Rut

Grain of Fallen Wheat2

 

Aku tak bisa memilih, aku hanya bisa mengikuti tuntunan lembut yang berbicara di sudut terdalam hatiku untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya… ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari, Ia yang melukis warna biru langit dan terang matahari akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

***

“Ayo nak… bergegaslah… kita harus segera berangkat” kata mertuaku dari balik pintu

“Baik Ibu…” jawabku

Aku menebarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan sekali lagi. Setiap kenangan indah masih tertata rapi di ujung ingatanku. Belum ada yang hilang, selain senyuman dan pelukan hangat itu.

Aku memeriksa kembali pakaian dan beberapa barang yang harus kubawa serta.

“Sudah siap Rut?” tegur Orpa mendadak

“Ya… aku siap berangkat” jawabku

“Biarlah semua kenangan indah itu tertinggal di sini adikku, semoga Tuhan memberkati perjalanan kita nanti” kata Orpa lagi

Aku menunduk

Seperti musim yang selalu berganti, mungkin seperti itulah hidup. Suka dan duka, tawa dan tangis, cinta dan kehilangan datang begitu saja menghampiri manusia.

Aku masuk ke rumah ini dengan cinta yang teramat dalam, menikahi lelaki-ku , dan menjadi bagian dari keluarga kecil dan hangat ini. Sepasang mertua yang hangat dan penuh kasih, kakak ipar dan istrinya yang sangat baik, dan pria luar biasa yang menjadi suamiku. Aku mengira dan memimpikan untuk menua bersama dengannya, hingga semua cerita menjadi seperti musim dingin yang membuat tulangku ngilu.

Mertua laki-laki meninggal, disusul oleh kedua anak lelakinya, meninggalkan kami dalam hujan air mata dan duka yang tak berujung.

Beberapa hari lalu, mertua perempuanku berkata kepada kami, “Tidak ada lagi yang bisa kita harapkan disini anak-anakku, aku hendak pulang kembali ke kampung halamanku untuk menghabiskan hari tuaku”

Saat itu aku dan Orpa hanya mampu menjawab, “Kami akan ikut serta Ibu…”

Dari balik jendela kaca angkutan, aku menengok sekali lagi ke arah gang menuju rumah yang telah memberikan sejuta kenangan cinta indah itu.

“Anakku,… seandainya terlalu berat hatimu untuk meninggalkan kota ini, biarkan saja aku pulang sendiri” bisik mertuaku

Aku memandang ke arah Naomi, mertua perempuanku. Rambutnya yang telah bersemu warna putih, keriput yang menghiasi wajahnya semakin bertambah sejak kehilangan demi kehilangan menimpanya, namun begitu matanya memancarkan kehangatan.

Aku mengarahkan pandangan ke arah Orpa, matanya terlihat ragu.

“Anakku, aku tidak keberatan jika kamu tetap tinggal. Pulanglah… Tidak ada gunanya mengikuti aku yang sudah renta ini,… bahkan sekalipun aku melahirkan anak lagi, tidak mungkin kalian menunggunya sampai dewasa…” kata Naomi sambil tersenyum

“Saya… tidak ingin disebut sebagai menantu yang tak berbakti Ibu…” jawab Orpa pelan

“Bukan salahmu anakku, perjalanan hidup yang membawa kita… pulanglah” kata Naomi lembut

Keheningan terasa semakin menggigit setelah Orpa pulang, berjuta kenangan menghujaniku tanpa belas kasihan.

“Waktu kau langkahkan kaki untuk menikahi pria itu, berarti kamu bukan bagian dari kami lagi!” kata seorang paman ketika aku mengajukan permohonan menikah dengan pria yang kucintai itu

Kamu bukan bagian kami lagi! Kamu bukan bagian kami lagi! Kamu bukan bagian kami lagi! Perkataan itu bergema kuat di telingaku, menggedor seluruh pertahananku. Aku tidak milik siapapun lagi!

“Rut anakku, ada apa denganmu? Apakah kamu juga ingin pulang?” bisik Naomi

“Tidak Ibu,… saya akan pergi kemanapun Ibu pergi…” jawabku pelan

“Nak…” katanya lagi

“Ibu, ijinkan saya mengikut Ibu kemanapun Ibu pergi… dimanapun Ibu dikuburkan, disitu pula saya… jangan paksa saya pergi Ibu… tidak akan ada yang bisa memisahkan kita selain maut…” jawabku

Tangan Naomi memelukku lembut dan hangat, tangan keriputnya menyeka air mata yang membanjir di wajahku. Aku menatap ke langit yang berwarna biru cerah dengan semburat putih di beberapa tempat.

Aku tak bisa memilih, hanya mengikuti tuntunan lembut yang berbicara di sudut terdalam hatiku untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya… ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari, Ia yang melukis warna biru langit dan terang matahari akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Aku tersenyum.

 

*dicuplik dari kisah Rut

Iklan

12 thoughts on “Rut

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s