Cerita Berbeda

wedd

karena tidak semua pernikahan indah berisi hal-hal menawan dan membahagiakan…

Aku berjalan tergesa-gesa. Waktu telah menunjukkan Pk. 16.00 WIB, aku seharusnya sudah bersiap di tempat berlangsungnya acara pernikahan.

“Maaf Ko’ ngepas banget nih datangnya…” laporku pada Ko’ Yan sang EO Leader

“Ga apa Mbak … langsung aja deh ya…  ” perintah Ko’ Yan

“Siap!” jawabku

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, mendatangi satu meja satu persatu dan sesekali melirik kertas panduan dari EO Leader. Setiap meja telah tertata dengan cantik. Taplak meja putih bersih dihias kain berwarna merah dengan pinggiran emas nampak harmonis dengan satu batang bunga mawar putih di vas langsing. Gelas, piring, sendok, dan serbet makan yang berbentuk topi tertata rapi. Kursi pun berhias pita merah dan perak. Semua terlihat sempurna.

Ko’ Yan mendatangiku dan berbisik, “Mbak, Tolong di cek lagi… jumlah meja Diamond, Safir, dan lain-lainnya ya… setelah itu lihat ke buku acara ini mbak… Acara kali ini dibuat dengan efek sangat dramatis sekali, jadi kita harus cermat”

“Tidak ada perubahan ekstrim kan Ko’? Semua masih sama persis seperti waktu gladi resik kan?” tanyaku meminta kepastian

“Ya tentu saja … ” jawab Ko’ Yan sambil tersenyum

“Tenang saja Ko’… semua pasti berjalan dengan baik…” kataku menenangkannya

“Itulah kenapa aku selalu senang memakai kamu … tenang dan meyakinkan”

“Sudahlah, mari kita bekerja… Eddy, Sadhu, Dena, Sita sudah siap di bagian masing-masing kan?”

“Yak!” jawab Ko’ Yan sambil berlalu

Ko Yan berjalan ke arah beberapa teman lain untuk memastikan mereka siap di tempat dengan tugas mereka masing-masing.

Kali ini aku melepaskan pakaian sebagai manager hotel, dan bergabung sebagai Crew Wedding Organizer, salah satu pekerjaan sambilanku. Jangan bertanya alasanku bergabung dengan pekerjaan seperti ini, karena sangat sederhana. Pekerjaan sampingan seperti ini menyenangkan dan juga menantang. Aku dituntut untuk sempurna! Melayani, memberikan senyuman, keramahan, ketegasan dan juga ketepatan. Selain itu, aku sudah mengenal Ko’ Yan mungkin lebih dari 10 tahun. Aku sangat hafal cara kerjanya yang cepat, cermat, teliti itu. Tidak boleh ada yang lalai, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun karena ini menyangkut harga diri dan kehormatan banyak pihak.

Kali ini aku bertugas sebagai asistant dari EO Leader, jadi aku harus benar-benar menguasai lapangan. Ballroom ini masih lengang, hanya ada beberapa petugas sound system, penata lightingmulti media, beberapa waiters, pagar ayu, photographer, dan beberapa crew EO kami. Aku berjalan ke arah meja yang sedianya akan dipergunakan oleh kedua keluarga mempelai, menarik sedikit ujung pita, menggeser sendok dan garpu, serta mendorong kursi.

Aku membuka buku panduan dan membacanya sekilas. Mempelai Pria akan menjemput wanitanya dengan memakai perahu dari sebuah bangunan yang dirancang seperti dermaga kecil. Sadhu akan berperan sebagai tukang perahu, sedangkan Eddy Tan akan berperan sebagai petugas di dermaga. Lampu akan memainkan warna yang indah dengan menjatuhkan cahaya dari langit saat mereka berdua kembali ke dermaga. Barisan pagar ayu akan melemparkan kelopak mawar segar untuk menyambutnya, dan penari akan mengiring mereka berjalan menuju pelaminan yang sangat indah.

Pesta kali ini akan sangat romantis dan eksotis… kataku dalam hati

Aku memeriksa urutan makanan yang akan dihidangkan berdasarkan urutan acara, penampil dan juga pengaturan waktunya. Nama makanan asing dan pastinya tidak pernah kumakan selain di acara seperti ini tertulis dengan jelas. Aku harus memperhatikan semuanya termasuk waktu penghidangannya, karena keterlambatan bisa menjadi kesalahan ber-efek domino dengan semua urutan acara lainnya.

Rombongan keluarga dekat tampak mulai masuk ruangan, cantik dan gagah. Wajah mereka tampak cerah, cantik dan gagah. Aku tersenyum menyambut mereka serta memberitahukan mereka beberapa hal mengenai urutan acara.

Eddy mendekatiku untuk memastikan penampilannya, “Bagaimana penampilanku? Sudah ganteng belum?”

“Sangat ganteng. Selamat bertugas! Konsentrasi dan jangan membuat kesalahan” jawabku

“Siap!” jawabnya sambil berlalu

Tamu sudah mulai berdatangan, dan aku mulai sibuk mengantar mereka menuju ke meja masing-masing. Satu meja harus terisi sepuluh orang dahulu baru kemudian aku bisa “membuka meja” berikutnya. Membuka meja adalah istilah untuk mempersilahkan tamu duduk di kursi grup meja yang masih kosong.

Aku berjalan hilir mudik dibantu oleh para pagar ayu. Beberapa orang ngotot meminta meja baru, padahal sebenarnya bisa bergabung dengan meja yang telah terisi beberapa orang. Aku harus memberitahu dan mengarahkan mereka dengan pelan, tersenyum, namun tegas.

Waktu berjalan dengan cepat, tibalah saat detik-detik adegan dramatis yang paling dinantikan.

Mempelai pria yang telah berdandan dengan sangat tampan sudah menaiki perahu untuk menjemput wanitanya diiringi dengan gesekan biola yang sangat indah. Di ujung nampak mempelai wanita duduk menunggu dengan senyum yang sangat menawan.

Semua mata menatap ke arah yang sama.

Aku sekilas menengok ke arah pintu keluarnya hidangan, seorang petugas membalasnya dengan senyuman. Aku memberikan kode dengan menjentikkan jempolku. Persis setelah mempelai bertemu, berjalan sampai pelaminan, dan toast, parade makanan sudah harus dikeluarkan. Semua berjalan dalam hitungan menit.

Aku berkonsentrasi penuh pada jalannya acara.

Tepuk tangan berkumandang memenuhi seluruh ruangan, kedua mempelai telah turun di dermaga dengan disambut ciuman hangat kedua orang tua.

Beberapa menit kemudian parade makanan dilakukan, lagu diperdengarkan, dan para penari mulai berjalan ke arah panggung dengan langkah gemulai indah.

Kami, aku dan empat orang lainnya semakin berkonsentrasi melayani makanan. Melihat ke area tugas kami untuk memastikan semua piring makanan terhidang pada semua meja.

“Hei… tolong bersihkan ini! Minumannya tumpah mengenai meja dan kursi” suara keras seorang ibu kepadaku

Sigap aku melambaikan tangan kepada seorang petugas untuk menanganinya, mengganti kursi, mengeringkan meja dengan lap.

“Mbak.. masih ada kursi kosong ga untuk dua orang? Ada tamu yang terlambat datang…” tanya satu orang pagar Ayu

“Hemmmmm… tunggu sebentar… oh ada! Itu di sana…” jawabku sambil mengedarkan pandangan cepat ke seluruh ruangan

Aku melihat sekilas ke arah pasangan tamu yang baru saja datang. Aku mengenalinya, namun alih-alih menyapanya dengan ramah aku mengantar mereka ke kursi yang masih tersedia, menarik kursi, dan mempersilahkan mereka duduk.

Pria itu memandangku dengan tatapan yang tak biasa, sedangkan yang wanita tersenyum ramah.  Aku berbalik meninggalkan mereka saat aku mengingat kejadian beberapa waktu sebelumnya,

Sekretaris mengetuk dan masuk ke ruanganku dengan wajah ragu.

“Permisi Bu, ada tamu mencari Ibu. Saya tidak berani menolaknya”

Wajah seorang pria yang sangat kukenal muncul dari balik pintu dan menyapa dengan senyuman lebar, “Halooo sayangggg, saya ada perlu sebentar nih… ”

Namanya Edward. Aku merutuki kehadiran pria itu dalam hati. Meskipun dia memiliki jabatan penting di suatu instansi pemerintah, namun aku tahu persis kesukaannya yang bermain wanita secara sembarangan dari beberapa teman. Beberapa hari lalu kami bertemu di suatu rapat, dan dia mengutarakan keinginannya untuk bermalam di hotelku.

“Iya ada apa ya…” jawabku acuh

“Jangan gitu dongggg…. saya kan bilang padamu waktu beberapa waktu lalu kalo badan saya ini pegal dan butuh pijat…”

“Ya carilah di luar sana kan banyak tukang pijat…”

“Pijat haluuusss sayangku…  saya mau yang halussss dan lembut….” katanya lagi

Aku menghela nafas panjang dan menjawabnya, “Tidak ada pijat halus di sini…”

“Ah… tidak usah beralasan! Pasti ada…”

“Hotel ini tidak menyediakan!! Kalau mau cari, ya diluar sana… Kenapa anda tidak bawa sendiri saja?? Bukannya lebih gampang nyari sendiri daripada dicarikan?”

“Ayolah… dicarikan itu lebih menantang, karena lebih misterius… ayolahhhhh… ”

“Saya tidak tahu! Saya tidak pernah berurusan dengan hal seperti itu. Hemmm… tanya aja sana sama para roomboy barangkali ada yang tahu… Mbak tolong panggil Hendra ya…” perintahku pada sekretaris melalui telephone

Roomboy bernama Hendra muncul dengan wajah pias, mungkin dia pikir aku akan memarahinya.

“Bapak ini minta tukang pijat…”

Hendra bengong menatapku dengan pandangan tidak mengerti

“Sudahlah, kamu berurusan langsung saja ya”

“Sayangku, kamu itu kok galak banget sihhhhh… ya udah… aku tanya ke dia aja ya… bye sayang….” kata Edward sambil menutup pembicaraan dengan mata berkedip genit

Aku mengedikkan bahu dengan sebal. Aku mendengar laporan dari Hendra kalau pria tersebut akhirnya memperoleh tukang pijat  sesuai kemauannya. Mereka janjian sendiri, dan … apakah mereka bermalam atau tidak aku tidak tahu. Entahlah, aku tak up-date berita selanjutnya.

Makanan secara berurutan telah dihidangkan, acara berlangsung dengan sangat lancar dan baik. Sadhu dan Edy berdiri di sebelahku, kami sudah mulai bisa bernafas dengan lega.

“Keren sekali ya…” celetuk Eddy

“Iya… tapi juga mahal sekali…” jawabku

“Kira-kira, kita ini bakalan bisa membuat acara kawinan seperti ini nggak ya…” kata Sadhu

“Kamu ini bertanya atau membuat pernyataan? Duitmu harus sangat banyak… atau kalau nggak persuntinglah cewek kaya raya…” jawabku

“Seperti di film-film kartun ya… wanitanya sangat cantik, prianya sangat gagah… mereka menikah dan bahagia selamanya…” kata Eddy

“Bahagia selamanya…” kataku mengulang

“Bahagia selamanya…” kata Sadhu

Aku melihat wanita yang bersama dengan pria tersebut berdiri dan menghampiriku, “Toilet dimana ya…?”

Sambil mengantarnya, aku menyempatkan diri sedikit menyapa, dan meyakinkan diri sendiri kalau wanita ini istri Edward. Aku menghela nafas dalam, dan menghembuskannya dengan pelan.

Acara berakhir, dan saatnya kami makan dan menerima amplop.

“Sukses!” teriak Ko’ Yan dengan gembira yang kami sambut dengan senyum lebar

“Benar-benar pernikahan yang indah!! Dan mereka pasti akan bahagia selamanya…” celetuk Sadhu

“Masih memikirkan itu? Kamu ini …” timpalku

“Iyalah… pasti sangat keren kalau suatu saat aku juga seperti ini…”

“Ya… semoga saja begitu… karena tidak semua pernikahan indah berisi hal-hal menawan dan membahagiakan…” kataku

“Kamu kok ngomong begitu…?”

“Ha ha ha ha… rahasiaaaaaaaaaaaaaa….” jawabku menggodanya sambil tersenyum penuh rahasia.

Beberapa tahun lalu aku bertugas di tempat yang sama untuk sebuah pernikahan dengan tarian romantis seorang pria yang menjemput wanitanya di tengah hujan kelopak mawar yang indah. Pria itu… Edward!

***

ie

Iklan

8 thoughts on “Cerita Berbeda

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s