Ketika Ilalang Bercerita

 

siluet

“Baiklah darimana aku harus mulai bercerita? Dari sebuah bangunan kuno dengan ilalangnya yang setinggi manusia? Dari baunya yang bisa membawamu masuk ke lorong-lorong imajinasi seram? Dari sudut laborat tua yang mengingatkanmu pada cerita frankestein? Atau dari mana?” tanyaku

“Darimana saja bisa” katamu

Aku terdiam sesaat, mencoba mengingat darimana semua kisah ini dimulai. Apakah setahun, dua tahun, tiga tahun atau lebih lama dari itu?

Aku tersenyum, “Teman-teman di sini mempunyai sebuah kalimat yang unik untuk awal suatu proyek”

“Apa?”

“Mestakung atau semesta mendukung”

Matamu yang bulat melotot

“Ha ha ha… awalnya aku juga merasa aneh dengan kata itu, tapi lama kelamaan kupikir ada benarnya juga. Bangunan tua itu yang alkisah dibangun jaman Presiden Soekarno waktu maraknya poros Jakarta – Beijing – Moskow itu mangkrak bertahun-tahun, gagal mencapai impian terbesar dari pencetusnya”

“Mangkrak bertahun-tahun katamu?” tanyamu mengernyitkan dahi

“Ya begitulah… bagaimana ide bangunan semegah ini ada di tengah tempat yang waktu itu kurasa masih berupa perbukitan, mengapa mangkrak dan sebagainya, masih kucari jawabannya. Menggali informasi, mengumpulkan penggalan-penggalan cerita dari orang-orang tua yang pernah bekerja disini, bukan hal yang mudah karena ceritanya bisa benar dan bisa juga tidak…”

Kamu mengangguk-anggukkan kepala, aku tidak tahu apakah itu berarti mengerti atau untuk alasan lain.

“Lalu… bagaimana kamu, seorang kamu bisa ada di tempat seperti ini? Sendirian bersama barang-barang berdebu dan kuno seperti ini? Bukannya kamu tak punya sejarah karier sebagai sejarawan ataupun arkeolog?”

“Ha ha ha ha ha ha ha…” aku tertawa ngakak mendengar pertanyaanmu

Aku mengangkat bahu, dan melangkahkan kaki ke ujung gedung tua sambil melihat ke arah perbukitan di seberang. Angin bertiup lembut, kupu-kupu kuning terlihat beterbangan, sesuatu yang jarang kulihat lagi di kota.

“Kau belum menjawab pertanyaanku” katamu lagi

“Pertanyaanmu membutuhkan jawaban sebanyak yang kutujukan pada bangunan kuno ini, sayangnya dia tak bisa menjawab secara langsung padaku”

Ilalang setinggi manusia di sebelah bangunan bergoyang ditiup angin yang berhembus, seperti hendak bercerita tentang banyak hal padaku – seperti ceritaku padamu.

**

Ketika Ilalang Bercerita

Setelah Semuanya 

 

 

Iklan

5 thoughts on “Ketika Ilalang Bercerita

  1. Setiap aku membaca ceritamu, Kak Ie, aku seperti tersesat dan tak tahu arah pulang. Aku berada dalam pikiran antah berantah. Ku tak tahu kapan detik kumulai disana. Namun kuingin kubuka tabir ini meski sampai sekarang tak mampu

    • “Menulislah untuk mengurangi penghuni rumah sakit jiwa, adalah salah satu nasehat salah satu teman yang pernah kujumpai di dunia maya yang kurasa ampuh” begitu yang selalu kukatakan dan kureferensikan pada semua teman

      Ada begitu banyak potongan, baik ingatan maupun kisah yang berceceran di duniaku yang aku sendiri susah menyambungnya satu sama lain.
      Entahlah… mungkin ada hubungannya dengan lenyapnya (ingatan) selama beberapa tahun di hidupku (yang beneran terjadi).
      Aku sendiri sedang berusaha mengumpulkan, dan (semoga) memperoleh peta jelasnya sehingga tidak tersesat dan sukur2 bisa membuka tabirnya

      #malah curhat :p

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s