Satu Langkah Kecilku

Silhouette of young woman

Aku berjalan mengitari beberapa meja yang telah tertata rapi, menarik sedikit taplak, memastikan jumlah kue, permen dan air minum kemasan tersedia tepat.

“Bagaimana? Siap memberikan sepatah dua patah kata sambutan Ibu Ketua?” tanya Riska

Aku mencoba tersenyum untuk meredakan debar jantungku.

“Ngomong apa ya… ”

“Idih! Bukannya menjawab malah balik bertanya, ya sampaikan aja mimpi-mimpi kamu kepada para tamu yang datang…” kata Riska lagi

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum.

Ruangan masih sepi, baru ada beberapa orang yang datang untuk mempersiapkan acara. Di ujung kiri Ira nampak masih menata beberapa meja, Yessi menarik beberapa kursi supaya nyaman diduduki nantinya, Susi terlihat memandangi lembaran daftar tamu dengan serius.

Ini acara ke dua komunitas perempuan buatanku. Beberapa bulan lalu kami mengadakan gathering kecil dengan thema “Bebas Sepenuhnya” untuk para wanita yang mengalami trauma dalam hidupnya, sedangkan kali ini “Beauty Class”

Aku tertawa lepas sewaktu beberapa orang mempertanyakan ide kedua ini. Boro-boro ‘dandan’, aku ini masih lebih nyaman dengan wajah polos, rambut terurai, celana jeans buluk dan shaddle shoe.

“Cara termudah mengawali suatu komunitas adalah mempelajari kesenangan dari kebanyakan orang dan membuatkan mereka acara” jawabku

“Setelahnya?” cecar Siska

“Setelahnya, kita akan mempelajari arah jatuhnya daun dan bisikan angin. Tak usah berpikir terlalu jauh. Ada banyak hal dari perempuan yang bisa dikembangkan. Komunitas-komunitas perempuan yang ada selama ini hanya menyasar kalangan atas, atau kalangan yang terlampau rendah, sedangkan kalangan berpendidikan rendah dan rata-rata tak tersentuh. Siapa yang akan berbagi mimpi kepada para wanita dengan profesi admin, SPG, dan selevel itu?”

Siska, Endy, Aden, Susi  menatapku dengan pandangan tak mengerti.

“Tak usah bingung seperti itulah… ini sederhana sekali kok! Begini… diakui atau tidak wanita rata-rata ini jarang sekali yang mendapatkan pengetahuan, wawasan, apalagi ditambah dengan kurangnya minat baca mereka. Siapa yang mau berbagi tentang bagaimana mengatur keuangan, berhadapan dengan kasus hukum jika terjadi KDRT, kesehatan wanita, cancer, dan lain-lain…”

“Ooooo…” sahut mereka berbarengan

“Ha ha ha… jadi, mumpung kita ini masih muda, marilah berbagi dengan teman-teman yang lain. Setiap acara sharing yang akan kita buat bisa berguna untuk kita sendiri dan juga orang lain. Percayalah padaku, upahnya akan diberikan pada kita suatu saat nanti. Bagaimana? Kalian mau berjalan bersamaku” jelasku lagi

Kursi-kursi telah penuh, dan dua orang MC telah mulai berbicara sambil tertawa.

Jantungku terasa berdebar makin keras. Aku harus keluar dari diriku.

“Kamu type introvert, socially selective, imajinasimu sulit berkembang, paling hanya sanggup meniru apa yang orang lain lakukan. Berita buruknya untuk orang sepertimu adalah, kamu tidak akan pernah menjadi siapapun kecuali sebatas wanita biasa dan rata-rata” kata seseorang setelah selesai melakukan psikotest padaku tujuh tahun lalu. Matanya terasa menelanjangi seluruh keberadaanku

“Lalu?” aku menatapnya bingung

“Hanya kamu yang bisa mengalahkan dirimu sendiri” jawabnya sambil menepuk punggungku sebelum berlalu

Setelahnya, aku melakukan test pada diriku sendiri setiap waktu. Tangan yang gemetar, dan mulut yang tergagap bahkan terhenti saat mencoba berbicara mengikuti langkahku. Aku ‘menimbun’ diriku dengan buku pengembangan diri, psikologi, motivasi, dan kisah-kisah nyata keberhasilan orang lain. Merubah diri sendiri seperti mimpi mendaki gunung atau menyelam laut dalam, terlampau tinggi atau dalam untuk kugapai.

“Hanya kamu yang bisa mematahkan kutukan perkataan orang-orang kampung nenekmu kalau kamu itu bodoh, jelek, tidak berpendidikan, dan hanya akan berakhir jadi babu” kata Ibuku setiap waktu. Dan lagi-lagi buku adalah satu-satunya tempat aku bertanya tanpa malu, berkaca tanpa takut ditertawakan dan menara yang kokoh untukku membina diri.

“Mari saya persilahkan seseorang yang telah kita kenal baik untuk berbagi mimpi dengan kita…” Riska sang MC memanggilku untuk maju ke depan

Aku menatap seluruh ruangan, membiarkan semua mata memperhatikanku. Aku tersenyum dan mulai bicara.

Aku melakukan satu langkah kecil lagi untuk keluar dari diriku.

10660219_10204652700742555_8698864625016756261_n

 

Perjalanan 1 juta kilometer dimulai dengan mengambil langkah pertama. Selama kamu tetap melangkah maka kamu adalah pemenang ~ Samuel Franklyn

~~~ 000 ~~~

Iklan

8 thoughts on “Satu Langkah Kecilku

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s