Balon

balon

Aku menggenggam balon di tanganku, jika tak mengingat umur pasti kunyanyikan Merah kuning hijau di langit yang biru… 

Wanita, balon dan pantai… sepertinya paduan yang pas untuk siang menjelang sore yang indah, jika ada yang memotretku  saat ini pasti akan sesuai dengan gambaran wanita jatuh cinta.

Aku tersenyum kecil.

Sejenak aku berhenti, dan untuk kesekian kalinya mengusap layar telepon pintar, memandangnya. Tidak ada pemberitahuan baru di pesannya. Aku menghela nafas panjang, dan membuang lagi pandangan ke laut lepas.

 

Kamu akan menjadi wanita terakhirku

Kamu orang yang paling kupercaya

Kemana lagi aku bisa berlabuh jika bukan padamu

 

Wanita memang mahluk bodoh! Se-logis nya perempuan tetap saja bisa terinfeksi perasaannya, apalagi jika diperhadapkan dengan seorang pria, dengusku kesal!

 

Aku senang jika kamu mengirimkan padaku cerita-cerita serumu

Hai… bagaimana kabarmu

Aku kangen suaramu

 

Aku menepiskan tangan ke udara, seolah semua kenangan perkataan itu serupa gelembung tulisan di komik-komik

 

Kamu wanita hebat, kuat dan pelintas badai

Kamu pasti akan menjadi orang luar biasa

Aku bangga padamu

 

Aku melirik kerikil yang berserakan di sekelilingku, mengambilnya sebutir dan melemparkannya ke laut.

 

Aku sangat sibuk Kirana… maaf tak sempat menghubungimu

Jadwalku padat sekali sekarang, tak ada waktu barang semenitpun untuk bersantai

Dua minggu ke depan ini waktu akhir, tunggu setelah itu ya

 

Aku menggeleng-gelengkan kepala, salahkah karena seorang wanita begitu mudah percaya? Karena begitu sayang? Mungkin juga, pikirku. Tapi waktu terus berlanjut, malam demi malam yang biasanya kita habiskan dengan berbagi kisah, menjadi hitungan hari, dan begitu mudah ditebak akhirnya menjadi hitungan minggu dan bulan.

 

Suatu saat aku pasti datang

Aku pasti pulang padamu

 

Tapi kapan? Semua kata ‘suatu saat’ itu mempunyai waktu, gumamku. Setahun, dua tahun, tiga tahun, katakan padaku berapa lama.

 

Lelaki itu dipercaya karena perkataan dan janjinya, kata Bang Hamid sahabat baikku. Jangan biarkan kamu menunggu lama tanpa kepastian. Aku hanya mengangguk lesu, mengiyakan.

 

Pesanku hanya dibaca

Pesanku hanya diterima tanpa balasan

Pesanku hanya ku ketik tanpa pernah kukirimkan

Pesanku hanya terhenti di udara, akhirnya begitu.

Jenuh pada penantian itu mencapai batasnya.

 

Mengakhirinya mungkin hal terbaik untukmu dan untukku, tanpa kata perpisahan satu kalimatpun.

Aku memandang langit yang mulai berubah warna di ujung barat, senja telah tiba. Menengadahkan wajah, menghela nafas panjang, menatap warna warni balon di tanganku yang indahnya serupa janjimu, dan melepasnya ke udara.

“Untuk akhir dari tahun tahun penantian tak berujung! Pergilah!” seruku

 

***

   Keterangan Gambar : Pinterest 

Iklan

9 thoughts on “Balon

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s