Saat Cinta Kuat Seperti Mangut

rmangutctt

Plakkkkkkk!

“Hutang apalagi???? Aku ini kan sudah kamu tiduri berkali-kali… itu kan sama saja bayar hutang…” suaranya melengking tinggi menembus telinga

Aku melotot! Menepuk jidat! Permen yang ada di mulutku hampir meloncat keluar saking kagetnya.

Astaga!!

***

Aku sedang berjalan-jalan di selasar untuk kontrol kamar ketika menemui seorang pria duduk mencangkung berhadapan dengan sebuah kamar. Selidik punya selidik pria itu sedang mengamati seorang tamu kami. Hanya pria biasa dengan masalah pribadi, itu jawaban yang aku terima dari seorang pengawas lapangan.

Namun beberapa jam kemudian pengawasku kembali dengan laporan kalau pria tersebut mematikan MCB (panel listrik) kamar tersebut, setiap kali dihidupkan kembali oleh tekhnisi kami beberapa saat kemudian pasti dimatikan lagi.

“Mbak tolong turun tangan…” pinta pengawasku

“Hmmmmm… ” jawabku acuh

Berhadapan dengan pria itu aku bisa memperhatikannya dengan lebih teliti. Berusia sekitar 40 tahun, berkulit coklat, berwajah bersih, garis wajah tegas dan rambut cepak. Lumayanlah…Β tidak terlalu buruk menurut penilaian umum.

“Siapa anda?” tanyaku

“Hanya seorang pria” jawabnya

“Dari kepolisian?”

“Tidak?”

“Yang bener? Ada surat tugas?” tanyaku menyelidik

“Tidak ada… hanya pribadi dengan masalah pribadi dengan salah tamu Ibu…”

“Kok pake acara ganggu2 tamu dengan mematikan MCB?”

“Saya pengen dia cepat keluar..”

“Bukan begitu caranya”

“Iya, tapi mereka 2 pria dengan 3 wanita…”

“Apa urusannya dengan anda? Selama mereka membayar bukankah itu bukan urusan anda?”

“Tapi mereka mabok dan itu melanggar…”

“Melanggar apa? Kalaupun mabok, mereka mabok di kamar… bukan di jalan.. dan itu bukan pelanggaran…” jawabku ngasal

“Mereka akan merepotkan Ibu…”

“Tidak merepotkan. Kalau mereka mati, barulah saya repot…”

Pembicaraan kami terputus karena aku meninggalkannya.

Beberapa menit kemudian pengawasku kembali melapor lagi kalau pria tersebut semakin meresahkan karena menggedor pintu kamar.

Aku melakukan tindakan terakhir, memanggil aparat kepolisian.

Sisi lain, tamu yang dituju pria tersebut tidak juga membuka pintu, ataupun menjawab panggilan telepon kami, dan hal itu menjadi catatan “keresahan” sendiri buatku. Sejuta kemungkinan bisa saja terjadi, karena waktuΒ check out telah lewat beberapa jam sebelumnya.

“Baiklah, kita buka pintunya dengan kunci duplikat. Hal ini kita lakukan karena mereka tidak menjawab telepon kami, ataupun membuka pintu” kataku

“Dimatikan saja listriknya…” terdengar satu suara di belakangku, mungkin karyawan yang asal ceplos bicara

“Tadi sudah saya matikan listriknya, tapi malah dihidupkan lagi terus…” gerutu pria itu

Aku langsung berbalik badan, dengan mata langsung tertuju pada matanya, “Anda siapa? Anda mengaku tidak polisi, tidak memiliki surat tugas, hanya seorang pria dengan masalah pribadi. Anda tidak mengerti kalau ini daerah kekuasaan saya? Saya bisa mengusir Anda karena telah membuat keresahan tamu dan karyawan saya! Mengerti Anda??!”

Sepertinya pria tersebut tidak siap dengan tindakanku yang spontan itu hingga hanya bisa menjawab dengan terkejut, “Oh! Oke..!”

Sesaat setelah pintu terbuka, seorang wanita cantik keluar dan langsung menerjang pria tersebut dengan tamparan dan teriakan.

“Hutang apalagi???? Aku ini kan sudah kamu tiduri berkali-kali… itu kan sama saja bayar hutang…” suaranya melengking tinggi menembus telinga

Aku melotot! Menepuk jidat! Permen yang ada di mulutku hampir meloncat keluar saking kagetnya.

Astaga!!

***

Berdasar penjelasan dari aparat kepolisian yang kupanggil, masalah pria dan wanita tersebut adalah cinta terpendam atau cinta terlarang atau cinta rumput tetangga… bah!

Mereka berpacaran waktu SMA, tapi waktu malah membawa mereka menikah dengan orang lain. Namun meskipun telah menikah, mereka tetap saling “main belakang dibalik pasangan masing-masing. HUH! GILA!! Saat perempuan itu mampir di hotel untuk bermalam “entah-dengan-siapa” pria itu berang! Dan kejadian memalukan itupun terjadi.

Hmmmmmm… aku menghela nafas panjang. Cinta lagi cinta lagi…

Aku berbisik kepada pengawas yang berdiri di sebelahku, “Begitulah cinta… kuat seperti mangut (ini pelesetan dari maut), mau amis… pedes dan berkuah santanpun tetep dimakan!”

(Ini link resep ikan mangut yang kusebut itu.. πŸ˜€ klik di sini)

Pengawasku menatap dengan pandangan tak mengerti, mungkin ucapanku itu sebuah kesimpulan yang aneh untuknya. Β Sambil melangkah pergi aku teringat perkataan seorang teman “Cinta itu indah, tapi kadang juga menyebalkan dan MENGERIKAN! Berbahagilah mereka yang tidak menjadi BUDAKNYA”

Hmmmm…

ie

Iklan

29 thoughts on “Saat Cinta Kuat Seperti Mangut

  1. lelaki itu nagih hutang…. tapi hutang apa?

    kalau cuma ditiduri nggak bisa dianggap pembayaran…. nggak ada kwitansinya πŸ˜€

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s