Panggil dia, Ibu

mom daught

Rani masuk kamar mandi sambil bersenandung, begitu pintu tertutup dia melepas satu persatu kain yang melekat di badannya.ย Sesaat kemudian tangannya meraih kembali kenop pintu, matanya sedikit melirik kiri kanan, lalu melemparkan begitu saja pakaian yang baru saja dilepasnya ke keranjang cucian di depan pintu.

“Adaaaaaaaaaaa apa dengan cintaaaaaa…. la la la la la….”

Suara senandung Rina silih berganti dengan suara siraman air ke tubuhnya.

“Monggo silahkan langsung ke dapur saja bu… ini masih belum selesai ditata makanannya” terdengar suara wanita di dapur yang bersebelahan langsung dengan kamar mandi

“Eh… Jeng Nani… ini ada titipan Nogosari dari Bu Slamet… katanya untuk tambahan suguhan arisan…” terdengar lagi suara wanita yang berbeda

“Haloooo… ibu ibu tercinta… waduh Jeng Nani masak apa buat hari ini…” terdengar lagi suara wanita berikutnya kali ini seperti bisa menembus lobang kuping

Rina masih asik mengoleskan sabun ke seluruh badannya dan bergumam, “Hmmmm… wangi”

Suara – suara wanita terdengar semakin riuh di dapur, ditimpali dengan berbagai tawa.

Sepuluh menit kemudian, Rina melemparkan pandangan ke gantungan handuk, dan deg! Matanya melotot!

“Kelupaan bawa handuk! Mampus dah aku!!” ucapnya sambil menepok jidat keras-keras

Matanya mengitari seluruh ruangan kamar mandi, “Sompret! Sudah kubuang pula semua bajuku tadi keluar… waaaaaaaahhhh!!!”

Suara – suara wanita masih terdengar jelas di dapur.

“Eh… jeng… tahu nggak gosipnya… Bu RT hamil lagi lohhh… wah… pak RT beneran jossss… padahal anaknya sudah empat! Hari gini kok masih mau anak banyak siiiihhh cyyinnn….” satu suara wanita terdengar kemayu

“Bu Ita ini lohhh… kalau mau punya anak lagi… mbok ya bikin sendiri lagi aja…. hi hi hi hi…” timpal satu suara lagi

Rina masih celingukan di dalam kamar mandi, “Masak aku harus nunggu sampai ibu-ibu itu pada bubar arisan…? Berapa lama lagi?? Duh Dion pasti main di lapangan… Dina belum pulang les”

Rina menghela nafas panjang, percakapannya dengan Kak Yakub pembimbing rohani di gereja teringat lagi di benaknya.

“Rina… kamu itu kalau mau damai sama ibumu sebenarnya gampang saja caranya, panggillah IBU! udah deh! Aku jamin hatinya meleleh seperti salju kutub yang terkena global warming”

“Tapi Kak… Aku nggak salah! Siapa suruh melahirkan aku… aku ‘kan tidak minta dilahirkan ke dunia ini, dan dititipkan di rumah eyang… dan tidak mengenalnya bertahun kemudian”

“Rina… ceritanya pasti tidak sederhana seperti itu”

“Iya sih Kak. Menurut cerita Eyang… Ibu hamil dengan pacarnya… tapi pacarnya ga mau tanggung jawab, dan Ibu ditinggal begitu saja. Jadi, supaya Ibu bisa meneruskan hidup kembali, dia harus menitipkan aku pada Eyang, lalu setelah Ibu menikah lagi dan hidupnya stabil baru aku disuruh tinggal dengannya”

“Nah, sudah jelas kan? Jadi kenapa kamu salahkan ibumu terus?” tanya Kak Yakub lembut

“Ibu selama ini tidak mau menyebut aku anaknya Kak, malah bilang kalau aku ini keponakannya! Dia bilang ke semua teman kantornya kalau aku ini cuma keponakan yang dititipkan padanya! Sakitnya tuh disini…” kilah Rina sambil menempelkan tangan ke dada

“Baiklah Rina, aku tak tahu kenapa Ibumu tak mau mengakui kamu anaknya, tetapi bagaimana kalau kamu yang mulai berdamai lebih dulu?”

“Aku kak??!!! NOOOOOO!!!” jawab Rina setengah berteriak

“Rina, kamu mengasihi Ibumu dan mau berdamai dengannya ‘kan? Bagaimana kalau kamu memaafkan dia terlebih dahulu? Aku tak minta kamu melakukan yang sulit kok, cukup panggil dia Ibu! Gimana?”

Rina terdiam.

“Rin, lakukanlah dahulu apa yang orang ingin lakukan padamu” kata Kak Yakub dengan tegas

“Meskipun bukan aku yang salah?”

“Ya! Meskipun bukan kamu yang salah!”

Rina menggeleng-gelengkan kepalanya yang basah, air bercipratan kemana-mana, “Sialan! Ternyata cuma ini cara untuk keluar dari kamar mandi”

“Maaaaaaaaaaaaakkkkkkkk… tolong ambilkan handuk sama baju dekat situ dongggg…” teriak Rina

“Yoooooooooo…. sebentarrrrrr” terdengar jawaban dari luar pintu kamar mandi

“Siapa sih Jeng yang teriak di dalam itu?” terdengar satu suara wanita bertanya

“Anakku Rina” jawab satu suara wanita

Rina menatap pintu kamar mandi dengan mata berkaca-kaca.

*****SELAMAT HARI IBU*****

Gambar : Pinterest

Iklan

9 thoughts on “Panggil dia, Ibu

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s