Hosea

gomer

Jangan lagi mencariku, karena aku pergi menemui kekasihku

Aku tidak menginginkanmu Hosea, tubuhku tak sanggup setia padamu

**

Debu jalanan, terik matahari, dan angin kering menyertai langkahnya saat menyusur jalan siang itu. Kegilaan, atau apapun bisa dikatakan orang lain tentang kepergiannya kali ini. Sesekali dianggukkannya kepala membalas salam orang-orang yang tersenyum padanya.

Hati Hosea terasa sesak, saat seseorang mengabarkan padanya tentang seorang wanita yang sedang ditawarkan oleh pedagang pasar.

Tak dihiraukannya tangan mungil Yisreel yang mencegahnya, “Jangan pergi ayah”

“Ibu membutuhkan ayah, Nak…” katanya sambil berjongkok dan mengelus pipi anak lelaki kecil itu

“Tidak ayah. Ibu tidak membutuhkan kita…” kata Yisreel dengan mata berkaca-kaca

Anak lelaki kecil itu mengetahui lebih banyak dari yang seharusnya, dia terlalu cepat dewasa

Untuk sesaat Hosea membisu.

“Jaga adik-adikmu ya… ayah pergi sebentar saja…” katanya lagi sambil mengusap rambut ikal Yisreel.

Hosea segera membalikkan badan, melangkahkan kaki menuju ambang pintu meski tahu Yisreel sedang menggigit kuat-kuat bibir dan berusaha mencegah buliran air matanya mengalir.

*

Hari itu, jauh sebelumnya. Debu jalanan yang sama beterbangan mengiringi langkahnya. Beberapa orang dewasa membungkukkan badan memberi penghormatan saat berpapasan dengannya di pasar, senyuman polos anak-anak mengiringi langkahnya.  Bau ikan, teriakan para pedagang sayur riuh terdengar begitu riuh, memekakkan telinga. Mungkin seperti itulah teriakan permohonan manusia di telinga Tuhan, mereka berteriak memohon untuk pengabulan doa.

Hosea menghembuskan nafasnya perlahan, langkahnya mulai terasa berat, sosok yang biasa terlihat di ujung jalan tak terlihat, dan sebagai seorang pria dia tahu dengan pasti keberadaan wanita itu.

Beberapa butir kerikil terasa di ujung kakinya, seperti itukah dosa bangsa ini bagi Allahnya?  Menyakiti dan mengganggu?

“Salam Rabbi” sapa seorang pria di pintu masuk

“Aku menginginkan dia. Kue kismis” Hosea menjawab salamnya

“Tunggulah Rabbi” kata pria itu tanpa memandang wajah Hosea

“Ini bayaran untuknya” kata Hosea lagi seraya mengangsurkan uang padanya

Pria itu menerima uang tanpa mendongakkan wajahnya, “Sebentar lagi dia akan hadir untukmu ya Rabbi, mohon tunggulah”

Gomer, nama wanita itu. Seperti namanya yang berarti panas membara demikianlah ia dikenal oleh para pria. Tubuhnya begitu molek, penuh berisi, mata bulat, tangan lentik, tak ada satupun lelaki yang sanggup menahan diri jika berhadapan dengannya. Seperti harum kue kismis yang menguar dari panggangan, begitulah konon harum bau tubuh perempuan ini bagi para pria penyuka kenikmatan sesaat.

Hosea menatap sekeliling ruang tempatnya menunggu dengan canggung. Matanya menatap pintu di depannya tanpa berkedip, jantungnya berdegup kencang tak beraturan, ada sesuatu yang terasa berdentam- dentam di dalam dadanya.

“Masuklah… “ desah satu suara terdengar dari balik pintu yang sedikit terbuka, bau wangi menyelusup di antara celah-celahnya

Mata bulat itu menatap tajam tak berkedip ke arahnya saat melangkah masuk.

“Jangan rabbi, jangan menyeretku pada dosa yang lebih dalam…” kata wanita berbibir merah dan penuh itu

“Aku ingin kau menjadi istriku” katanya sambil memegang tangan perempuan itu

“Berikan aku alasan untuk menerimamu Rabbi…” desis perempuan itu sambil menetap lekat ke arah mata Hosea

Tatapan mata yang tidak bisa ditolak oleh lelaki manapun, begitu menyihir

“Allahku mengasihimu Gomer”

**

Hosea masih melanjutkan langkahnya di jalan berdebu, angin berhenti bertiup, dan matahari bersinar terik. Semua perkataan orang sekitarnya seperti dengung lebah yang memenuhi isi kepalanya.

“Tidak usah kau cari lagi perempuan itu Rabbi…”

“Bukan perempuan yang patut diterima dan menerima limpahan cintamu”

“Pergi, carilah perempuan lain untuk ibu anak-anakmu Rabbi…”

“Anak-anakmu membutuhkan orang yang mengasihi mereka lebih dari dirinya sendiri”

Seandainya dia bisa melupakan Gomer seperti nasehat orang-orang di sekitarnya. Seandainya dia bisa menggantikan Gomer dengan cinta yang lain, nyatanya tidak. Seperti dosa bangsa yang telah menyakitkan hati Allahnya, namun tetap dicintai, begitulah ia kepada Gomer, wanita sundal itu.

Siapa seperti engkau di hatiNya

Dengan siapa engkau bisa kubandingkan

Sebab Allahku menginginkanmu dicintai olehku

Tiga kali Hosea telah menebus Gomer dari jalanan. Tiga orang anak dengan mata bulat dan bulu mata indah seperti ibunya, Yisreel, Lo Ruhama dan Lo Ami telah hadir di rumahnya. Namun perempuan itu selalu pergi menemui kekasih-kekasihnya.

“Seperti keledai liar yang tak bisa dikekang”

“Perempuan jalang yang melacurkan diri dan memuaskan nafsunya di jalanan”

Perkataan yang serupa dengung lebah itu kembali memenuhi isi kepalanya. Mendengung, berdebam, dan membuat jantungnya terasa berdetak lebih cepat.

“Jangan mencariku Hosea, aku tak akan cukup baik jadi istrimu. Tubuhku tak cukup setia padamu. Aku akan mengikuti kekasih yang memberiku permata dan berlian Mesir”  pamit Gomer setiap kali meninggalkannya.

Gomer menusuk hatinya sangat dalam, tapi Hosea tak terluka. Tidak.

“Kau tidak akan sanggup melukaiku Gomer, aku mencintaimu bukan karena tubuh dan kemolekanmu. Aku belajar dariNya yang lebih mencintaimu, engkau begitu berharga dan mulia Gomer. Berilah dirimu dicintai” gumam Hosea sepanjang jalan.

Teriakan pedagang pasar membuyarkan lamunan Hosea.

“Ambil perempuan ini!! Murah!!! Untuk memetik bulir jelai kalian…. atau untuk sedikit menghangatkan kaki budak laki-lakimu!!” teriak seorang laki-laki gemuk berjanggut

Hosea menatap ke satu arah yang diteriakkan pria itu, tenggorokannya tercekat. Wanita itu buruk dan nyaris telanjang. Dadanya tak lagi sintal dan penuh, perutnya kurus, kulitnya kusam, dan rambut ikalnya kusut masai. Dua tahun berlalu sejak wanita itu meninggalkan Lo – Ami di rumah tanpa air susu.

“Ambillah ini. lima belas syikal perak dan satu setengah homer jelai. Aku yang akan menebus dia. Dia istriku” kata Hosea sambil mengulurkan sekantong uang

Keheningan melengkapi senja yang berubah warna. Tidak ada satu perkataan yang terucap, saat Hosea melepaskan ikatan Gomer. Mata para perempuan tampak berair, dan bibir para pria terkatub rapat .

Burung-burung kecil terbang pulang, saat seorang pria berjubah terlihat menuntun keledai dengan seorang perempuan duduk diatasnya dengan kepala tertunduk. Untuk pertama kalinya Gomer membisikkan nama Allah suaminya.

***

*diadaptasi dari kitab Hosea

Iklan

23 thoughts on “Hosea

  1. Hai, Ie.
    Langsung aja. Ini asalnya dari kitab Hosea, kan? Aku nggak tahu soal kitab itu, tapi jika cerita ini diambil/diinterpretasikan dari kitab tersebut, artinya segala penambahan cerita sebaiknya punya benang merah dengan isi kitab Hosea.
    Jika cerita ini dipanjangkan, pertanyaanku, sepanjang apa? Jika ingin dicetak sebagai buku saku, berapa halaman yang diperlukan?
    Jika jumlah halaman sudah ditentukan, artinya memang kisah ini harus ‘dimelarkan’. Seperti apa? Bisa saja dengan menjabarkan perselingkuhan-perselingkuhan yang dilakukan tokoh isteri. Kesabaran si suami. Reaksi orang-orang terdekat. Tentu harus ada tokoh-tokoh tambahan.
    Kalau persoalan fee/royalti ya harus dibahas ‘hitam di atas putih’. Berapa yang dicetak? Berapa fee per exp? Atau sistem jual putus. Jadi, Ie dibayar sekali, dan si pastur berhak mencetak sebanyak dia mau.
    Gitu. 🙂

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s