Puisi

1609722_10204348616855061_4395170917066761457_n

Aku memperhatikan lagi secarik kertas yang ditinggalkan seorang pria tua beberapa menit lalu. Permintaan puisi untuk ulang tahun pernikahan ke 25, pria itu meminta sebuah puisi yang akan diselipkannya diantara beberapa batang bunga.

Seindah mungkin, hanya itu permintaannya.

Aku sudah mendapatkan beberapa kalimat ketika sepasang kaki gagah berhenti di depanku, menengadah sekilas, kutarik mulutku untuk tersenyum.

“Puisi untuk wanitamu lagi?” tanyaku

“Tentu! Hari ini aku ingin puisi spesial yang bisa kubacakan untuknya sambil memandang bulan” kata pria itu sambil tersenyum manis

“Bagian mana yang kali ini ingin kau puja darinya?”

“Matanya indah, tolong buatkan ya… nanti sore kuambil setelah pulang kerja” katanya sambil menulis diatas secarik kertas yang kusediakan

“Baiklah…” jawabku singkat

Pria itu namanya Sam, hanya itu yang kutahu. Dia sudah sekitar 15 kali datang padaku meminta dibuatkan puisi. Tidak setiap hari, namun setiap kali dia meminta puisi indah untuk wanitanya.

Aku mulai mengetik, tercenung, menyusun kata demi kata sambil memperhatikan kaki-kaki yang lewat di depanku.

“Pekerjaan seperti ini bisa membuat matamu mirip intel” kata Joko temanku seorang intel suatu kali

“Bah! Intel dari Hongkong?” sergahku sambil mencibir

“Bukan dari Hongkong, tapi dari Macau… ha ha ha ha…” kata Joko sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara

Huh! Dengusku kesal.

“Dengan termenung di sini, memperhatikan orang lewat, membuat puisi, kau pasti bisa menghapal kapan pria berbadan besar, berkulit sedikit terang, menenteng tas kulis warna coklat lewat, lalu wanita itu yang rambutnya rebonding, pantat semok, dada montok dengan cara jalan membusung, lalu nenek tua yang jaketnya kusam tak pernah ganti itu, lalu ….” kata Joko nyerocos sambil memperhatikan orang-orang yang lewat di depan kami

“Heeeeee…. kamu merusak konsentrasiku!” biasanya aku marah padanya dengan kata itu. Aku selalu heran dengan rentetan kata yang selalu muncul dari mulutnya seperti kran air bocor. Kalau saja dia bukan temanku sejak remaja, aku sudah pasti melemparnya dengan sepatu.

Joko biasanya hanya nyengir jelek sambil memainkan bungkus rokoknya. Tapi kali ini dia sedang tidak ada di dekatku, mungkin bertugas entah di ujung kota sebelah mana.

Aku mulai lagi mengetik, menyusun kata demi kata pesanan Sam.

Apa yang bisa kubayangkan tentang puisi ini? Sam merayu wanitanya dengan menggenggam tangan wanita itu? Seberapa cantik dia sehingga Sam mengaguminya? Apa yang menarik darinya? Matanya? Apakah matanya besar berbinar-binar? Bagaimana senyumnya?

Ah… aku menggeleng-gelengkan kepala, dan mulai mengetik.

Binar matamu tak tergantikan bahkan oleh rembulan

***

Aku melangkahkan kaki ke bangku taman, tidak ada yang lebih menarik di kota ini selain memperhatikan lampu kota dari kejauhan, dan membiarkan angin malam menyusup di pori-pori.

“Jangan kau berikan uangmu pada mereka dengan cuma-cuma, rumah mereka jauh lebih bagus dari kita” kata Joko dari sampingku sambil menunjuk anak-anak pengemis

“Kita? Tepatnya kau!” jawabku

Mahluk menyebalkan ini mendadak muncul dengan cengiran jeleknya di dekat lampu merah saat aku menyeberang jalan. Saat kutanya tujuannya keluyuran di taman malam-malam, dia hanya beralasan menjalankan tugas.

Jadi kubiarkan saja dia berjalan di sampingku, sambil terus bicara hal-hal konyol yang malas kuperdebatkan

Aku menghentikan langkahku saat melihat kerumunan di depanku, beberapa anak kecil tampak menatap takjub kepada seorang pria bertubuh tinggi tegap yang membelakangiku.

Binar matamu tak tergantikan bahkan oleh rembulan

Aku mendengar sebaris kalimat dibacakan.

Pria itu membungkukkan badan disambut tepukan tangan, seorang anak dituntun maju mendekati dan memeluk kakinya, kurasa buta.

Aku mendadak merasa membeku dan kelu.

~ ~ ~ 000 ~ ~ ~

Iklan

4 thoughts on “Puisi

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s