Janji Bintang

star

Pesta barbeque sekaligus perayaan Natal keluarga bos besar, dan itu berarti semua punggawanya datang. Hmmm… aku hanya bisa menghela nafas panjang diam diam. Aku tak begitu menyukai acara seperti ini. Bukan… bukan masalah malas bertemu keluarga bos besar dan berbicara tentang perkembangan usaha, tapi lebih tepatnya malas bertemu dengan para punggawa lain. Aku harus siap bertemu mata yang menjeling saling menilai penampilan satu sama lain, mulut yang ditutup sebelah tangan sambil terkikik, tas tangan, dress, high heels, aroma parfum, dan tentu saja senyuman semu.

Ahh… jika bukan bos besar, taruhan seratus ribu deh… aku nggak akan datang, keluhku

Tapi se-mengeluh apa… toh’ nyatanya aku sudah berada di tengah-tengah pesta, dan telah memamerkan senyum gigi putih cemerlang dari setengah jam yang lalu dalam obrolan sekelompok punggawa perusahaan. Aku menyebut mereka punggawa karena masing masing bertanggung jawab pada grup perusahaan yang sangat besar milik bos. Dina dengan dress hitam cantik, Nina dengan bibir merah yang menyala, Ferdy, Frans, Kris, aku, dan masih banyak lagi.

“Eh… lihat tuh Devi datang… hmmm kalian dengar gosip kalau suaminya selingkuh nggak?” kata Dina dengan suara pelan

“Hmmm… selingkuhnya pasti ketahuan karena itu jadi omongan.. iya kan? Hi hi hi hi…” tukas Nina sambil terkikik

“Enakan tu’ kalau selingkuh di dunia maya…” kali ini Ferdy angkat bicara

“Ah! Selingkuh kalau cuma di dunia maya sih nggak enak… cuma bisa pakai kata-kata… bebeb, say, yang, cuma di jari… diawali jari… ntar diakhiri pakai jari juga… hi hi hi ” celetuk Susan sambil menepiskan tangannya

“Enak tuh ya kalau selingkuh di dunia nyata…uwaw” Frans menimpali

“Apalagi kalau nggak ketahuan istri… uh! Mantap!” kata Ferdy

Aku mulai resah, obrolan ini bukan topik yang kusukai.

“Oh gitu ya…” kataku menyela

“Ah kau! Suka berpura-pura… selingkuh itu penting karena merupakan bagian dari refreshing… menghilangkan kepenatan” kata Frans yang memang paling senang berbicara tentang perempuan, sex dan pernak perniknya

“Refresing kok selingkuh… refreshing itu ya ke bonbin, dufan, pantai… ya semacam itulah…” kata Kris yang biasanya pendiam

“Ah kau Kris, seperti bukan cowok saja! Kalau cewek ‘tu… tahan banget berdiam diri, tapi kalau cowok? Apalagi kalau kebutuhan sex di rumah kurang memuaskan… yahhh… cari-cari hiburan lah…”

“Frans ini ahli banget ya…” kata Ferdy sambil mencolek tanganku

“Iya nih! Pelaku ya pak..?” tanyaku iseng

“Lho… saya ini belajar dari banyak kasus… ya dari teman, saudara, dan juga pengalaman pribadi. Kalau cewek mau selingkuh… tawarkan saja sex pada cowoknya… udah pasti oke! Ha ha ha ha…” Frans tertawa lebar memamerkan susunan gigi yang rapi dan terawat

Aku mendengus kesal, kepalaku mulai terasa berdenyut, “Pernah pikirkan efek jangka panjangnya jika selingkuh?”

“Efek jangka panjang sih besok besok aja mikirnya… yang penting asik. Ada kok teman yang istri dan selingkuhannya tahu sama tahu… dan tetap oke aja” jawab Frans lagi

“Bagaimana dengan anak-anak mereka?” cecarku sambil memegang erat gelas bertangkai berisi cocktail

Kris memandangku. Aku tahu itu peringatan untuk tidak terikut masuk obrolan tak penting.

Frans tersenyum “Ah! Anak-anak… gampanglah itu diatasi…”

“Begitu ya…” kuhembuskan nafas dengan sangat pelan, rasa dingin merambati ujung jari tanganku

“Kirana… kita coba ambil kudapan dan makan di luar yuk… capek nih berdiri terus” bisik Kris ke telingaku

“Gimana? Mau ambil resiko berselingkuh? Asik kok… kuajari deh langkah-langkahnya… begini…”

Belum selesai Frans berbicara, aku telah memotongnya “Bagaimana dengan anak-anak? Bagaimana dengan efek jangka panjangnya? Bagaimana jika anak dilabrak seseorang dengan tuduhan anak lonte karena ibunya telah berselingkuh? Bagaimana cinta itu terbagi? Bagaimana sentuhan yang sama bisa dilakukan di sana dan juga di sini? Pernahkah terpikir luka hati yang akan timbul?”

Kepalaku terasa berdenyut lebih keras, dan ujung jariku terasa semakin dingin. Lintasan peristiwa berputar cepat di benakku.

“Eh… kok kamu jadi marah…” kata Frans

“Kirana… ayolah…” Kris menarik tanganku berlalu

Kris menarik tanganku ke luar ruangan, menuju sepasang kursi dengan payung di sudut taman yang jauh dari keramaian. Aku menghempaskan pantatku ke kursi, bersandar, menghela nafas panjang dan menatap bintang.

“Ya Tuhan… apa yang ku ucapkan tadi… semestinya aku tak terpancing obrolan tak berguna itu”

Kris hanya menatapku dalam diam.

“Begitu mudah orang-orang itu berbicara tentang perselingkuhan, seolah itu sama gampangnya dengan makan keripik… mereka…”

Kris masih diam saja.

Aku memegang kepalaku yang masih terasa berdenyut, dan jemariku yang masih terasa dingin meski sudah tidak seperti tadi.

Malam telah menjelang, aku sudah berada di balik selimutku yang nyaman ketiba sayup sayup mendengar suara bapak berbicara pelan dengan ibu. Suara yang biasanya lembut diucapkan dengan nada yang berbeda, berseling dengan suara ibu yang juga berbeda. Lalu… terdengar suara yang tidak biasanya, aku membuka mata, melihat tangan ibu menggapai udara. Aku melonjak, berusaha melepaskan tangan bapak dari leher ibu, kurasakan cengkeraman kokoh, benturan yang keras di tubuhku, dan semuanya seketika gelap. Setelah itu aku tak pernah bertemu bapak lagi. Bapak yang janggutnya terasa kasar dan kusukai, ayunan kakinya yang kokoh, pundaknya yang kuat, lengannya yang membuatku selalu merasa aman. Bapak yang ternyata minta ijin menikah lagi, ibu yang menuntut cerai, pertengkaran, dan aku yang terlempar membentur sesuatu. Ah… 

Aku berjalan pulang kuliah, perutku terasa melilit, dan kepalaku pusing karena panas terik yang menggigit. Melewati warung dekat rumah seorang perempuan mencegatku di tengah jalan, menarik lenganku dengan kasar, mengucapkan banyak kata yang tak kumengerti. Lama kemudian aku mengetahui kalau dia anak seorang pria yang berselingkuh dengan ibuku.

Aku menggeleng-gelengkan kepala tanpa sadar.

“Kenapa? Pusing?” tanya Kris sambil tersenyum

Aku hanya mengangkat bahu, “Perselingkuhan telah menghancurkan keluargaku, membuatku seperti hari ini… mereka seolah tak pernah hidup dalam malam gelap pekat tanpa bintang…”

“Tak ada yang bisa disalahkan kalaupun mereka hidup dalam malam yang selalu bertabur bintang…”

“Iya sih…” kutengadahkan kepala menatap langit

“Tapi malam akan selalu berganti malam Kirana… tak ada malam yang senantiasa gelap pekat”

“Ya”

Kris satu-satunya sahabat yang kumiliki di grup perusahaan ini, dan tepatnya yang paling mengerti tabiatku. Aku yang begitu mudah tersulut amarah, keras kepala, siap tawuran (katanya), dengan kalem diajaknya minggir dan minum es (itu istilahnya).

“Menurut pelajaran dulu, bintang sebenarnya selalu ada, baik saat gelap maupun cerah, baik siang ataupun malam… benar kan?”

“Ha ha ha…” tawa yang kupaksakan saat mendengar perkataannya

“Hanya saja kita tak selalu menyadarinya. Ada kalanya satu bintang terlihat bersinar sangat terang, ada kalanya dia menghilang begitu saja”

Aku menatap ke arah matanya yang sedang menatapku tajam

“Tapi bintang tak selalu berguna saat ini, tidak seperti jaman nenek moyang kita yang pelaut..” kilahku

“Itu menurutmu! Karena kita kerja kantoran, dan tak berpatokan pada bintang… weeek” katanya sambil melet

Aku tersenyum. Wajahnya yang tampan terlihat aneh saat melet begitu.

“Ingat cerita kuno tentang orang-orang majus dari timur yang dituntun oleh bintang?”

“Ha ha ha… cerita anak sekolah minggu di gereja” jawabku

“Konon cerita… waktu itu gelap telah meliputi seluruh dunia selama ratusan tahun, ini bukan gelap tanpa matahari… tapi kegelapan moral karena manusia hidup tanpa aturan dan seenaknya sendiri…”

“Ya pak pendeta…” gurauku

“Hush! Dan… muncullah bintang itu di langit. Bintang yang dipercaya oleh orang-orang pintar itu akan menunjukkan tempat lahirnya juru selamat mereka… ehmm… menurutku mereka itu mungkin ahli astronomi, atau apa ya… pintarlah pokoknya”

Aku mendengarkannya sambil menatap langit.

“Yang aku herankan… mereka kok bisa meninggalkan tempat tinggalnya dan menuju ke arah bintang itu yang katanya sudah tertulis dalam kitab-kitab kuno. Bagaimana jika bintang itu mendadak tidak bersinar karena terhalang mendung dan gelap pekat? Bagaimana jika ternyata bintang itu tidak menunjukkan arah yang mereka cari? Bukankah ini artinya mereka mempertaruhkan hidup hanya untuk sebuah bintang? Bintang itu seolah berjanji pada mereka akan sesuatu, dan mereka mempercayainya begitu saja” kata Kris panjang lebar

“Kamu terlalu banyak berpikir dan membaca” jawabku singkat

“Yah… katakanlah aku terlalu banyak berpikir dan membaca. Tapi nyatanya janji bintang itu terjadi bagi mereka. Bintang itu menuntun mereka ke tempat Juru Selamat mereka, dan mereka menemukannya… dan bukan hanya mereka saja yang menemukannya tapi juga para gembala di padang belantara…”

“Jadi kesimpulan penjelasanmu ini apa?” tanyaku sambil memandangnya bingung

“Kirana…, setiap hidup memiliki kisahnya sendiri. Bagi yang lain terlihat indah dan penuh cahaya, tapi mungkin tidak bagimu. Namun itu bukan berarti kegelapan senantiasa meliputimu. Seperti yang kukatakan tadi padamu, adakalanya bintang terlihat terang, adakalanya hilang, tetapi dia tetap ada disana. Bintang tak menghilang dari sana, mendung atau mungkin asap, atau mungkin polusi yang menghalangi pandangan kita darinya”

“Kata-katamu seperti filsuf” jawabku singkat

Aku mengingkari getaran di sudut hati terdalam sana, dan berusaha sekuat mungkin menghalau kabut yang mulai muncul di mataku.

“Kirana.., hampir sama seperti bintang yang kadang nyata kadang hilang begitu pula gambaran kita akan Tuhan bukan? Kita kadang hanya menyadari keberadanNya dan memujiNya ketika hidup seolah terang benderang tanpa kesulitan, tetapi bagaimana saat Dia seolah menghilang, tak menjawab doa? Apa yang kita lakukan? Mengeluh? MencercaNya? Kirana percayakah kau kalau Dia selalu ada? Entah kita menyadarinya atau tidak. Dia tetap ada di masa lalu yang entah itu baik ataupun buruk, masa sekarang, dan masa depan”

Butiran air mata bergulir begitu saja.

“Kau pintar membuatku menangis” kataku singkat

“Ha ha.. sudahlah… yuk kita pulang saja… kuantar kau pulang sambil kita melihat bintang di taman kota, biar malammu indah” kata Kris sambil menarik tanganku untuk berdiri

“Jadi Dia hampir mirip bintang yang selalu ada dulu, sekarang, dan selamanya?” tanyaku seperti seorang anak yang mengulang perkataan ayahnya

“Bintang itu hanya perumpamaan bagi penglihatan kita, namun se-indah dan se-terang apapun, bintang hanya ciptaanNya, bisa hancur dan lenyap. Dia lebih dari itu, Dia memandang kita, mengasihi kita, dulu sekarang dan selamanya. JanjiNya lebih dari bintang!” kata Kris sambil berbisik di telingaku

Aku tersenyum dan mengulang kata-katanya lagi, “Ya! JanjiNya lebih dari bintang”

***

Keterangan: 

* Kisah tentang orang orang majus tertulis dalam Matius 2:1-3: Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem, dan bertanya-tanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi  yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya  di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”

Orang-orang Majus adalah: 1) a magus 1a) the name given by the Babylonians (Chaldeans), Medes, Persians, and others, to the wise men, teachers, priests, physicians, astrologers, seers, interpreters of dreams, augers, soothsayers, sorcerers etc. 1b) the oriental wise men (astrologers) who, having discovered by the rising of a remarkable star that the Messiah had just been born, came to Jerusalem to worship him


of foreign origin (7248); a Magian, i.e. Oriental scientist; by implication, a magician:-sorcerer, wise man. see HEBREW for 07248

** Gambar Pinterest 

Iklan

17 thoughts on “Janji Bintang

  1. Jadi ingat pernah memainkan salah satu dari tiga raja dari timur itu dulu pas SD. hahahaha.

    kisahnya bagus mba. nilai di dalamnya bagus.
    Itu Kris jadiankah sama aku?

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s