Jas Warna Khaki

16d583cb9e48c4898b3211518270f8c9

Aku melirik tembok sebelah, satu poster acara nampak terlihat jelas mata siapapun yang mampir di warung soto Mbok Yem ini.

“Masih saja ada yang senang dengan acara begituan…” kata Dimas dengan suara hampir tidak terdengar

“Mungkin hanya kita berdua saja yang telah membeku…” kataku

“Aku tak akan mau lagi berurusan dengan segala macam rohaniwan dan acara-acara rohani lagi… tidak!”

Aku menghela nafas panjang, pengalaman memang terkadang lebih kuat dibandingkan apapun juga.

**

Acara konser musik rohani sudah selesai dari beberapa menit lalu, mungkin tepatnya setengah jam lewat. Ruangan telah mulai kosong, beberapa petugas sound system mulai menggulung kabel, cleaning service mulai mengayunkan sapu, beberapa orang lagi melipat kursi, mematikan lampu-lampu besar, menarik beberapa pernik dekorasi, kesibukan yang sangat biasa.

Aku berjalan menuju deretan kursi paling depan untuk memeriksa kalau kalau ada barang milik pembicara, pengkotbah, atau penyanyi yang tertinggal.

Kutemukan satu jas warna khaki yang tersampir begitu saja di punggung kursi. Aku menghela nafas panjang, Mr. Hendra pasti melupakannya begitu saja. 

“Hei Kirana! Periksa baik-baik itu deretan depan ya… siapa tahu ada barang tertinggal” teriak  Edwin dari belakang

“Iyoooooooooo….” teriakanku menggema di seluruh ruangan yang telah kosong itu, sehingga membuat beberapa orang menengok ke arahku

Bekerja menjadi asisten pribadi seorang pembicara rohani yang sedang naik daun seperti ini gampang-gampang susah. Memegang rundown acara saja tidak cukup, setelahnya pun aku harus mendisiplinkan diri untuk chek dan rechek barang-barang orang penting itu.

Kirana, tolong bawakan jas-ku,… tolong bawakan minum…, tolong jangan lupa ini itu… dimana laptopku, dimana tasku, minta soundman sediakan mic khusus dan banyak lagi. Saking banyaknya barang yang kadang harus kubawa membuatku seperti lemari berjalan, begitu kata Budi seorang soundman

“Gimana jalannya acara tadi menurutmu?” tanya Eri seorang petugas Event Organizer yang mendadak sudah di dekatku

“Yah… biasa saja sih,.. lagu puji-pujian, kotbah, semuanya lancar manunggal” jawabku enteng

“Lancar manunggal, kamu kira nama bis!” sergah Eri

“Orang yang di panggung itu keren-keren ya, mereka itu diberikan talenta hebat, berkat luar biasa sehingga bisa seperti bersentuhan dengan Tuhan”

“Maksudmu?” aku memandang Eri dengan bingung

“Ya begitu, melihat mereka menyanyi lalu ditambah berkotbah, dan berada di acara seperti ini kok kayaknya bikin aku merinding-merinding gimana gitu” jelas Eri lagi

“Bah! Kau ini terlalu lebay! Bersentuhan dengan Tuhan itu nggak usah pakai acara merinding-merindinglah, dan nggak pula harus di acara seperti ini, di kamar malahan lebih khusuk! Tuhan ‘kan bisa ditemui dimanapun” jawabku

“Ah enggaklah, menurutku mereka itu pasti kastanya lebih tinggi dari kita, lebih suci, lebih dekat dengan Tuhan”

“Kasta gundulmu! Di hadapan Tuhan mana ada kasta-kasta’an… semuanya sama, karena Tuhan melihat kedalaman hati! Nggak lihat dari depannya kayak kamu begini. Hih! Eh, si Dimas kemana ya” aku mulai gemas pada Eri dan mencoba mengalihkan pembicaraan

“Nggak tahu, mungkin lagi di ruang ganti artis membantu para orang penting” jawab Eri

Aku meninggalkan Eri begitu saja sambil mendengus kesal. Orang seperti dia inilah yang paling banyak kutemui di acara seperti ini, mengagungkan seorang yang terlihat rohani, yang dari mulutnya selalu berhamburan ayat-ayat Alkitab, dan setiap kalimat yang diucapkannya selalu ada kata “Puji Tuhan”.

Jangan terlalu sinis begitu… tidak baik, mereka orang yang dekat dengan Tuhan Kirana, bukan seperti kita ini yang berdoa saja masih kadang kadang,  itu yang selalu diucapkan Dimas padaku

Tetapi kata-kata yang berhamburan dan sikap terhormat itu cuma palsu Dim, kau lihat betapa sewotnya mereka kalau barang kecil mereka tertinggal kan? Bagaimana mata mereka memandang kita yang cuma asisten ini? Bagaimana mereka bersikap di balik layar, di dalam mobil saat tak ada seorangpun yang tahu, begitu kilahku biasanya

Kami, aku dan Dimas adalah asisten pembicara rohani. Dimas lebih cenderung menangani barang-barang sedangkan aku berkutat dengan jadwal, susunan acara, mengingatkan thema acara semacam itulah. Kesibukan kami biasanya terjadi jauh sebelum acara mulai, dan setelahnya. Sedangkan saat acara berlangsung, dan tugas kami telah diambil alih oleh petugas event organizer, yang terjadi seringkali kami malah menghabiskan waktu duduk duduk diatas box soundsystem sambil makan keripik.

Aku berpapasan dengan para penyanyi latar yang menyapaku,  “Hei… yuk pulang… kalau cari pembicaramu tuh ada di dalam sama asistennya”

“Yak!” jawabku sambil melambaikan tangan

Ruang ganti terlihat tertutup, sebenarnya bukan ruang ganti tetapi VIP room. Aku dan Dimas tidak pernah berada di VIP room untuk waktu yang lama karena obrolan orang-orang penting di dalamnya seringkali tak kuketahui artinya.

Tanganku masih menenteng jas warna khaki milik pembicara itu, Mr. Hendra. Seorang pria pembicara rohani yang selalu terlihat rapi, ganteng, tinggi, dengan kata-kata surgawi di mulutnya.

Hati kamu itu harus selalu tersambung di hadapan Tuhan dengan pujian,.. tidak bisa seenaknya saja memaki orang, harus memberkati… banyak berdoa,  bla bla bla…, selalu itu yang biasa dinasehatkannya padaku

Dan aku hanya mengangguk.

Tanganku baru saja terulur untuk mengetuk pintu ketika seraut wajah Dimas yang terlihat marah muncul di baliknya

“Kirana ayo pulang! Kita tinggalkan dia! Bangsat!” Dimas meraih tanganku dengan kasar

Aku kaget, diam, dan tidak bergerak, mataku terarah ke seraut wajah yang melintas di dalam ruangan sambil tersenyum aneh.

“Dia baru saja merayuku untuk meladeninya! Sialan!” tarikan tangan Dimas sedetik menyadarkanku

Aku berjalan cepat mengikuti langkah kaki Dimas yang masih menarikku, dan secepatnya memasuki pintu lift.

“Kau lihat tadi penampilan Pak Hendra itu, luar biasa ya… sungguh memberkati, aku merasa tersentuh sekali… dia pasti menghabiskan banyak waktu dengan Tuhan sehingga mendengar suaranya pun membuatku menangis” kata seorang gadis pada beberapa temannya di lift

Tangan Dimas yang masih mencengkeram telapak tanganku terasa bergetar. Jas warna khaki yang masih terbawa olehku terjatuh begitu saja.

***

  Keterangan Gambar : Pinterest 

Iklan

13 thoughts on “Jas Warna Khaki

  1. Pernah mengalami kejadian seperti ini. Sampai uang bayarannya aku lempar di depannya. “Silakan pergi. Seperti anda lihat, anda tetap dibayar sesuai perjanjian. Saya ingin mengundang corong Tuhan, bukan corong iblis.”

    • 😦 hmm… sering memang kejadian seperti itu. saya juga beberapa kali mengalaminya. dan ini salah satunya, hanya karena tak mungkin diceritakan gelondongan begitu saja, maka disusun jadi cerpen…

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s