Cinta Kala Senja

boy n girl

Kini, setelah dipertemukan oleh Sang Waktu, Om Han ingin meneruskan hubungannya dengan Ibu.

Aku menatap lekat wajah pria di hadapanku, matanya teduh, rambut di ujung dahinya mulai menipis dan berwarna perak,  ku tebak usianya sudah sekitar 55 – 60 tahun.

“Ayo.. diteruskan makannya… malah lihat’in om sampai seperti itu” tegurnya

Aku tersenyum tipis, dan mengalihkan pandangan pada salad  di piringku.

“Setelah ini kamu mau kemana dan beli apa? Om akan antar kemanapun”

Aku mendengus pelan

“Jangan begitu, om serius nih.. om akan antar dan belikan apapun yang ie mau. Om akan menebus semua yang seharusnya ie dapatkan dari kecil… betul kan Mam?” katanya lagi sambil menengok ke arah Ibu

Ibu tersenyum bahagia

“Tidak usah sebegitunya lah… tidak ada yang perlu ditebus dan dibayar. Semua yang telah terjadi di hidup ini, ya.. memang harus terjadi demikian. Pahit ataupun manis, nyatanya semuanya menjadi bekal setelah aku dewasa” jawabku

“Bahasanya ….” katanya

“Ya begitulah anak ini! Terlalu cepat dewasa kukira!’ timpal Ibu

Aku nyengir dan melanjutkan makanku.

Menurut cerita Ibu, pria paruh baya di hadapanku ini adalah Om Han sahabat Ibu saat remaja. Mereka bertemu lagi setelah 30 tahun terpisah saat Ibu melayat orang tua keluarga Om Han. Setelah pertemuan itu, mereka saling bertukar no telepon, dan rutin berkomunikasi.

Uh! Apa yang kukatakan di kalimat terakhir itu? Rutin berkomunikasi?

Awalnya kukira demikian. Mereka selalu asyik bercerita, tertawa, dan berbicara tentang masa remaja yang indah. Bukan sesuatu yang mengherankan di jaman sekarang, saat jarak bukan lagi sebuah halangan bagi siapapun. Toh’ akupun menyukai dan melakukan hal seperti itu.

“Kau tahu Ibu telponan sampai tengah malam nggak?” tanya adik perempuanku di suatu pagi

“Nggak! Aku langsung ngorok begitu kepalaku menyentuh bantal!” jawabku

“Dasar kebo!” umpat adikku

“Emang kamu pernah lihat kebo ngorok?”

“Ah sudahlah! Ibu pasti telponan sama Om Han” kata adikku sambil merengut

“Ya biarin to… kita juga sering begitu… kamu sama pacarmu itu… aku sama temenku”

“Yahhhh … kita ini beda!”

“Beda apaan? Kita muda… dan ibu udah tua, gitu?”

“Ya juga… tapi …”

“Ga usah mikir aneh-aneh ah! Lagian yang diomongin paling-paling tentang berlarian di sawah, memanjat pohon jambu, berenang di kali… beeeehhhh… omongan orang jadul!”

“Tapi …”

“Apa lagi… ah udah ah!” jawabku menutup pembicaraan sambil berlalu

Sebenarnya aku mengerti yang di maksud oleh si Kunyil, adik perempuanku itu. Aku menemukan perbedaan raut wajah Ibu saat menerima telepon dari Om Han. Wajahnya menjadi cerah, tawanya renyah, dan … seperti aku kalau lagi seneng banget, dapat undian, atau kesengsem, itu tepatnya. Tetapi aku tidak terlalu mau ambil pusing.

Ibu telah terlalu lama menjanda sejak bercerai dengan ayah. Wanita perkasa itu menghabiskan waktunya untuk membesarkan, menyekolahkan, dan menghidupi kami. Tidak ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukannya.

Untuk menambah penghasilan sebagai guru di suatu SMP, ibu tidak segan berjualan barang apa saja. Berjualan kacang telor, keripik, telur asin, kaos kaki, buku, dan banyak lagi lainnya sudah pernah kami lakukan sejak puluhan tahun.

Dari ke 3 anaknya, hanya aku yang memilih tidak meneruskan ke pendidikan tinggi, karena kepandaian yang pas-pas’an, sedangkan ke 2 adikku lulus sarjana. Aku memilih untuk mendampingi dan mengasuh si Kunyil karena waktu itu Ibu sedang tersita perhatiannya untuk mencari nafkah bagi keluarga kami dan juga kuliah. Setelah itu aku mengambil beberapa kursus secara acak untuk menambah isi otakku dan bekal bekerja. Kalaupun hari ini aku bisa menjadi seorang manager di suatu hotel, aku pikir itu karena bosku khilaf sehingga orang aneh bin ajaib seperti aku bisa dipercayanya menjadi nahkoda.

Ibuku memang hebat! Sangat hebat! Janda 3 anak namun semangat juangnya tak tertandingi! Siapa bisa mengalahkannya?

Jadi, kupikir terlalu naif jika aku sekarang mempermasalahkan hal sepele seperti tentang tingkah Ibu saat bertelpon dengan Om Han itu. Mungkin Ibu butuh hiburan pengusir sepi, apalagi setelah si Boy menikah dan tugas dinas di Jakarta, dan 2 anak perempuannya ini lebih sering menghabiskan waktu dengan pekerjaan.

“Om Han mau datang ke Semarang!” kata Ibu beberapa hari lalu

“Oya? Dalam rangka?”

“Katanya mengunjungi kamu”

“Oh! Ya udah ga apa-apa, biar Om Han menginap saja di hotelku” jawabku

“Bener?”

“Iya, ku kasih gratis!”

“Biar aku kabari om Han kalau begitu” kata Ibu dengan wajah berseri-seri

Aku tersenyum. Aku senang saat melihat wajah cerah Ibu.

Dan tibalah hari yang dinanti itu!

Setelah acara makan siang, Om Han mengajak aku dan Ibu berkeliling pusat perbelanjaan. Om Han menawarkan banyak barang untuk dibelikannya. Entah sudah berapa kali aku menggeleng pelan. Bukannya aku menolak pemberiannya, tetapi aku terbiasa tidak membeli barang yang tidak benar-benar ku butuhkan.

“Ayolah.. beli sepatu, celana, rok, tas atau apa…” kata om Han sekali lagi

Aku hanya tersenyum

“Anak ini memang begitu. Dia bisa datang ke mall hanya untuk satu barang yang diperlukannya saja tanpa menoleh ke arah lain, jadi percuma saja dia ditawarin ini itu” kata Ibu

“Anak yang luar biasa” kata Om Han lagi

“Mungkin karena terbiasa prihatin dari kecil, makanya jadi begitu…” timpal Ibu

AKu lagi-lagi hanya tersenyum

***

3 hari berikutnya aku sering bepergian mengantar Ibu dan Om Han berjalan-jalan di kota karena si Kunyil menolaknya. Aku tidak tahu persis alasan Kunyil menolak Om Han.

“Aku tidak suka dengan Om Han… aku merasa dia menyukai Ibu” celetuk Kunyil terus terang

“Ah lagi – lagi itu…” jawabku

“Kamu itu cuek banget sih orangnya! Udah pokoknya selama dia di kota ini, aku tidak mau repot-repot nemenin mereka jalan-jalan”

Ibu dan Om Han terlihat bahagia, dan entah rasa apapun yang bisa kubaca, aku memilih untuk tidak terlalu mempedulikannya.

Biarlah.

***

Hari terakhir kunjungan Om Han, kami berdua duduk berhadapan di suatu restoran cepat saji sambil menunggu Ibu pulang mengajar. Rencananya aku dan Ibu akan mengantar Om Han ke bandara setelah ini.

“Ie…”

“Ya”

“Setelah beberapa hari ini mengenal Om Han…. Om ingin mendengar pendapat Ie tentang Om… ”

“Om pria yang baik, lembut, hangat, bersahabat” jawabku jujur

“Kamu suka?”

“Ya tentu saja! Om tahu kan’ kalau seumur hidup belum ada bapak yang seperti itu di hidup Ie”

“Jujur nih?” tanya Om Han lagi

“Iya! Keluarga Om pasti sangat menyayangi Om”

“Hmmm….”

Kulihat wajah Om Han berubah menjadi datar

“Kenapa?”

“Perkawinan Om sudah di ujung tanduk. Istri om sangat pemboros, anak-anak sangat manja”

“Ha? Bukannya Om Han contoh keluarga harmonis? Yahhh… paling tidak itu yang saya dengar dari keluarga Om..”

“Sebenarnya tidak seperti itu… ehmmm begini ie…”

“Ya?”

“Bagaimana jika Om Han menjadi papa Ie?”

“Lhoh! Bukannya sudah kuanggap sebagai papa?”

“Bukan begitu! Tapi jadi papa beneran…”

“Lalu keluarga Om Han?”

“Ya Om tinggalin…”

“Uh! Semudah itu?” jawabku sambil melenguh

“Kamu tahu sendiri kisah cinta kami… dan Om rasa, sekarang saatnya menjalin kembali yang terputus itu”

“Semudah itu Om?” aku ulangi lagi pertanyaanku

“Bagaimana? Kamu tidak kasihan dengan Ibumu? Dia kan sudah berjuang selama puluhan tahun ini buat kalian”

“Iya… tapi…”

“Ijinkan Om Han membahagiakannya…”

Pembicaraan kami terputus saat melihat Ibu masuk di restoran, dan perjalanan menuju bandara pun dimulai. Aku terdiam sepanjang jalan.

Aku melihat Ibu dan Om Han dari spion. Wajah Ibu yang terlihat cerah, bahagia, dan ehmmmm mungkin berbunga-bunga.

3 hari ini aku mendengar banyak sekali cerita mereka. 30 tahun lalu, cinta pada pandangan pertama telah hadir di hati mereka, namun sayangnya saat itu Ibu telah bertunangan dengan ayah karena paksaan nenek. Cinta itu berlanjut dengan sembunyi-sembunyi hingga akhirnya ketahuan nenek dan membuat pernikahan ibu semakin dipercepat. Om Han yang patah hati akhirnya meneruskan pendidikan dan menikah. Usia pernikahan Ibu hanya bertahan 10 tahun, sedangkan pernikahan Om Han meskipun berumur sekian puluh tahun namun hambar dan dingin.

Beberapa hari ini pula Om Han sering mengatakan,”Seandainya saja aku tahu kamu sudah bercerai waktu itu, aku pasti akan menikahimu karena saat yang sama itu aku memutuskan menikah atau tidak”

Kini, setelah dipertemukan oleh Sang Waktu, Om Han ingin meneruskan hubungannya dengan Ibu.

Aku sesekali menghela nafas panjang.

Ibu tengah membelikan bekal makanan saat Om Han memelukku di pintu masuk ruang tunggu bandara, dia berbisik pelan di telingaku, “Bagaimana? Boleh?”

Aku menjawab dengan pelan juga, “Pulanglah kepada keluarga Om… jalinlah kembali hubungan keluarga Om yang terkoyak. Aku rasa masih ada kemungkinan untuk memperbaikinya?”

Wajah Om Han menjadi pias, dan matanya menatapku tajam.

“Pergilah… pulanglah Om… cintailah anak dan istri Om lebih dahulu sebelum mencintai kami… jangan biarkan mereka menjadi ie yang berikutnya. Kami tidak apa-apa, Ibu juga tidak apa-apa, sayangi ibu saya sebagai sahabat … dan kekasih yang tak mungkin bisa bersanding” bisikku

***

Ie 

Iklan

3 thoughts on “Cinta Kala Senja

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s