Tentang Wanita

Jealous-woman-watching-couple

Terima kasih Sista… 

Sebaris kalimat yang kuterima sebagai balasan bbm singkatku ‘Happy Anniversary kaka’  kepada istri Rama

Aku tersenyum, dan melanjutkan langkahku menuju kamar-kamar selanjutnya yang harus kuperiksa. Rombongan atlit sejumlah 130 orang akan datang hari ini, dan hotel akan mendadak penuh sesak. Kamar yang biasanya dihuni ‘atlit ranjang’ akan dihuni ‘atlit lapangan’ dalam beberapa hari ke depan.

Memutar kran air memastikannya mengalir lancar, membuka lemari pakaian sekedar melihat apakah sudah cukup bersih, menekan flush toilet, memeriksa nakas, cermin kamar mandi adalah seperti serangkaian ritual bagiku. Cek-ricek rutin, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk tetap mempertahankan nadi hotel ini tetap berdenyut pelan. Aku seringkali hanya bisa menghela nafas dan mengomel jika menemukan kerusakan yang disebabkan usia bangunan. Jika disamakan dengan manusia maka umur hotel ini sudah seperti orang yang mendekati tenggelamnya senja, penyakit komplikasi menggerogotinya tanpa peduli. Tinggal menunggu lonceng kematian berdentang, selesai sudah!

Bro, nonton yuk siang ini… satu pesan masuk dari Agung

Aku nyengir, orang ini selalu memanggilku ‘bro’, sebutan yang sebenarnya ditujukan untuk para pria.

Lagi nyiapin kamar buat rombongan nanti siang, kukabari secepatnya… balasku

“Ah! Si belut gendut gila itu mengganggu saja, apa kata ceweknya kalau dia pergi nonton lagi denganku” gumamku pelan

Aku melanjutkan pemeriksaan ke blok berikutnya, saat melihat dua tamu wanita duduk berhadapan di kursi ruang makan. Menganggukkan kepala, memberikan senyum termanis adalah suatu ritual selanjutnya yang harus diberikan oleh penyedia layanan jasa sepertiku, dan kenangan tentang suatu percakapan serupa menyergapku tanpa permisi.

“Apakah benar kamu pernah mempunyai hubungan emosional dengan Rama mbak?” tanya wanita berparas manis itu sambil mengaduk minuman di depannya

“Ya, tapi itu karena kami telah bersahabat cukup lama” jawabku sambil mengangguk

“Hanya sekedar bersahabat kan?” cecarnya lagi

Aku mengangguk tanpa suara, masakan harus kujawab kalau kami pernah berpelukan dan hampir berciuman?

“Ehm… kamu ‘kan tahu persahabatan pria dan wanita dalam waktu lama pasti membuat ikatan emosional, yah begitulah kira-kira… tapi sekarang kami jarang bertemu kok, apalagi kalian ‘kan sudah bertunangan dan menikah bulan depan, mana bisa lagi aku enak-enakan bertemu dia… ha ha ha ha…” aku berkata seolah tanpa beban

Tanpa beban kataku? Bagaimana dengan rasa nyeri yang mendadak menyerang ulu hatiku? Benarkah di ulu hati atau tepatnya di hati? Ah!

“Ha ha ha… oya mbak, datang ya di pesta kami… ini undangannya” katanya sambil menyodorkan undangan berwarna biru muda cantik

Aku tersenyum dan mengangguk, percakapan kami selanjutnya diisi dengan tawaku yang dengan ringan bercerita hal-hal lucu tentang Rama calon suaminya. Hingga saat wanita itu berlalu, mendadak ada yang terasa berkabut di ujung mataku. Aku sungguh pemain watak yang bagus, seharusnya tepat jadi pemain sinetron, rutukku pada diri sendiri.

Satu-satunya alasan berakhirnya hubunganku dengan Rama adalah persetujuan ibundanya dengan alasan pekerjaanku di hotel identik dengan virus wanita nakal. Persetujuan orang tua sangat penting bagiku, peduli amat dengan cinta! Tanpa persetujuan maka cinta sama dengan bencana, itu prinsipku.

Setelah itu, meskipun memiliki banyak sekali teman pria, tapi belum satupun yang berakhir di pelaminan. Banyak orang mengira aku belum selesai dengan masa lalu, padahal apanya yang masih belum selesai? Aku melanjutkan hidup dengan tabah dan gembira, hanya saja memang belum bertemu dengan jodoh. Lalu mau apa? Kilahku

Aku menghempaskan pantat di kursi, merasakan sejuknya hembusan penyejuk ruangan ketika satu pesan muncul lagi, Piye Bro? Jadi nggak kita pergi nonton?

Nonton! Berapa banyak waktu yang telah kuhabiskan untuk nonton dengannya ya? Berapa banyak tawa kami yang bergema di ruang-ruang bioskop? Berapa banyak argumen dan debat yang kami lakukan mengenai film? Lalu entah berapa banyak pula berondong jagung dan liter kopi yang sudah masuk ke perut kami.

Aku nyengir sambil menatap ponselku lekat-lekat, Nggak bisa ndut… habis ini aku ada meeting mendadak dengan tamu panitia, balasku berbohong

Halah! Ayolah… balasnya

Aku melemparkan pandangan ke arah pegunungan di sebelah barat yang terpampang jelas dari ruangan kantorku, hatiku terasa tawar.

Perkataan seorang wanita setelah melihatku memijat punggung Agung waktu muntah masih terasa lekat di ingatan, “Aku itu bahagia banget sekarang dengan Agung, aku telah berjuang keras untuk menyingkirkan wanita pesaing lainnya dan berencana menikah tahun ini, jadi kalau bisa mbak jangan terlalu dekat lagi dengannya… apalagi…”

Apalagi apa? Coba teruskan! Apakah karena pekerjaanku? Padahal apa yang salah denganku bukannya mereka itu sahabat baikku? Kami telah bersahabat jauh sebelum mereka bertemu? Apakah kita tidak bisa menjadi saudara? Memangnya kalau sudah menaruh pagar berupa percakapan-percakapan kepada wanita pesaingnya, para pria itu dijamin selalu mendekap mereka? Ranjang hotelku ini telah menjadi saksi bisu permainan para pria yang menjadi pengkhianat cinta wanitanya! Bah!! 

Aku menarik sudut bibirku dan tersenyum, Yo wes… kita ketemu dimana? Ambil yang jam berapa? balasku

Peduli amat jika aku harus berhadapan dan terlibat percakapan dengan ceweknya yang mengharu biru rasa, selama janur belum melengkung oke ajalah, putusku akhirnya sambil tersenyum lebar. Mungkin virus ‘wanita penggoda’ itu memang mulai meng-infeksi, dan aku akan membuat kekuatiran itu menjadi nyata. Aha!

*Gambar :Google

*Fiksi tentang seluk beluk pekerjaan di hotel dan tantangannya

***

Iklan

13 thoughts on “Tentang Wanita

  1. ga tau knp sy selalu tertarik sama deskripsi yg di buat mba ie’ (rahasianya apa seh…?) hubungan antara pria dan wanita memang unik dan menarik untuk dikupas helai demi helai( apaan coba sok tau nih sy)

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s