Senyum yang sama

laugh

 

Mataku melirik ke arahnya, gaya tertawa, rambut acak, semuanya masih sama seperti beberapa tahun lalu.

“Ayo makan ndri… ” katanya padaku sambil tersenyum

“Kalian cuma pesan itu?” tanyaku

“Iya! Si Kris nih parah… sukanya tulang ikan, cah kangkung, tempe… udah itu aja. Selera ndeso…” jawabnya

Kris menatap ke arahku dengan tersenyum dan berkata, “Biasa prihatin soalnya mas…”

Aku hanya menjawabnya dengan senyuman, dan melanjutkan makanku. Kedai gulai ikan cukup ramai siang ini, entah apa yang mendorongku untuk memasukinya tadi, sehingga bertemu mereka.

“Rame kerjaanmu Ndri…?” tanya Esty

“Ya begitulah… tapi ya kelilingan begitu…” jawabku

“Anak-anakmu sehat?” tanya Esty lagi

“Ya… Edo sudah kelas 3 SD, sedang Dita kelas 1” jawabku

“Wah… cepat sekali ya… tiba-tiba sudah gede”

Aku mengangguk dan melirik lagi ke arah Esty dan Kris, kurasa mereka sudah berteman dalam waktu yang cukup lama, kenapa tak menikah saja?  Ups! Apa yang kupikirkan ini!? Dasar ngaco!

“Istrimu masih membuat kue-kue pesanan?” tanya Esty memecah kesunyian kami

“Ehmmm… nggak! Nggak sempat lagi… anak-anak sedang butuh perhatian nih… dia membuat kue hanya untuk kami saja”

“Oooo…” jawab Esty panjang

Aku melirikkan mataku sekali lagi ke arah Kris yang hanya diam sambil makan dengan lahap. Seperti itulah saat seorang pria bertemu pria lain dengan wanita yang pernah dekat. Suasana akan menjadi begitu membeku, dan mengambang di udara. Aku merutuki kehadiranku di warung gulai ikan ini, tahu begini aku tadi pilih meja atau warung lain!

Eh… apa yang kupikirkan tadi? Wanita yang pernah dekat?

Angin masih meniup liar anak rambut Esty yang acak acakan, dan siapa yang bisa menghalau gangguan terbesar bernama lintasan ingatan?

“Maafkan aku untuk semua yang sudah kulakukan padamu” kataku

Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya yang kukagumi itu, mata yang terluka sudah mewakili semua perasaannya. Aku mungkin lebih memilih digampar, dimaki, atau dilempar sesuatu daripada hanya dipandang dengan mata yang terluka.

“Pergilah…” hanya itu jawabnya

Aku melangkah pergi, mengutuki pikiran, hati, dan otakku. Aku menggenggam tangannya, tapi meninggalkannya begitu saja. Aku memeluknya, tapi membiarkannya terluka. Aku menyayanginya tapi justru akan menikahi sahabatnya.

Dan waktu telah berlalu begitu cepat.

*

Mataku menatap sosok pria yang berkelebat masuk di kedai gulai kepala ikan, dan mencolek tangan Kris, “Itu pak Andri… biar duduk di sini aja ya… meja yang lain penuh”

“Ya… boleh…” jawab Kris sambil tersenyum

Aku tahu ini tak akan nyaman buatnya dan Kris, tapi aku memilih untuk menantang diriku. Telah sepuluh tahun dari waktu dia meninggalkanku begitu saja dan menikahi sahabatku.

Aku sesekali melirik ke arahnya. Wajah dan senyumnya masih sama. Tapi kurasa aku sudah berdamai dengan diriku. Aku telah melepaskannya untuk dicintai orang yang lebih tepat.

***

Gambar : Pinterest 

 

Iklan

11 thoughts on “Senyum yang sama

  1. Pas menulis:
    Angin masih meniup liar anak rambut Esty yang acak acakan, dan siapa yang bisa menghalau gangguan terbesar bernama lintasan ingatan?
    sebenarnya ini Andri sedang melamun ya, meningat masa lalu ya?

    Terus habis *** itu sudut pandangnya Esty ya?
    Dan Esty sama Kris dah jadian ya?

    *maaf banyak tanya*

    • Iya… itu maunya nulis kalo Andri lagi melamun… dan habis itu pindah ke Esty..

      Bagusnya gimana? Esty sama Kris jadian atau ga?

      *lha piye to.. ha ha ha ha

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s