Satu Kalimat Saja

child 1

Aku bukan orang yang romantis, pandai merangkai kata dan kalimat halus apalagi tentang cinta dan pernak pernik indahnya. Tapi melihat banyaknya surat cinta yang berseliweran di blog teman-temanku, aku jadi pengen nulis juga. Sudah terlambat, atau tidak berurutan ya tidak apa-apa ‘lah… ‘wong ga ikut kejuaraaan apa-apa juga ha ha ha…

Pertama dan bukan hari pertama, karena aku tidak yakin bisa menulis berurutan hari. Aku ingin menulis surat ini padamu.

Berapa lama kita tidak bertemu? 20 tahun atau mungkin lebih ya? Aku tidak bisa mengingatmu dengan jelas, bayangan tentangmu pudar di benakku.

Aku tidak tahu kenapa kau pergi begitu saja. Apakah karena aku nakal? Apakah karena aku sering menangis? Apakah aku selalu menyusahkanmu?

Apakah yang paling kuingat tentangmu? Janggutmu yang kasar? Lenganmu yang kokoh? Kakimu tempat aku duduk berayun? Wajahmu yang legam? Bau ikan dan pantai yang menguar dari bajumu? Sepeda tinggi warna hijau tua? 

Ingatkah kamu akan raport dan ranking kelas yang selalu bagus? Aku berusaha untuk kau tak marah padaku.

Ingatkah kamu kalau aku selalu rajin mandi setiap waktumu pulang kerja dan menunggu dengan senyuman? Aku ingin kamu menggendongku di pundak sambil tertawa

Ingatkah kamu kalau aku pernah menelponmu satu kali. Ya, hanya satu kali seumur hidupku, dan kau membutuhkan waktu panjang untuk mengingatku.

“Siapa? Darimana? Anaknya siapa? O…? Benarkah?” itu tanggapanmu

Aku menelan ludahku.

Seperti rasa “arum manis” yang berpendar di mulut begitu bersentuhan dengan lidah, begitulah rasaku waktu itu. Rindu, asam, pahit, manis bercampur dan menyentuh langit-langit mulut.

Aku sendiri yang mencari-cari kesulitan, aku sendiri yang mencari-cari perkara, dia tak mengingatku, kataku mengutuk

Sejak itu aku tak lagi berusaha mencarimu atau mengingatmu. Namun percayalah aku tak membencimu, sungguh! Bagaimana mungkin aku membenci darah yang mengalir di nadiku?

Jika, aku boleh sedikit berharap… ijinkan aku menemuimu beberapa menit sebelum suatu saat nanti kamu pergi ke keabadian, biarkan aku berbisik satu kalimat saja di telingamu, “Aku mencintaimu Ayah”

ie

*gambar dari pinterest di sini 

Iklan

11 thoughts on “Satu Kalimat Saja

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s