hari biasa, aku bisa melenggang bebas di jalanan tanpa perlu mengalami jeda kemacetan.

Ah, hari menjelang lebaran.

Hari yang sama, puluhan tahun lalu. Meskipun sedikit samar, namun bayangan peristiwanya masih jelas di benakku.

Takbir bergema, anak-anak dusun bersukacita, kembang api, kumandang ayat-ayat suci  mengalun merdu dari mushola dekat rumah, dapur riuh, bau harum masakan, kue kering di atas meja, sirup-sirup.

Aku rasa masih pemandangan, dan suasana yang sama.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan lirih dari luar pintu depan. Aku tidak yakin mendengarnya, hingga suara itu semakin lama semakin jelas.

Seseorang menangis.

Aku melapor kepada nenekku, “Ada suara orang menangis”

“Dimana?” tanya nenek

“Di luar pintu depan?”

“Masak sih? Bukannya Budhe En, Budhe Lin, sedang pergi?”

“Ayolah nek… dengarkan…” aku mengajak nenek ke ruang depan dan mendengarkan dari balik pintu

Tangis itu masih terdengar…

Nenek membuka pintu, dan…

Aku tidak akan bisa melupakan pemandangan waktu itu. Seorang wanita dengan tiga anak kecil, duduk bersimpuh di teras rumah kami. Bau pesing langsung tercium jelas.

Aku terpaku

Nenek mendekati mereka, entah bicara apa, aku tidak tahu.

Peristiwa berikutnya yang terjadi sungguh mencengangkan. Nenek membawa mereka ke sumur di sebelah rumah, menyuruh mereka mandi, mengambil beberapa rok dan bajuku.

Aku masih tidak mengerti

Setelah mereka mandi, mengganti baju dengan milikku dan makan.

Aku duduk di dekat mereka. Diam, tanpa kata-kata.

“Sini…” panggil nenek

“Mereka dari Sumatra, berkelana, mencari ayah mereka, tetapi tidak ketemu. Biarkan mereka di sini untuk malam ini ya… ?” penjelasan nenek padaku

Aku mengangguk. Aku tidak begitu mengerti artinya

Wanita itu dengan 3 anak mereka. Satu anak laki-laki terlihat lebih besar daripada aku, satu anak perempuan terlihat sebaya, satu lagi anak perempuan kecil. Wajah mereka terlihat kusut, hitam.

Malam takbir itu, satu hari menjelang lebaran, ada tamu tak dikenal tidur di lantai rumah kami.

Aku belajar berbagi cinta untuk orang tak kukenal.

Apakah mereka yang disebut orang sebagai “malaikat tanpa sayap” yang kadangkala menguji cinta anak-anak manusia?

Aku tidak tahu

***

Bertahun lewat setelah waktu itu.

Suatu hari di saat yang sama. Takbir bergema. Satu hari menjelang Lebaran. Aku berjalan bergegas di suatu lorong rumah sakit.

Seorang nenek kerabat dekat sakit dan sendirian. Anak-anaknya entah kemana.

“Kamu pergi ke rumah sakit, temani nenek itu sampai ada anaknya yang datang, ajaklah dia tertawa, atau kau bacakan buku, dia pasti senang sekali” perintah ibu

Aku menurut.

Aku sebenarnya tidak menyukai rumah sakit, apalagi di malam takbir. Ngomong-ngomong siapa juga yang suka datang ke rumah sakit di malam takbir?

Nenek  itu tersenyum saat melihat wajahku muncul dari balik pintu. Wajahnya terlihat cerah.

Aku menghabiskan sore dan malamku dengan membacakan buku cerita, dan melihatnya tertawa terkekeh.

Matanya berkaca-kaca saat aku mengelus kepala, berdoa baginya dengan ucapan sederhana yang kadang tidak dipahami orang lain.

Sore itu, malam takbir, aku belajar berbagi cinta dengan cara yang berbeda.

Waktu berlalu.

Suatu hari aku menerima kiriman set peralatan makan indah, keramik, kupikir itu pasti mahal. Ada satu surat dengan tulisan khas orang tua jaman dulu di dalam, “untuk cucu tercantikku, terima kasih buat kelembutan hatimu”

Aku tidak mengerti. Aku hanya melakukannya, itu saja.

***

Entah berapa ribu hari sejak peristiwa demi peristiwa serupa terjadi.

Hingga kutemukan kisah ini dari blog tetangga sebelah TUHAN TIDAK MAHAKUASA

Aku terhenyak! Kisah demi kisah berputar kembali di ingatanku yang tercerai berai.

Seorang wanita, sekarat, sendirian, di suatu tempat yang tidak dikenal. Seseorang membacakan buku di sampingnya, mengelus lembut tangan dan kaki, mengusap lembut air matanya.

Tidak tidak… ini bukan sebuah cerita roman cinta yang terputus. Ada kasih tulus yang mengalir dari pria yang menatap wanita itu sebagai gambaran kakak perempuan tercintanya.

Ketulusan yang menyembuhkan.

Perempuan itu berdiri tegak, sehat, dan melanjutkan lagi hidupnya.

Aku.

***

Jika ada warisan harta yang berdiri elok dengan kemegahan…

Aku rasa warisan yang kuterima telah menopangku melewati badai dan gelap malam

Warisan yang membuatku mampu berbagi cinta …

Warisan yang membuatku mampu mencinta

Warisan bernama cinta…

Dari yang empunya kekekalan cinta

Ie

Iklan

3 thoughts on “Warisan Cinta

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s