Hijau Tosca

6780420d070712478c028cf5246e471a

Aku menarik satu kaos dari lemariku, langsung mengenakannya begitu saja, menyambar tas, mengacak sedikit rambut dan langsung keluar rumah menemui Ria yang sudah menunggu.

“Hmmm… kaos itu lagi… warna hitam lagi…” celetuk Ria

Aku mengangkat bahu sambil menjawab, “Yuk ah berangkat…”

“Kamu itu memangnya tak punya kaos warna lain lagi yang lebih terang selain hitam, biru tua dan coklat tua?” tanya Ria dari belakangku

“Hmmmm….”

“Hei! Aku tanya beneran ini! Kaosmu memangnya cuma itu – itu aja warnanya?” lanjut Ria sambil memukul punggunggku dari belakang

“Belikan to…” jawabku acuh sambil terus memandang ke depan. Naik motor berboncengan dengan Ria itu sama artinya bicara terus sepanjang jalan.

“Kamu itu mbok iya tambahin warna baru pada koleksi bajumu gitu lah… hijau tosca, orange, pink, biru muda… atau apalah yang lebih cerah”

“Hmmm…”

“Hammm… hemmm… hammmm … hemmm… seperti ga punya jawaban lain saja kamu ini” gerutu Ria

“Kamu cerewet kayak nenek-nenek…” jawabku singkat

“Eh! Malah ngatain kayak nenek-nenek! Kayaknya dulu banget aku pernah lihat kamu pakai baju berwarna terang deh!”

“Ha ha ha ha ha ha….” aku tertawa ngakak

“Malah tertawa! Bener kan? Kamu pernah memakai baju berwarna terang kan? Kalau nggak salah itu beberapa tahun lalu, iya kan?” desak Ria

Ria dan aku memang baru dekat lagi akhir-akhir ini saja. Persahabatan yang aneh, karena kami dua kepribadian yang sangat bertolak belakang. Ria sangat cerewet, paling tidak menurutku. Suka berdandan, centil, dan ributnya bisa mengalahkan sekumpulan pedagang pasar.

“Ada ceritanya tentang warna –  warna itu” kataku membuka pembicaraan saat kami sudah duduk di bawah pohon suatu milk factory

“Oya? Cerita dong” jawab Ria antusias

“Dulu sekali aku menyukai warna – warna terang, indah, lembut, dan bukannya gelap seperti sekarang, hingga suatu hari…”

Aku melemparkan pandangan ke arah hamparan sawah yang menghijau di depan kami, aliran air yang gemericik, dan merasakan tiupan lembut angin.

“Maafkan untuk semua yang kulakukan” 

Aku masih mengingat tatapan mata itu meskipun telah lewat beberapa tahun.

Maaf untuk apa? Karena kau telah untuk menyentuh tanganku? Untuk tatapan lembutmu yang melenakan? Untuk setiap perkataan manis yang selalu mampu menenangkanku? Untuk setiap desah nafas lembutmu yang bertiup di ujung telinga? Bukankah aku dan kamu saling menyukai? Katakan padaku… kau minta maaf untuk apa?

“Kita tak bisa seperti ini terus, setelah ini kita hanya akan menjadi teman biasa” katanya lagi

Teman biasa? Sentuhan kemarin itu bagaimana? Apakah ini karena ibumu yang memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki? Bagaimana bentuk hubungan kita setelah ini? Apakah aku masih bisa memandangmu? Apakah aku masih bisa menemuimu?

Mata ibunya yang tajam menatapku saat membawakan secangkir teh dan rengginang, masih membuatku menggigil hingga saat ini. Aku sungguh tak tahu arti tatapan dan sedikit tarikan di sudut bibirnya itu.

“Aku pergi dulu Kirana, aku minta maaf untuk semua yang kulakukan”

Kubiarkan punggungnya perlahan menjauh, tak ada satupun pertanyaanku yang terjawab. Setelahnya aku mengganti semua baju warna cerah itu dengan warna yang lebih gelap, melatih diriku sekeras mungkin untuk tak tertandingi.

“Begitukah ceritanya?” tanya Ria

Aku mengangguk sambil mengacak rambut sebahuku, “Ya dan keterusan… ha ha ha ha… konyol ya! Padahal sudah berapa tahun coba…”

“Sudah saatnya melepaskan warna gelap itu dan menggantinya dengan warna cerah, karena dunia ini menawarkan begitu banyak pilihan warna” kata Ria lagi

“Tumben bijak!” jawabku singkat

“Sialan kau!” maki Ria sambil meninju pundakku

Aku melemparkan pandanganku ke arah gunung, hamparan sawah dan kebun bunga yang tertata rapi, mungkin memang saatnya mengganti warna.

*

Aku menarik satu dress dari lemariku, langsung mengenakannya begitu saja, menyambar tas, mengacak sedikit rambut.

“Hijau tosca… cantik! Aku suka lho melihatmu mulai berwarna” komentar Ria begitu melihatku

Ganti aku yang meninju lengannya sambil tertawa, “Yuk ah!”

***

Keterangan Gambar : Pinterest 

Iklan

8 thoughts on “Hijau Tosca

  1. akhirnya bisa ceria kembali.

    BTW di kalimat ini ada yang kurang ya mbak?

    Maaf untuk apa? Karena kau telah untuk menyentuh tanganku? Untuk tatapan lembut yang melenakan? Untuk setiap perkataan manis yang selalu mampu menenangkanku? Maaf untuk apa?

    • clue’ nya di sini..

      “Apakah ini karena ibumu yang memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki?”

      cuma masih bingung memperpanjang ceritanya 😀

      *mohon saran suhu :p

  2. kalo aku sih udah jelas. seorang ibu memandang pacar anaknya dari atas sampai bawah itu artinya menilai. dan konotasinya nyaris selalu : tidak suka. mungkin bisa ditambahkan penjelasan semisal saat menerima pemuda itu di rumahnya, si anak gadis disuruh bikin minuman, dan saat itu lah si ibu mengatakan sesuatu pada di pemuda, perkataan yang menyakitkan hati. saran aja sih.. 🙂

    ceritamu melegakan, Ie. mengalir dengan lancar. enak dinikmati meski tanpa twist mengejutkan. 🙂

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s