Sepatu Ibu

aa2e95f659cd4741c7fb5bf2efa6b846

 

Aku sedang serius mendengarkan kotbah di gereja saat ulah seorang gadis kecil di sudut ruangan mencuri perhatianku.

Olin, anak berusia sekitar 5 tahun tampak berusaha berdiri sambil memakai sepatu ibunya.

Mencoba dewasa, bermimpi untuk secepatnya dewasa dan memakai atribut orang dewasa, ah! Β Aku tersenyum.

Suara Pendeta di mimbar mendadak memudar, ketika aku merasa mendengar suara dan bayangan melintas dengan cepat.

“Sebenarnya aku punya biaya untuk memasang kawat pada gigimu, tapi …” kata Nenek

“Jumlahnya pasti besar sekali…” potongku cepat saat melihat mata Nenekku yang menerawang

“Ya… separo hasil tani kita…” jawab Nenek sambil tangannya terus menguleg cabe, terasi, dan garam

“Kalau gitu gigiku tak usah dikawat” kataku cepat

“Tapi nanti kamu akan terus ditertawakan teman-temanmu… karena gigi yang gingsul dan sedikit maju itu”

“Tidak apa-apa…” kataku sambil menatap ujung rok ku. Aku membayangkan susah payah Nenek menghitung uang yang tak seberapa itu, kalau harus dikurangi lagi… apa aku harus makan nasi campur garam?

“Pikirkan dulu baik-baik sebelum memutuskan, karena apapun yang kamu putuskan hari ini tidak boleh kamu sesali di masa depan, itu namanya belajar menjadi dewasa”

“Ya Nek…”

Rasanya itu yang menjadi keputusan pertamaku. Setelahnya, aku hanya bisa tersenyum kecut ketika teman-teman SD ku memanggilku gingsul, atau bahkan monyong.

Aku menghela nafas panjang, melirik sekilas usaha Olin yang masih mencoba sepatu Ibunya, dan kembali mengarahkan perhatianku ke arah mimbar. Uh!!

“Budhe-budhemu tak setuju kalau aku membiayai kuliahmu, mereka menuntut hal yang sama pada anak-anak mereka kalau hal itu terjadi” kata Nenekku

Aku hanya tertunduk kelu “Ya tak apa Nek, SMA saja sudah cukup”

“Tak kau sesali keputusanmu itu nanti?” tanya Nenek lagi

Aku mengangguk. Setelahnya, keputusan demi keputusan mengikuti setiap langkahku menjadi dewasa, kuat, dan mandiri.

Aku kembali menghela nafas panjang. Suara Pendeta di mimbar kembali terdengar jelas saat aku berusaha berkonsentrasi.

Olin mencoba melangkahkan kaki dengan memakai sepatu ibunya.

Aku tersenyum.

Butuh proses yang panjang untuk menjadi dewasa nak… tidak semudah kau mencoba sepatu ibumu,Β gumamku dalam hati

***

Keterangan Gambar : PinterestΒ 

Iklan

12 thoughts on “Sepatu Ibu

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s