Tak Kupenuhi Janjiku

The-Promise_bg_site2

gambar : brucespringsteen.net

“Aku sudah memesan buku untuk abang, akan dikirim langsung dari penerbitnya, mungkin seminggu lagi sampai” isi pesan pendekku

Aku menghela nafas panjang. Abang Asi tak akan menyadari kalau buku itu sebagai pengganti dari janji kedatanganku yang tak akan terpenuhi. Tidak untuk waktu dekat ini.

Abang Asi, demikian aku memanggilnya. Dia kukenal saat aku pergi ke Padang untuk pernikahan adikku. Pertama kali  bertemu saat dia menjemput aku dan Ibu di Bandara Internasional Minangkabau Padang. Postur tubuhnya yang tegap, rahangnya yang kokoh, kulit coklat, dan mata yang lembut. Seperti biasa aku tak mempedulikan para pria yang sering bergaya  ‘sok cool’, tetapi obrolan di sepanjang jalan sepintas memperlihatkan keramahan.

“Kenapa hanya makan rendang saja?” tegurnya waktu kami berhenti di suatu rumah makan

“Ehmm… tidak apa-apa… saya hanya menyukai rendang…” jawabku

“Oh….” hanya itu jawaban singkat yang kuterima

Aku menengadahkan wajah, dan mata kami bertemu. Ada sesuatu di mata coklat itu, seperti sebuah jalan panjang yang tak kupahami.

Dia tersenyum.

Menyadari aku telah memperhatikan mata seorang pria yang baru kukenal, seketika aku alihkan pandanganku ke isi restoran. Musik Minang mengalun, orang-orang berbicara dengan bahasa daerah yang sama sekali tidak kukenal.

Pertemuan pertama kami hanya sesingkat itu, tidak ada cerita selanjutnya, namanya pun hanya sekedar lalu di ingatanku.

***

Rencana pernikahan dengan budaya yang berbeda ini sungguh asing bagi keluargaku yang Jawa asli. Tetapi ‘toh kami mengikut saja kemauan keras si Boy adikku yang sudah jatuh cinta dengan gadis dari suku Batak ini. Yah,… akupun merelakan diri dilangkahi, karena memang aku belum menjatuhkan pilihan hati kepada siapapun.

Beberapa orang menudingku terlalu pemilih, terlalu sakit hati, terlalu trauma, dan entah berapa banyak lagi ‘terlalu’ yang lain, tapi hanya aku yang tahu pasti alasannya.

Pernikahan si Boy akhirnya dilangsungkan di Kota Bukit Tinggi. Hanya aku, ibu dan adik yang hadir disana dari keluarga kami.

Saat acara penandatangan akad di gereja, aku menemukan abang Asi berdiri tepat disebelahku. Aku tersenyum padanya. Ketika pengantin masuk ke ruang gereja, ku temukan pula si Abang menjadi pengiring pengantin dengan senyum menghiasi bibirnya.

Aku terpesona, dan beberapa kali mengarahkan kameraku untuk mengambil gambarnya. Jatuh cinta? Tidak tidak… ada sesuatu yang berbicara di matanya, yang seolah melambai padaku untuk mendengarkan ceritanya.

Hingga kutemukan lagi dia esok paginya di rumah iparku atau besan kami.

“Boleh kuminta no telepon abang? Tidak ada siapapun yang saya kenal di sini selain keluarga … siapa tahu saya nanti butuh abang…” pintaku

“Oh… silahkan, dengan senang hati saya akan membantu…” jawabnya dengan tersenyum

Hari telah beranjak siang, ketika aku menyadari tak memiliki kegiatan apapun hari itu di hotel. Duduk bengong, atau sekedar tiduran di kamar tentu bukan sebuah pilihan tepat. Tetapi akan mengisi hari dengan apa? Meminta keluarga besan untuk mengantar kami jalan-jalan? Bisa saja sih, tetapi mereka pasti sibuk dengan persiapan resepsi esok hari. Keliling kota dengan angkutan? Dengan siapa? kemana?

Saat berbagai pikiran dan pilihan muncul, datang pesan pendek, “Bisa saya bertemu Mbak?”

“Bisa!” hanya itu jawabku

Kami saling menatap, terdiam saat tanpa satu katapun.

“Saya ingin bercerita pada Anda,… saya tak tahu kenapa bertemu Anda seolah membuat saya begitu nyaman, dan ingin menceritakan semua yang ada dalam diri saya…”

Aku menatapnya tajam, mencari kejujuran dan juga arti perkataannya.

“Ya abang… abang mau bercerita apa? Tidak apa-apa… silahkan saja… ” jawabku

Aku sejatinya tidak siap mendengarkan sebentuk cerita, keluhan, atau apapun hari ini. Seluruh persiapan pernikahan ini beserta intrik dan emosi yang menyertainya telah menguras hampir separo konsentrasiku. Aku hanya ingin berjalan-jalan, menikmati gunung, lembah, air atau apapun yang bisa menghiburku. Namun mata coklat itu menatapku tajam, dan aku tak bisa menolaknya.

Saat dia mulai nyaman, Anda dan saya telah berganti dengan aku. Kupikir itu lebih baik.

“Hidupku sebelumnya sangat berantakan, tidak ada yang benar pada apa yang aku lakukan…” kalimat pertama itu muncul dari bibirnya

Hei tunggu, aku bukan seorang Hamba Tuhan, jangan mengaku dosa padaku, pikirku

“Aku tak tahu… harus meneruskan kemana arah perjalanan ini…”

“Maksud Abang?” mataku mengerjap, aku tak sepenuhnya mengerti isi ceritanya.

“Hidupku terlalu kelabu, aku tak tahu…”

Aku tidak memiliki milyaran kata-kata bijak, ataupun ayat-ayat suci. Setiap kali bertemu hal seperti ini, aku hanya punya sentuhan dan genggaman tangan hangat, itu yang selalu dikatakan sahabat-sahabatku. Aku sendiri tidak yakin pada perkataan mereka, tetapi lagi-lagi itulah yang kulakukan.

“Kita bicara sambil temani kami jalan ya… kami ingin berkeliling kota Bukittinggi. Tenang saja abang… kita pasti temukan jalannya…”  ajakku sembari memecah suasana

Kota Bukittinggi sangat eksotis di mataku. Pegunungan, udara sejuk, ngarai sianouk yang menawan, dan rumah-rumah etnik terasa berbeda. Benar-benar indah! Sayang, aku tak begitu pintar menggambarkan kecantikannya.

Aku akan datang lagi suatu saat, janjiku.

Abang Asi dan aku terus berbicara. Dia berbicara tentang kehidupannya, aku menimpalinya dengan senyuman hangat dan jawaban ringan. Dia terasa sangat nyaman, dan aku? Aku sangat senang! Itu saja.

***

Esoknya, mataku menyapu seluruh isi ruangan resepsi dan riuhnya ‘suasana Minang”. Pesta telah digelar dari pagi, upacara ‘pedangpora’ telah berlangsung dengan hikmad, para tamu bergiliran datang. Pesta yang benar-benar berbeda dengan adat Jawa kami. Sangat megah, dan meriah. Kain cantik aneka warna menjadi latar belakang panggung, bau masakan berempah memenuhi isi ruangan, musik Minang tak berhenti diperdengarkan. Suatu kombinasi indah dan eksotis.

Tetapi tak kutemukan sepasang mata coklat dan senyum ramah itu.

“Abang dimana? Kesini dong… ayo makan-makan…” ajakku di telepon

Kemeja putih, celana jeans, sepatu, serta wajah yang tersenyum segar beberapa saat kemudian muncul di hadapanku.

Kami tertawa, bernyanyi, berfoto bersama. Apapun pandangan orang aku tidak mempedulikannya, ‘toh esok aku tak akan bertemu lagi dengan orang-orang itu, pikirku

Namun dibalik kehangatan sorotan matanya coklat, aku masih menemukan jejak gelap yang belum dibukanya. Ah, mungkin itu cerita masa lalu, tak apa…,

***

Setelah seluruh keriuhan usai, dan kami kembali ke tanah Jawa, kami masih terus berhubungan melalui telepon, facebook.

Aku mengasihinya, sama seperti aku mengasihi sahabat-sahabatku yang lain. Bagiku, masing-masing kisah terasa unik dan cantik karena selalu ada tangan tak terlihat yang menjadi pelukis abadinya. Tak ada kisah hidup yang terlalu kelam, hitam pekat, tak ada kejatuhan yang terlalu dalam, yang tak menyisakan goresan pena sang penulis kekal cerita hidup

Setahun telah berlalu. Kemarin tanpa sengaja kutemukan sebuah pesannya di aplikasi whatsapp ponsel ibuku, “Saya sebenarnya calon adek, namun saya digantikan dengan putra ibu,… tidak apa-apa, mereka bahagia”

Aku terdiam, bisu, menatap layar tanpa berkedip. Aku tak tahu asal mula kalimat itu, mungkin hanya dia dan ibuku yang tahu.

Inikah sebuah jeda berwarna gelap di mata coklatnya?

Hari ini, aku mengirim pesan singkat di nomer ponselnya, “Aku sudah memesan buku untuk abang, akan dikirim langsung dari penerbitnya, mungkin seminggu lagi sampai”

Aku menggantikan janji kehadiranku untuk berkeliling kota, menghabiskan waktu mengarungi ngarai, lembah, sungai, gunung di tanah Bukittinggi dengan 2 buku yang akan didekapnya.

Maafkan aku, belum bisa penuhi janji menemui Abang! bisikku tanpa kata-kata 

Ie

Iklan

9 thoughts on “Tak Kupenuhi Janjiku

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s