Episode Es Teler

es teler

Hanya sebuah episode es teler

“Jadi… apa yang selanjutnya kita lakukan?” tanya Arie sahabatku

“Yahhh… tentukan tempat mana yang kamu nilai bagus, jenis jualan, dan sesuai yang ku janjikan, kamu bisa pakai dulu gerobakku” jawabku

“Begitu?”

“Ya!” jawabku singkat

“Kamu yakin aku bisa?”

“Yahhh… semua harus dicoba dari satu langkah sederhana. Tidak ada hal besar terlaksana tanpa satu langkah kecil”

“Hemmmm…” desahnya

“Kenapa?” tanyaku berbarengan dengan datangnya dua es teler pesanan kami

“Terkadang aku masih mengingat waktu masih di Malaysia, saat uang bukan masalah buatku. Semuanya mudah saja” kata Arie sambil mengaduk es

Aku tersenyum menatapnya. Arie sahabatku ini sedang galau menentukan bentuk usaha yang akan dijalaninya. Berjualan di depan kampus dengan meminjam gerobakku, itu opsi terakhirnya.

“Aku masih ingat waktu Lukas memperkenalkanku kepada teman-temannya seolah aku ini orang yang sangat luar biasa hebat, cerdas. Saat aku berada di tengah keluarga mereka dan melayani anak-anaknya”

Aku masih mengaduk-aduk es teler sambil mendengarkannya bercerita

“Aku, yang seorang anak desa, biasa saja, menekuni pekerjaanku sebagai penjaga wartel lalu membantu di rumah orang, lalu dibawa Lukas ke Malaysia,… meski sepertinya hanya melayani sebagai baby sitter, tetapi mereka memperlakukanku sangat istimewa”

“Keren ya… ” kataku

“Iya… keren… itulah kenapa kalau ingat, rasanya… cuma rasanya saja lho… pengen balik lagi, mengalami hal-hal bagus seperti itu. Ketika uang tak lagi masalah, tinggal di rumah bagus, semuanya mudah… tapi…” katanya menggantung cerita

“Tapi, hidup ini berubah…” timpalku

“Ya, dan tak ada yang perlu disesali…” kata Arie sambil menyeruput potongan alpukat

“Karena setiap episodenya membawa kita kepada cerita yang berbeda” kataku

“Hmmmm…” desahnya datar

Aku memperhatikan gelas es teler di hadapanku, seperti seorang cenayang yang berusaha membaca pikiran.

Potongan alpukat, kelapa muda serut, kolang kaling, agar-agar, nangka, kuahnya yang manis terasa legit di lidahku.

“Hidup ini aneh, lucu, gila, dan entah apalagi yang bisa disebut. Aku ‘kan juga tidak mendadak langsung jadi seperti ini Rie. Kamu ingat kan? Aku dulu cuma admin, penjual buku, kaset, sekretaris biasa, dan lalu…”

“Ya… aku masih ingat”

“Anehnya, setiap kali apa yang ku inginkan selalu terjadi. Yaaahhh… memang siih… aku memperlengkapi diri dengan mempelajari banyak hal… tapi mendadak di promosikan dari kantor cabang kecil ke pusat? Bertemu dengan orang-orang gede, kaya, pangkat, yang bau wanginya ga kira-kira… berkantor di lantai 23? Beeeehhh! Ga pernah aku mimpikan!”

“Dan kemudian hidup berubah…” sahut Arie

“Ya… organisasi itu pecah, ambyar sampai ke akar, aku pulang dan kembali menekuni pekerjaan sebagai kepala staf admin… tapi hidup berubah lagi…”

Arie tersenyum sambil menyeruput potongan nangka

“Ha ha ha… dan aku harus jadi menejer hotel sekarang, ga tahu lagi besok jadi apa. Aku sih pengennya punya hotel sendiri aja! Ha ha ha ha ha…” aku tertawa ngakak

“Kira-kira kemana arah hidup ini membawa ya…”

Aku mengangkat bahu sambil berkata, “Nggak tahu… bisa kemana aja… mungkin saja hidup seperti isi es teler ini ya… bermacam rasa unik yang bisa dinikmati sendiri-sendiri… tapi waktu dicampur di gelas es teler ini… rasanya mengguncangggggg dunia… ha ha ha ha…”

“Kamu itu kalau lagi lebay begini menyebalkan!” sanggah Arie sambil merengut

Matahari sudah beranjak turun waktu kami melanjutkan acara minum es teler, yah mungkin begitulah hidup. Alpukat, nangka, kolang kaling, kelapa muda serut, bisa saja dinikmati sendiri-sendiri tanpa dicampur, tapi saat semua dicampur jadi satu rasa legitnya terasa begitu melegakan.

Mungkin 60 tahun lagi di penghujung umurku,  aku baru bisa melihat keseluruhan rasa legit “es teler” hidupku, karena sekarang aku masih menikmati potongan – potongan rasa itu secara terpisah.

Itupun dengan catatan kalau umurku sampai segitu.. 🙂

~ ie ~

Iklan

4 thoughts on “Episode Es Teler

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s