Concierge

concierge_01

Setiba di depan kamar, aku berpamitan. Pria itu memandangku dengan datar sambil berkata, “Yang kemarin itu istri, yang ini kesayangan…”

***

Aku melirik sekilas sambil tersenyum pada sebuah cermin yang terpasang di dinding lobby. Cukup tampan, kataku dalam hati.

Hari masih pagi, waktu masih menunjukkan pk. 10.00 WIB dan belum terlihat aktifitas berarti. Aku mengarahkan pandanganku selebar ruangan lobby. Beberapa orang pria tampak sedang berbicara dengan serius di meja ujung. Satu orang pria sedang membaca koran di meja sebelahnya, lalu seorang perempuan menelpon.

Aku kembali tersenyum, melirik sebentar ke kain batik yang terpasang di pinggangku, masih rapi.

Seorang wanita masuk ruangan, berdiri di depan meja resepsionis, berbicara, dan aku memperhatikan.

“Mari saya bantu Ibu…” tawarku sopan ketika melihat wanita itu telah selesai berurusan dengan resepsionis

“Ini beberapa tas saya… ” jawabnya

“Kamar 315 ya…” timpal Resepsionis

Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku mengangkat 1 koper, dua tas wanita, dan beberapa barang ke kereta. Mendorongnya pelan sambil menunjukkan arah kamar kepada tamu wanita tersebut. Aku memperhatikan sekilas penampilannya. Kaos ketat putih, rok jeans pendek, sepatu, sungguh padanan tepat bagi tubuhnya yang elok. Rambut berwarna coklat tergerai indah menutupi lehernya yang jenjang dan halus. Cukup! Aku tidak boleh melirik, menilai lebih dari itu, paling tidak semuanya harus ku simpan di balik senyumku.

Sampai di depan kamar aku membuka kunci pintu, mempersilahkan masuk, dan menaruh barang, memastikan semuanya baik dan tamu terlayani dengan nyaman.

“Saya permisi Ibu…” pamitku

“Ini untuk mas…” katanya mengangsurkan selembar uang padaku

“Maaf, kami tidak diperbolehkan menerima tip… terima kasih atas kedatangan Ibu di hotel kami, selamat beristirahat…” jawabku

“Sudahlah… tidak apa-apa… ” kata wanita itu lagi sambil memasukkan uangnya ke saku bajuku

Aku mengucapkan terima kasih, mohon undur diri, dan kembali mendorong keretaku menuju lobby dan tersenyum.

Aku telah sampai ke lobby saat menemui dua orang tamu lagi yang harus kuantar ke kamar. Seorang wanita dengan rambut yang disasak tinggi, sepatu tinggi, dan tas motif kulit buaya, atau memang terbuat dari kulit buaya? Dan seorang wanita dengan baju rapi, rambut dikucir kuda, tas selempang dan map di tangannya. Aku memperkirakan dia seorang Boss wanita dengan sekretaris atau mungkin asistennya.

“Kamar 402 mas…” kata wanita rambut kucir kuda sambil tersenyum

“Mari…” jawabku

Tanpa menungguku wanita kucir kuda itu mengangkat tasnya, menaruhnya di kereta.

“Saya saja…” cegahku

“Tidak apa-apa… biar cepat” jawabnya sambil tersenyum

Aku tidak menjawab, hanya mempercepat gerakanku mengangkat barang-barang bawaannya yang lumayan banyak itu. Wanita rambut bersasak tinggi itu telah beberapa langkah di depan kami dan sedang berbicara di telepon.

“Bagaimana deal pembayarannya? Apakah kita yakin dengan calon yang diajukan oleh Partai Indonesia Makmur Sentosa itu? Yakin nggak calon itu bakal menang?” 

Aku mendengar percakapan wanita itu di telepon. Wah… orang penting nih, pikirku

“Rame tamunya…?” tanya wanita rambut kucir kuda itu sambil melangkah di sampingku

“Iya… ” jawabku sambil tersenyum

“Pasti capek ya melayani tamu beraneka ragam…” katanya

“Sudah menjadi tugas kami Bu…” jawabku

“Menyenangkan juga ya… bisa bertemu dan melayani banyak orang… ” katanya lagi sambil menatap lurus ke depan

Aku tidak mengerti yang dikatakannya, dan tidak bertanya. Aku sedang bertugas, dan lagipula aku melihat wanita bersasak tinggi itu mulai melirik ke arah kami. Aku tidak mau mengganggu tamu yang sedang berbicara.

Petugas Concierge, itulah aku. Aku melayani tamu-tamu yang datang ke hotel kami, mengantarkan mereka sampai ke kamar, membawakan barang bawaan. Aku dituntut rapi, sopan, selalu tersenyum, dan berbicara seperlunya saja.

Aku telah kembali ke sudut concierge, bersiap, dan memperhatikan keadaan. Seorang wanita cantik terlihat duduk sendiri di kursi sudut lobby, dan beberapa orang lagi terlihat dengan kesibukan masing-masing.

Seorang pria dipersilahkan masuk oleh rekanku yang bertugas sebagai Bellboy. Aku seperti mengenalnya.

Ah iya… !

“Nungguin putranya main mas?” sapa seorang pria yang mendadak berdiri di sebelahku

“Oh… keponakan! Kalau Bapak?” jawabku

“Dua orang anak nih disini… satu jagoan dan satu putri cantik” jawabnya sambil tersenyum

“Papa tunggu mereka di sini ya… mama mau belanja dulu…” pamit seorang wanita yang berdiri di sebelah pria itu

“Iya sayang…” jawab pria itu mesra

“Ya beginilah… menunggui dua permata dan istri tercinta…” kata pria itu

“Bapak dan suami yang luar biasa…” jawabku

“Sedang berusaha menjadi seperti itu …” timpalnya

Berikutnya, kami berdua duduk mencangkung di bangku depan tempat bermain itu untuk sementara waktu dan berbicara mengenai beberapa hal remeh.

Bukannya itu pria yang kemarin kutemui? tanyaku dalam hati

Pria itu mendekati wanita cantik yang duduk sendirian, dan matanya langsung tertuju ke sudut concierge dimana aku berada.

“Bisa saya bantu membawakan tas dan kopernya Bapak?” sapaku

“O iya…” jawabnya singkat

Untuk satu detik matanya menunjukkan keterkejutan.

“Kamar berapa sayang…?” tanya pria itu

“710…” jawab wanita itu dengan manja

“Mari saya antar…”

Pria dan wanita itu berjalan di depanku dengan mesra. Tangan pria itu memeluk pinggang wanitanya dengan erat, terlebih saat kami berada di lift.

Aku memilih mengarahkan pandanganku atau lebih tepatnya melotot ke tombol di dekat pintu lift seolah mereka bersalah padaku. Apalagi yang bisa kulakukan di saat seperti ini? Tidak ada satupun perkataan yang kuucapkan kepada pasangan mesra ini.

Setiba di depan kamar, aku berpamitan. Pria itu memandangku dengan datar sambil berkata, “Yang kemarin itu istri, yang ini kesayangan…”

Aku hanya tersenyum dan berlalu melangkahkan kakiku kembali ke sudut concierge.

***

 

ie

Iklan

26 thoughts on “Concierge

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s