Hanya Sepenggal Ingatan

leave

Apakah yang paling sulit untuk dihalau? Aku rasa bukan kucing, anjing, serangga atau bahkan jenis mahluk hidup lainnya. Dia lebih nyata dari semua mahluk hidup, tapi tak bisa disentuh. Jika ada orang yang memujanya, mungkin karena dia indah bagi mereka, tetapi buruk bagi yang lain.

“Mbak, saya pamit pulang sebentar ya… nanti mau ada tamu, tapi saya secepatnya balik lagi sini” pamit Ruly staf administrasi saat aku baru saja sampai di proyek

“Siapa tamunya?” tanyaku iseng

Ruly menjawab dengan senyuman malu

“Keluarga pacarmu ya? Kamu mau dilamar?”

Lagi-lagi Ruly menjawab dengan senyuman malu

“Ya, pulanglah, tapi baliknya bawa makanan. Awas kalau nggak bawa, berarti kamu harus pulang lagi ambilin” kataku iseng

“Ya mbak” jawabnya singkat

Aku melihat mata Ruly bersinar gembira, dan wajahnya terlihat berbeda hari ini. Tentu saja, siapa yang tidak bahagia jika keluarga sang pacar datang berkunjung untuk mengakui keseriusan suatu hubungan?

Ups! Kurasa aku sudah kepo dan baper terlalu jauh.

Dan seperti yang kukatakan, sesuatu yang nyata namun tidak ada itu melintas, mengganggu dan membawaku ke suatu waktu.

Senja itu, kami berempat ada di dalam mobil dari suatu perjalanan. Aku, ibu, dan kedua adikku.

“Sudah sekarang aja main ke rumahnya… sembari kenalan” kata Ibu kepada adik lelakiku

Dan entah pesan apa yang sudah dikirim oleh adikku ke pacarnya, karena begitu pintu pagar terbuka, kami sudah disambut oleh tatapan ramah dan gembira oleh sebuah keluarga besar. Meski cuma berkenalan, dan berbicara yang tidak terlalu penting namun ternyata itu langkah menuju suatu hubungan yang serius. Memang tak banyak orang mempedulikanku, karena aku memang terkesan sebagai kakak yang tidak ‘peduli-an’. Namun aku melihat, merekam, menyimpan semua adegan di situ lekat di benakku.

Tatapan mata gembira dari sebuah keluarga yang anak gadisnya didatangi keluarga ‘pacar’, senyuman yang merekah hampir di setiap sudut rumah, kerlingan mata ayu, keramahan, kegembiraan.

Ah! Tatapan mata yang sama ada di Ruly sekarang.

Menatap punggung Ruly yang pergi menjauh, suatu perasaan asing mendatangiku. Aku berusaha menyibukkan diri dengan memberi teriakan kepada tukang dan mandor yang sedang sibuk bekerja. Mengambil gambar proyek dari setiap sudut, dan membuang pandangan ke gunung yang seolah sedang menatapku dari kejauhan. Aku berharap elang besar itu melintas terbang lagi, tapi mungkin hari ini dia sedang mampir entah di sudut gunung mana karena sosoknya yang gagah tak terlihat sama sekali. Aku begitu terpesona dengan keanggunannya saat terbang melintas bukit, sampai melongo lama dan ditertawakan para tukang.

Ruly datang beberapa jam kemudian, meletakkan beberapa bungkus kue kering, peyek tempe, dan rengginang. Matanya berbinar dan senyumnya secerah awan siang ini.

“Bagaimana tadi? Senang? Kapan menikah?” tanyaku bertubi-tubi

“Ah, mbak…” jawabnya sambil mencubit lenganku

Aku seolah melihat bekas luka yang sudah mengering dan sembuh, tetapi parutnya terus mengingatkan pada suatu masa dan suatu peristiwa.

Mata Ruly terarah kepada kertas gambar denah taman, tetapi aku sangat yakin pikirannya tak kesitu, jadi kuteruskan kesibukanku.

“Tanah ini sudah bisa ditanami empon-empon belum pak?” tanyaku pada tukang tanaman

“Belum mbak, tanahnya baru saja disemprot pembunuh rumput, dan dibalik dua kali. Itu juga masih tunggu beberapa hari lagi sampai siap menerima tanaman baru. Kalau terburu-buru nanti tanaman yang baru malah bisa mati” jelasnya padaku

Aku manggut-manggut.

Perlu waktu beberapa hari hingga tanah ini siap menerima tanaman baru lagi, lalu butuh berapa lama waktu berlalu hingga sebuah peristiwa indah tertanam di ingatan menggantikan kenangan lama?

Tanpa sengaja aku menghela nafas.

“Ada apa mbak?” tanya Ruly

“Nggak ada apa-apa. Aku hanya ingat suatu peristiwa yang sama ketika aku dan keluargaku mendatangi rumah pacar adikku hanya untuk berkenalan. Sama seperti yang kamu alami hari ini” kataku akhirnya

“Lalu? Berapa lama masa bertunangan sampai menikah mbak?”

“Itulah… sayangnya pertunangan itu harus batal…”

“Kenapa?” tanya Ruly lagi

Aku hampir menjawabnya saat panggilan seorang mandor mengalihkan perhatianku.

Adikku membatalkan pertunangan itu karena berpaling pada gadis lain, dan tak mau bertanggung jawab. Atas nama sebuah keluarga besar aku mendatangi rumah itu sendirian. Meskipun aku sama sekali tidak bersalah, namun berada di pihak yang salah. Permintaan maafku demi kehormatan dan harga diri keluarga seperti ucapan yang tak berarti. Aku menerima semua tatapan marah, caci maki, dan umpatan. Menelan  semua rasa bersamaan sendirian. Menyimpan semua ucapan yang kudengar, semua rasa yang kumiliki, membungkusnya erat-erat, dan melemparkannya ke tubir lautan. Hatiku.

Cerita selanjutnya tak akan pernah kukatakan pada Ruly. Tidak! Aku tak berharap dia mengalami hal yang sama seperti tunangan adikku.

Malam menjelang. Aku masih mengingat semua yang terjadi hari ini, dan tanganku tak bisa dihalangi untuk mengetik.

Aku menghela nafas, semua telah berlalu, kenangan itu berjalan menjauh, dan seperti tanah yang sedang diolah supaya siap ditanami tumbuhan baru, aku berharap seperti itulah yang terjadi di ingatanku.

Bersamaan sebuah lagu mengalun pelan…

You know the things that have brought me here.
You know the story of every tear.
‘Cause you’ve been here from the very start.

Even though I don’t know what your plan is,
I know you make beauty from these ashes.

I’ve seen joy and I’ve seen pain.
On my knees, I call your name.
Here’s my broken Hallelujah.

With nothing left to hold onto,
I raise these empty hands to you.
Here’s my broken, here’s my broken,
Hallelujah

 

8 April ’16

 

Ketika Ilalang Bercerita:

Setelah Semuanya 

Ketika Ilalang Bercerita

Lelaki Tua Itu Bercerita

 

Iklan

8 thoughts on “Hanya Sepenggal Ingatan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s