Menunggu

156034_10204335511687440_3171496343201522188_n

 

Pelajaran yang begitu berharga itu hanya terletak pada sebuah kata, menunggu. 

 

Viani mengusap lembut kepala Thomas anaknya. Bocah kecil bermata sipit, alis tebal, rambut keriting, kulit halus dan terang ini merupakan perpaduan suku Tionghoa dan Papua. Aku tersenyum menatapnya dan berkata “Tampan sekali anakmu ini”

“Seandainya waktu bisa diputar… aku akan setia menunggu”

“Ya…” kataku masih sambil menatap takjub si kecil Thomas

“Manusia, seringkali menginginkan semua hal terjadi dengan cepat dan instant… tak terkecuali aku. Aku dan papanya Thomas telah bertunangan waktu itu, hmmm… entah kenapa kami tak sabar menunggu saat itu tiba. Kami malah memberikan pencobaan kepada diri kami sendiri. Ujung jalan yang telah terlihat malah menjadi belokan terjal, berbatu dan gelap” cerita Viani sambil matanya menerawang

“Menunggu kadang menjadi bagian tersulit yang harus dilewati” kataku

“Ya, dan aku berharap itu tidak pernah terjadi pada siapapun lagi. Siapa yang bisa membayangkan melangsungkan ‘perjamuan nikah’ dan ‘janji suci’ dengan satu tangan menggendong Thomas. Aku sendiri tak pernah memimpikannya. Kami terjatuh dalam, dan jika mampu bangkit mungkin itu semata-mata karena anugerah” kata Viani sambil tersenyum

“Ya. Ini tentang kesabaran menunggu” kataku

“Ya. Tentang kesabaran menunggu waktu…” kata Viani lagi

Masih jelas di ingatanku saat melihatnya mengucapkan janji nikah dengan pria yang teramat dicintainya itu sambil menggendong anaknya. Tenggorokanku tercekat, kelu, dan mataku kabur.

Pelajaran yang begitu berharga itu hanya terletak pada sebuah kata, menunggu.

~ ie ~

 

Iklan

8 thoughts on “Menunggu

    • reff.
      rasa sesal di dasar hati diam tak mau pergi
      haruskah aku lari dari kenyataan ini
      pernah kumencoba tuk sembunyi
      namun senyummu tetap mengikuti

      he he…
      ada teman yang suka mancing keinginan menulis pake gambar nih akhir akhir ini mas octa…
      jadi pengen nulis mulu

      *ga nyambung ya biarin :p

  1. Btw, Ie, aku kok nggak menemukan rincian meyakinkan perihal si bocah yang dikatakan perpaduan Papua dan Tionghoa. Ciri-ciri fisik ‘bermata besar, alis tebal, rambut keriting’ rasanya lebih mungkin ditemukan pada orang Papua. Seandainya digabungkan ciri eksotik dua etnis ini menjadi : bermata sipit, kulit gelap, dan rambut keriting, rasanya lebih pas. 🙂

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s