Pernikahan

wedding silhoette

 

Datang dengan Kris ya… maaf aku nggak sempet kirim undangan, datang aja langsung, temui penerima tamu dan sebutkan namamu… pasti kamu diijinkan masuk, jangan lupa sore ini!Β pesan singkat Andri

Ok, jawabku singkat

Kami memasuki ruangan dengan takjub, bunga bunga tertata rapi di kiri kanan jalan masuk yang beralas karpet merah. Panggung berhias megah, penyanyi, deretan makanan yang siap disantap, keluarga pengantin yang berbalut kebaya dengan warna sama, sungguh pesta pernikahan yang sempurna.

“Keren ya” komentarku sambil menengok ke arah Kris yang dijawabnya dengan anggukan.

“Hei… kamu kakak perempuannya Rena bukan?” tiba-tiba satu jari wanita terasa mencolek bahuku

“Eh,…” jawabku menoleh sambil kaget

“Dengan siapa?” tanya seorang ibu di sebelahnya

“Ehmm… dengan teman…” jawabku

“Teman atau teman atau teman?” tanya wanita muda itu

“Teman! Iya kan Kris?”

“Ya teman!” angguk Kris mantap

Glek. Aku menelan ludah, belum lagi mampu kuingat nama dua orang wajah di depanku ini, masih pula diberondong pertanyaan tentang teman.

“Halaaah….” kata dua orang di depanku bersamaan

Uh! Aku keki. Tidak mungkin kukatakan pada orang yang tak kukenal ini kalau Kris sudah bertunangan dan menikah beberapa bulan lagi. Kami berdua benar-benar teman yang harus menghadiri undangan ini saja.

“Kamu teman siapa? Mempelai pria atau wanita?” tanya satu diantara mereka

“Pria” jawabku ringan

“Teman apa?” tanya satunya lagi

Aku menengok ke arah Kris dan menjawab, “Eh… teman main…”

“Teman main?”

Jujur saja. Jika tidak berada di suasana pesta yang terasa hangat dan indah, rasanya aku sudah hampir melempar sepatu hak tinggi ke wajahnya. Aku tidak suka diberondong pertanyaan seperti ini, membuat keki, dan menyebalkan.

“Ya teman main, memang tante datang untuk siapa?” tanyaku memberanikan diri

“O… saya datang karena pengantin pria ini anaknya teman saya”

“O….”

Percaya atau tidak, setelah menegurku dua wanita itu ngeloyor begitu saja. Ya, begitu saja! Bah!

“Siapa mereka?” tanya Kris

“Kurasa teman ibuku atau teman adikku” jawab

“Kau tak tahu mereka?”

“Nggak! Atau tepatnya lupa! Ha ha ha…” jawabku sambil nyengir

Kami masih berdiri di antrian tamu yang mengular untuk bersalaman, mataku menatap kedua mempelai yang tertawa gembira.

Aku memandang takjub kepada mempelai wanita yang berdandan sangat cantik itu, waw!

“Wahhhh… selamat ya… keren sekali lho kamu…” jabatku hangat

“Terima kasih mbak” jawab mempelai wanita dengan senyum lebar

“Hei Ndri… selamat ya… jangan pernah sakiti dia” bisikku ke Andri yang terlihat sangat tampan

“Tentu saja… Pasti… ” Andri mengangguk mantap

Aku tersenyum, mataku terasa berkabut.

Kris menyentuh lenganku pelan, “Yuk makan”

Aku tersenyum lagi.

“Semoga mereka berbahagia selamanya…” kata Kris sambil mengambil mangkok sup

“Ya… ” jawabku pelan

Dari jauh kupandangi kedua mempelai yang masih menebar senyum bahagia, samar ingatanku kembali pada bisikan lirih Andri beberapa tahun lalu, “Aku gay… maafkan aku…”

***

*gambar : Pinterest

Iklan

20 thoughts on “Pernikahan

  1. kalo cowok penyuka sesamanya disebut gay, kalo perempuan disebut lesbian… jadi tokoh aku itu saya tangkapnya sebagai cowok… πŸ™‚

    • justru karena si aku cewek makanya “andri” minta maaf. Sudah ada petunjuk sih sebenarnya kalau “si aku” ini cewek di beberapa kata. Misalnya waktu disapa 2 orang perempuan itu…

      he he he… lagi belajar terus nih…
      makasih ya garfield

      πŸ˜€

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s