Lelaki Tua Itu Bercerita

siluet 3

Mata tua itu menatap ke arah luar jendela yang telah buram, entah apa yang sedang berusaha diingatnya, kisah kepahlawanan atau roman? Pikirku

Mulutnya mulai menuturkan cerita dari ribuan hari yang jumlahnya mungkin sama dengan jumlah keriput di wajahnya.

Pak Sukir namanya, bekas pekerja di pabrik ini, dan aku sengaja mengajaknya berkeliling pabrik ini sekali lagi sambil bercerita, dengan harapan bisa menemukan potongan potongan kisah tentang sebuah mimpi yang tak pernah terjadi.

“Beberapa tenaga ahli dari Bulgaria dulu didatangkan ke sini untuk mengerjakan proyek ini, ada insinyur dan juga ahli mesin. Ruangan-ruangan sebelah sini dulunya kantor, sebenarnya awalnya tidak dirancang untuk kantor, tetapi karena kantornya baru akan dibangun maka untuk sementara waktu di sini. Sayangnya rancangan kantor itu malah tidak pernah jadi, karena pabrik ini tidak berjalan seperti yang diharapkan”

Uh! Bulgaria? Negara yang bahkan tak pernah terlintas di pikiranku

“Iya betul, dulunya di sini ada mesin-mesin itu, semua didatangkan asli dari Bulgaria, bahkan kualitas tembok ini pun dibuat sangat bagus, di dalamnya tahan api” kata Pak Sukir sambil mengetuk tembok yang menurut beliau dulunya dipergunakan sebagai tungku pembakaran

Kami melanjutkan perjalanan ke laboratorium kuno yang masih menyisakan botol-botol hasil penelitian jaman dulu, bau minyak masih tercium menguar saat kami membuka pintu.

“Di laborat ini dulunya tidak hanya dilakukan pengujian cengkeh, tapi juga lada, masoi, dan lain-lainnya. Saat kandungan cengkeh yang ditemukan tidak sesuai dengan keinginan Bulgaria, maka di uji coba yang lain”

Dari laboratorium kami menuju ke ruangan lain yang dulunya menurut keterangan pak Sukir menjadi gudang penyimpanan, aroma masoi olahan masih tercium jelas. Ada 2 peralatan besar yang masih tersisa, sekali lagi Pak Sukir menjelaskan kilasan cara kerjanya. Menurut cerita, Pak Sukir ini awalnya hanya sebagai sopir tetapi kemudian menjadi karyawan, lalu bekerja di tempat itu hingga kemudian mengundurkan diri sekitar 3 tahun lalu.

Pak Sukir langkahnya masih tegap, dan jalannya pun masih gagah, dengan senang beliau bercerita banyak tentang pabrik dan segala macam peralatan yang didalamnya.

“Di dekat rumah pompa,  yang ada bulatan besar itu sebenarnya ada penampung minyak besar sekali,  tingginya hampir 3 meter. Sayangnya sekarang sudah tidak ada semua, padahal di sini dulu ada tangki penyuling minyak yang jumlahnya 9. Pabrik ini dirancang bekerja siang malam, dan setiap 3 jam harus mengolah sampai dengan 9 ton bahan mentah” cerita Pak Sukir sambil menunjuk ke arah bulatan seperti sumur dangkal yang sekarang ditumbuhi pohon pisang.

Aku hanya bisa membayangkan apa yang dulu kira-kira berada di tempat itu sekian tahun lalu.

Hingga saat kami berada di atas jembatan yang menghubungkan satu gedung dengan gedung yang lain rekanku bertanya, “Siapa yang meresmikan pabrik ini dulunya pak? Apa Presiden Soekarno pernah ke sini?”

“Tidak. Presiden Soekarno tidak pernah kesini. Yang meresmikan pabrik ini seorang pejuang, bernama Letkol Sastro Lawu. Beliau yang mengusulkan didirikannya pabrik ini ke Presiden Soekarno”

“Sastro Lawu Pak? Tujuan mendirikan pabrik ini apa?” tanya saya mengulang

“Supaya daerah ini maju, masyarakatnya bisa bekerja dan semua bisa maju” jawab Pak Sukir dengan mantap

“Bapak kenal dengan keluarganya?” tanya Pak Wawan

“Saya tahu rumah dan keluarganya…” jawab Pak Sukir sambil memberikan arahan

“Sastro Lawu menghadap ke Presiden Soekarno, dan kemudian dibangunlah pabrik ini” Jelas Pak Sukir lagi

Aku termenung beberapa saat. Seseorang menghadap Presiden Soekarno? Kapan? Nenekku pun mungkin masih remaja saat itu. Bagaimana aku bisa mencari potongan kisah dari waktu yang sebegitu jauh jaraknya bahkan dari waktu kelahiranku?

“Kira-kira apakah kita bisa mendapatkan beberapa keterangan lagi dari keluarga Sastro Lawu, atau mungkin fotonya?”

“Ya, bisa saja. Mereka mungkin masih memiliki foto Sastro Lawu, soalnya kalau teman-lain lain yang pernah kerja di sini sudah banyak yang meninggal. Tinggal saya, Pak Santoso yang ada di Tawangmangu dan Pak Maryanto, sedangkan pak Made dan Pak Gede yang dulunya pimpinan di sini sudah meninggal”

Berjalan-jalan dengan Pak Sukir, mengiringi langkahnya, mendengar cerita beliau, kami seolah terbawa ke  masa lalu.

“Saya senang sekali sejak mendengar kalau tempat ini akan diperbaiki dan dihidupkan kembali meskipun dengan kegunaan berbeda, tapi sayangnya kok saya merasa kalau saya tidak akan bisa lagi bekerja disini karena usia”

“Bapak tidak perlu bekerja disini lagi kok, Bapak bisa datang ke sini untuk cerita-ceritaan kepada para pengunjung seperti kepada kami sekarang ini” jawabku

“Ya semoga saja, karena usia saya juga ini kan sudah tua…”

Sore sudah menjelang saat kami mohon diri setelah mengantar Pak Sukir kembali ke rumahnya. Dalam waktu dekat kami masih harus mencari keluarga Sastro Lawu.  Pencarian mata rantai yang hilang tentang asal mula keberadaan pabrik ini seolah menemukan setitik kecil cahaya waktu Pak Sukir menyebutkan nama Sastro Lawu sebagai pencetus ide supaya kota ini menjadi maju. Hari ini, setelah sekian puluh tahun berlalu semoga mimpi masa lampau itu bisa menjadi kenyataan di masa datang.

**

Ketika Ilalang Bercerita:

Setelah Semuanya 

Ketika Ilalang Bercerita

 

 

Iklan

6 thoughts on “Lelaki Tua Itu Bercerita

      • Kembangkan sedikit kemudian tutup ceritanya. Kembangkan lebih besar lagi, tutup ceritanya. Kembangkan lagi…..

        –> masih sering terbatas dalam menuangkan imajinasi ke bentuk tulisan, tapi baiknya terus dicoba nih… kalo nggak … nggak lucu kalo ilmunya cuma segitu 😀

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s