Hanya Secangkir Cokelat Panas

Hot-Chocolate-1

Esok akan datang hari baru yang berbeda dan membawa cerita yang berbeda, akan selalu begitu. 

***

Sadhu mengaduk cokelat panas di hadapannya sambil bertanya, “Mengapa hidup kita berbeda dengan orang kebanyakan?”

“Apa maksudmu?” tanyaku

“Lihatlah orang-orang itu. Ambil contohnya pria dan wanita serta anak yang sedang berjalan kemari itu. Mereka terlihat bahagia, membawa banyak barang belanjaan… ” katanya menggantung

“Nggak ngerti maksudmu ah… ”

“Lihat mereka lagi… sepasang suami istri, anak, suster dan belanjaan… mereka terlhat utuh, berkecukupan dan bahagia…”

“Yahhhh… itu karena memang jumlah keluarga kelas menengah tengah naik jumlahnya di negara kita” timpalku sok tahu

“Sukanya ga nyambung kalau diajak ngobrol serius!”

“Ha ha ha ha ha…” aku tertawa ngakak melihat raut wajahnya yang masam

“Malah tertawa! Kamu selalu tidak bisa diajak bicara serius!”

“Sudahlah makan dulu roti bakarnya… ha ha ha”

Aku dan Sadhu. Kami berdua menyukai saat ngobrol berdua ditemani secangkir cokelat panas dan roti bakar. Bersahabat sejak 8 tahun lalu membuat kami mengerti satu sama lain meskipun umurnya lebih muda 8 tahun dariku. Sadhu selalu ada saat kapanpun aku membutuhkannya, demikian juga aku.

Beberapa teman sering mengolok-olok kami, ” “Kalau memang klop kenapa kalian tidak menikah saja… umur ‘kan tidak masalah…”

Aku biasanya hanya tertawa dan menjawab, “Aku sangat menyayanginya, dia seperti adikku sendiri. Kalau saja rasa sayang itu adalah cinta… maka aku tidak akan keberatan untuk menikah dengannya… sayangnya kok tidak… ha ha ha… ”

Sadhu mengambil sepotong roti bakar dan mengunyahnya sambil berkata, “Aku ditelepon orang rumah, ibuku berulah lagi…”

“Hutang? Pada rentenir?”

“Nggak, kali ini kedapatan selingkuh. Bapakku tidak tahu lagi harus melakukan apa” jelasnya

Aku terdiam

“Aku harus bagaimana kalau begini?”

“Masakan karena kejadian ini kamu harus membenci ibumu?”

“Aku marah… tapi…”

“Tak bisa membencinya….”

“Iya begitulah… seburuk apapun kelakuannya, dia ibuku. Aku harus tetap menghormati dan tidak boleh membencinya…”

Aku mengaduk cokelat panasku dan terdiam.

Wajah Sadhu yang biasa cerah dan tampan terlihat sangat murung dan kusut. Sudah sering aku mendengar keluh kesah tentang kesulitan keluarganya, dan mau menjadi pendengar setia saja sudah membuatnya lega.

“Kenapa kita berbeda ya? Kenapa hidup orang-orang itu terlihat mudah dan kenapa kita tidak? Kenapa kita harus jungkir balik mengusahakan segala sesuatu sedangkan mereka tidak”

“Kita kan ga tahu juga masalah semua orang… Emangnya apa yang kamu mau tuntut? Kemudahan seperti apa? Uang? Wanita atau mungkin bagiku pria? Jabatan? Bukannya kita memang tidak mengejar semua itu?” aku membalas pertanyaannya dengan pertanyaan

“Tetapi mereka memilikinya dengan mudah dan kita tidak”

“Setiap cerita manusia itu berbeda. Dan buatku, meskipun kamu tidak memiliki semua yang kamu pikirkan itu… kamu tetap sahabat yang sempurna”

Sadhu terdiam.

“Kamu mungkin berbeda! Tidak kaya, tidak punya jabatan, penuh dengan kesulitan hidup. Tetapi kamu itu tulus, penuh kasih, kuat, hebat, bersemangat, dan senyummu itu selalu membuat aku tahu bahwa segelap apapun hari ini semua pasti bisa diatasi dengan baik-baik saja. Kalaupun hidup kita berbeda, ya tidak apa-apa… toh kita tetap hidup dan bahagia… seperti hari ini.. betul tidak?”

“Begitu?” tanya Sadhu ragu

“Ya, dan aku rasa Tuhan pasti sudah menyiapkan banyak rancangan indah yang belum kita ketahui. Jalani saja hidup ini. Semuanya pasti baik adanya dan datang tepat waktu. Cerita setiap orang memang berbeda, tetapi semua indah dan unik sesuai rancangannya…”

Sadhu tersenyum sambil meminum cokelat panasnya.

Matahari mulai bergeser ke barat. Esok akan datang hari baru yang berbeda dan membawa cerita yang berbeda, akan selalu begitu.

***

ie

Iklan

19 thoughts on “Hanya Secangkir Cokelat Panas

  1. setiap orang punya cerita berbeda. memandang mereka akan memunculkan anggapan bahwa mereka lebih enak daripada kita.
    tapi itu penampilan di luar saja…. di baliknya, nggak ada yang tahu

  2. kalo terus membanding2kan kehidupan kita dengan orang lain yg lebih diatas kita sampai kapan pun kayaknya kita tak akan pernah puas sm hidup kita sendiri, hidupku adl hidupku dan hidupmu adl hidupmu, so enjoy your life 😉

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s