Ontbijtkoek

ontbijtkoek

Sebuah cerita tentang roti ontbitjkoek ala ie… šŸ˜€

Aku memasukkan gula pasir, gula palem, telor dan mulai memutar tombol mixer, suara mendengungpun terdengar. Dilanjutkan dengan menyiapkan tepung terigu, mengayaknya, mengambil bumbu spekuk dan memanaskan oven serta melelehkan margarin.

Aku hari ini membuat roti Ontbitjkoek. Memang bukan roti meriah, atau trendi, justru sebaliknya jadul, kuno, jaman nenek-nenek Belanda. Keistimewaannya cuma satu, berbau rempah dan menurutku itu sangat eksotis. Owh, satu lagi! Roti ini selalu mengingatkanku pada Toko Roti Oen di Semarang. Beberapa kali ke sana dan mendengar ceritanya membuatku terbayang jaman nonik-nonik Belanda menjadikan tempatĀ hang-outĀ keren di masanya.

“Pasti mau bikin roti jadul, kelihatan dari bumbunya…” celetuk adikku

“Yo… biar simboke seneng…” jawabku

Biar Ibu seneng itu alasanku, selain menambah ketrampilan memasak tentunya.

“Biar ibu kalau pulang ngajar panas-panas bisa adeeemmmm kalau di kulkas ada puding enak…” jawabku saat ditanya ngapain repot-repot bikin puding

Aku melongok sebentar ke mixer, kocokan telur sudah mulai bagus.

“Yahhh… mau gimana lagi… punyaku cuma ibu, dan dia juga cuma punya aku, jadi baik-baiklah kami berdua ini, supaya hidup lebih indah dan bahagia” jawabku saat sahabatku bertanya ngapain aku selalu repot antar ibuku ke sana kemari.

Kocokan telur sudah mulai naik dan mengental, pertanda bagus. Aku tersenyum dan mengingat percakapanku kemarin dengan salah stafku.

“Saya berbohong pada Mama dengan mengatakan kalau saya masuk kerja Mbak” jawab salah satu staf

Stafku berbohong pada Mamanya dengan mengatakan masuk kerja, padahal pergi dengan pacar yang tidak direstui oleh orang tuanya. Sayang kebohongan itu terungkap karena denganĀ tidak sengaja rekan kerjanya malah menelpon ke rumah untuk bertanya sesuatu.

“Alasannya?” tanyaku

“Saya bosan hanya merawat Mama terus-terusan, sedangkan kedua kakak laki-laki saya hidup enak-enakan…, boleh dong saya gantian bersenang-senang… ”

“Tapi mbak… merawat orang tua adalah salah satu jalan untuk mendapat berkah juga dari Tuhan..” katakuĀ sok menasehati

“Iya, tapi Mama saya cerewet sekali. Dia tidak setuju saya berhubungan dengan Joko. Alasannya karena Joko udah duda beranak dua, tidak jelas pekerjaannya, dan sebagainya. Padahal saya sudah menyukai Joko mbak… ” jelasnya lagi

“Mbak, nasehat orang tua jangan dianggap sepele lho… karena semua itu pasti demi kebaikan anak-anaknya juga… lain kali dipikir lagi ya kalau mau bohong sama Mama… tidak baik lho… dosa!” kataku akhirnya

Hatiku sepertiĀ mencelosĀ ke dasar laut waktu mendengar alasan kalau dia bosan merawat Mamanya. Ingatanku tertuju pada seorang wanita setengah tua berjalan di kampung kami dengan daster lusuh yang tersingkap bagian belakangnya sampai paha, memakai bedak tebal, dengan wajah murung tertunduk. Aku menyapanya dengan pelan saat melewatinya dan berbisik kalau dasternya tersingkap di bagian belakang. Dia hanya tersenyum malu.

Kocokan telur telah kaku, aku mematikan mixer memasukkan margarin leleh, ayakan tepung dan bumbu spekuk. Mengaduk, membaliknya sampai rata, dan menaruhnya ke loyang.

Irisan kacang almon ternyata habis, jadi aku menaburinya dengan wijen supaya tampilannya sedikit lebih cantik. Memang berbeda dengan resep, tapi tidak apa-apalah.

“Iya mbak… tapi saya ini bosan, jenuh merawat Mama!” tukas stafku

“Ya sudah… tapi ingat lho ya… bagaimanapun itu orang tua Mbak Tika…” kataku menutup pembicaraan.

Aku menutup pintu oven, memutar penanda waktunya.

Ibu, pribadi mana yang lebih berharga dari seorang Ibu.

Aku tak mengenal ibu kandungku sebagai ibu sampai dengan usia 16 tahun saat nenekku bercerita hal yang sebenarnya tentang keberadaanku. Alih alih menerima dengan lapang dada untuk setiap peristiwa yang telah terjadi, aku justru membenci ibuku.

Tidak ada alasan dia menitipkanku pada nenek, membiarkanku hidup dengan saudara-saudara jauh, dianiaya banyak orang, dicemooh sebagai anak haram. Aku merasa dibuang, dicampakkan, dan ditinggalkan.Ā Tidak ada seorangpun yang tahu kalau pikiran tersebut yang memenuhi kepalaku setiap waktu. Aku terjungkal dalam depresi panjang dan tak berkesudahan tepat di masa remaja. Toh’ demikian aku memilih pulangĀ  kerumah usai SMA dengan alasan pongah, yaitu menerima keberadaan Ibuku, meskipun sejatinya tidak seperti itu.

Aku tak pernah memanggilnya Ibu. Ibu juga tidak pernah mengakuiku sebagai anak. Tidak! Sampai dengan suatu hari kejadian konyol membuatku tersadar.

Terperangkap di kamar mandi, kelupaan membawa handuk, baju ganti, hanya ada Ibu dan teman-temannya yang ada di ruang terdekat.

Masak aku harus memanggil namanya langsung? Ketahuan dong sama teman-temannya kalau kami tidak akur? Tapi masak aku harus keluar dengan telanjang? Bagaimana caranya aku meminta tolong padanya? Aduuuuhhhh

Detik yang sama aku tersadar telah bersalah! Kejadian konyol ini pasti di-sutradarai Tuhan! Tunjukku ke atas.

Sial! Umpatku dengan air mata mengalir di mataku

Aku memanggilnya Ibu sejak dari dalam kamar mandi itu, dan dia mengakuiku sebagai anak. Tidak ada acara berpelukan ataupun berhamburan kata maaf.

Bau harum mulai tercium menyelinap dari dalam oven, senyumku terkembang. Sebentar lagi matang!

“Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin duduk di dekatnya, menghabiskan waktuku bercanda, bercerita atau membicarakan apapun juga…” cerita Christian sahabat dekatku

Aku menatapnya. Christian sedang menyesali waktu terbuang yang seharusnya bisa dihabiskan dengan ibunya yang sudah ber-pulang.

“Katakan padaku … apa yang bisa kulakukan untuknya?”

Aku masih terdiam

“Ibuku sangat cantik, melebihi Widyawati, dan aku merindukannya…”

Aku tak tahu nasehat apa yang tepat untuknya. Semua kenangan cinta itu kini berputar-putar di benaknya,

“Maukah kamu membuatkan puisi untuknya…? Aku pikir beliau pasti akan menyukainya…”

Christian tersenyum.

Aku menusuk roti dalam oven itu dengan tusuk gigi untuk memastikannya telah matang dan siap diangkat.

“Bikin apa?” tanya Ibu

“Roti jadul… gimana baunya.. enak nggak…?”

“Hmmmmm… harum sekali… pasti enak…” kata Ibu sambil tersenyum

Aku dengan wajah senang dan bahagia…. mengangkat roti Ontbijtkoek ke meja… membiarkannya dingin.. dan menyantapnya bersama dengan teh panas buatan Ibu.

***

ie

Iklan

19 thoughts on “Ontbijtkoek

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s