Esok

sunrise

esok pasti datang, dan cerita hidup ini terus bergulir lagi… 

Aku menatap matanya yang seolah digayuti mendung seperti kotaku akhir – akhir ini. Tidak kutemukan setitikpun meski hanya sekilas cahaya.

“Hidup terus berputar, dan matahari akan datang kembali esok hari…” kataku

Mata itu kembali menatapku. Tanpa cahaya. Aku tidak tahu cerita apa yang tersimpan rapi di balik kelam itu. Tidak ada satupun kata terlontar dari mulutnya.

Ibadah telah dimulai, puji pujian telah mulai dikumandangkan, mataku melirik ke arahnya. Bahu itu berguncang pelan dan sebutir air menggenang di sudut matanya. Aku mengarahkan pandanganku kembali ke altar.

Bahu itu terus berguncang pelan, dan tangannya terus sibuk menyeka butiran yang terus menerus bergulir bergantian di pipinya selama ibadah. Aku diam, membiarkannya berbicara sendiri dengan jiwanya.

Saat ibadah usai, hujan masih mengguyur Semarang tanpa henti, seolah langit hendak mencurahkan semua persediaan airnya. Aku menggenggam erat stang motorku dan melaju di jalanan menurun seolah  berlomba dengan aliran air. Kurasa sebutan gila memang tepat jika ditujukan padaku, karena hanya aku yang gemar menembus hujan di jalanan.

“Aku masih tak memahami bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kita…. dua orang yang tak pernah saling mengenal, yang memiliki dua masa lalu yang sangat bertolak belakang…” kata Kana dari boncengan, suaranya hilang timbul oleh hembusan angin

“Dia memang selalu memiliki semilyar cara untuk mempertemukan orang…” jawabku

“Tapi… setelah aku mengalami ini semua…?”

“Entahlah… mungkin memang begitu skenarionya…” jawabku sambil mengangkat bahu

Kami sampai di depan rumah kost-nya saat langit masih mempertontonkan adegan petir, angin dan hujan.

“Mampirlah…” Kana menawariku

“Aku sudah ditunggu … masih ada beberapa hal lain yang harus kukerjakan lagi…” jawabku

Mata itu mengerjap, bayangan kelam itu kembali mengambang di sana.

“Besok-besok aku akan datang lagi… main ke sini dan juga menjemputmu, aku adikmu yang baru…” janjiku

Mulut Kana tersenyum tipis. Aku tak pernah menemukan kelam serupa ini pada hampir semua teman yang kujumpai

“Aku…?” tanya Kana

“Ya… Mbak… hari ini memang langit gelap, kelam, tanpa cahaya, hujan angin dan badai… tapi besok matahari akan datang… masih ada hari esok saat Mbak Kana, Mas Obed dan anak-anak akan berkumpul kembali…”

Mata itu masih menatapku kelam.

“Aku…” kata Kana

“Tuhan sangat mengasihimu mbak… teramat sangat… aku tak tahu bagaimana caranya menghiburmu… tapi besok matahari pasti akan muncul … aku pulang ya… ” kataku sambil berpamitan dan memeluknya sekilas

Langit masih mempertontonkan aksi extrimnya saat aku kembali melintas di jalan pulang. Masih terbayang jelas di ingatanku percakapan kami seminggu sebelumnya di perjumpaan pertama kami.

“Aku dan suamiku Obed baru saja keluar dari sel setelah vonis pidana kasus berat selama belasan tahun… tak ada orang yang mau menerima kami walau hanya sebagai teman… Keluargaku telah tercerai berai, anak-anak… dan … ”

“Aku mau…” hanya itu jawabku

“Beserta seluruh cerita kami yang mengerikan itu?”

“Iya… Kenapa memangnya?”

Dua pasang mata itu menatapku. Aku tak tahu dan sengaja tak mencari tahu awal cerita. Terlalu muram dan kelam, aku tak akan sanggup membayangkannya walau hanya dalam mimpi.

Perjalanan ini telah kembali membawaku kembali pada petualangan jiwa berikutnya. Esok akan datang dengan seberkas sinar matahari.

Ya… esok pasti datang, dan cerita hidup ini terus bergulir lagi…

~ ie ~

Iklan

4 thoughts on “Esok

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s