Tentang Belajar Pada Kesalahan

hot chocolate.jpg

Obrolan ini berawal pada satu titik ketika kawan saya mengatakan “Mengapa kamu tidak percaya diri saja, bukannya melalui berbagai pengalaman yang kamu lewati membuktikan bahwa kamu bisa melakukan banyak hal?”

Kami sedang berbicara tentang tantangan besar di pekerjaan yang sedang kami jalani.

Saya meringis dan mengangkat bahu, “Entahlah,  bukankah ada banyak orang yang lebih hebat dari aku? Mengapa mengatakan kalau aku mampu? Padahal aku ini ya cuma begini…

“Tidak usah berbicara tentang hal-hal gaib yang belum terjadi dan masih di awang-awang” kata teman saya lagi

Saya ngakak!

Dan ia menambahkan, “Semua hal yang belum ada, orang-orang yang kamu katakan hebat itu belum ada disini, jadi mereka masih gaib, dan nyatanya yang di sini adalah kamu”

Sambil mengangkat bahu saya berkata, “Mungkin tepatnya aku tidak pede”

“Ke-tidak-pede-an itu bisa berupa apa saja, dan berasal dari mana saja, ini sebenarnya lebih dalam dari sekedar tidak pede. Ada masalah yang lebih inti dari semua itu, benar?” lanjutnya

Saya terdiam.

“Ceritakan padaku bagaimana kamu bisa memulai menangani pekerjaan sebelumnya, apakah kamu memiliki pengalaman di situ sebelumnya?”

Saya menggelengkan kepala, “Aku sama sekali tidak memiliki pengalaman di bidang itu, sekolah memang di bidang yang sama, tetapi cuma sebentar dan ilmunya tidak cukup mantap untuk di praktekkan. Jadi aku menghadapi saja setiap tantangan, masalah, berhitung sana sini, melangkah, dan sisanya nekat”

“Nah! Tidak butuh pede kan? Jadi masalahnya sebenarnya tidak disitu”

Saya menggigit sepotong kecil roti yang belum tersentuh sejak obrolan kami dimulai.

Dan perjalanan mengingat dimulai, mencoba mencari darimana semua rasa itu mulai.

Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari saya, hanya seseorang yang senang belajar dan mengerjakan segala sesuatunya, diantaranya membuat dan mengorganisir sebuah acara yang dalam bahasa keren Event Organizer.

Di 5 tahun pertama memasuki dunia kerja, saya belajar tentang bagaimana sebuah acara dibuat, menghubungi seorang pembicara, mengatur persewaan gedung, mengatur tamu undangan, dan lain-lain.

Seiring berjalannya waktu, saya makin pandai menyusun kalimat, memperkirakan jumlah kehadiran tamu dan mengatasi kemungkinan-lain-yang-tidak-diinginkan.

Makin hebat? Ya tentu saja! Namun saya masih di bawah orang lain, ada seorang koordinator,  seorang pemimpin atau ketua, dan saya sekedar pelaksana lapangan, bukan penanggung jawab.

Beberapa tahun kemudian, saya mulai membuat acara sendiri, dari pertemuan semacam ulang tahun dengan tamu 10 orang dan lambat laun membesar.

Yap! Banyak orang mulai mempercayai apa yang saya katakan, atur, dan urus, apalagi teman-teman komunitas saya sangat mendukung hal ini.

Terlihat bagus?

Hingga suatu hari saya terpeleset. Sungguh-sungguh terpeleset!

Di suatu acara komunitas ‘semacam motivasi untuk anak muda’ saya melakukan kesalahan yang akhirnya berujung fatal. Saya lalai cek ricek bagian konsumsi, dan melupakan begitu saja kalau restoran yang saya gunakan waktu itu restoran vegetarian, sedangkan hampir seratus persen teman dan tamu undangan non vegetarian.  Menu yang terhidang vegetarian, dan teman-teman saya shock dengan hal ini. Meskipun mereka tidak menjadi ‘sakit’ karena makan hidangan vegetarian ataupun yang lainnya. Namun ini benar-benar mengecewakan mereka.

Saya lalai! Dan itu kesalahan mutlak saya sebagai penanggung jawab.

Hasilnya? Berbulan kemudian kesalahan tersebut selalu ‘disinggung’ di hampir setiap kesempatan. Meskipun saya sudah meminta maaf, ‘toh saya tidak mungkin meminta orang berhenti ‘membicarakan kesalahan’ saya tersebut. Benar begitu?

Hampir putus asa, saya akhirnya memilih berhenti meng-organize acara serupa baik dari yang terkecil maupun yang besar. Saya memilih menjadi crew kembali, mengikut kesana kemari Ketua Wedding Organizer yang saya kenal baik. Menjadi tenaga part time WO terlihat lebih menarik daripada mencari perkara dengan meng-inisiasi sebuah acara namun sekalinya cacat menjadi malu seumur hidup. Bersembunyi dan menjadi ‘seperti kebanyakan orang’ terlihat jauh lebih mudah daripada ‘muncul’ namun dipermalukan.

3-4 tahun berlalu, suatu saat seorang sahabat membutuhkan saya untuk membuat dan mengatur sebuah acara. Saya mencobanya lagi, dan lagi, dan lagi.

Ternyata saya bisa melakukannya lagi! Teriak saya di dalam hati.

Tetapi jalan tol pun tidak selalu mulus, begitu kata seorang teman.

Tidak semua hal baik itu memancing pujian, dan tidak semua hal buruk mengundang caci maki. Bahkan di acara yang paling sempurna pasti akan ada satu dua titik bolongnya, demikian kata seseorang teman

Meskipun ‘oke’ di pekerjaan dan semua tugas bisa terselesaikan dengan baik, namun untuk ‘memimpin sesuatu’ di luar kantor menjadi hal yang lumayan menakutkan dan merangsang rasa kuatir yang terkadang sedikit berlebihan dalam diri saya. Setelah semua kritik yang seperti dengung lebah di telinga,  saya kok malah mulai menyimpang dengan membiarkan langkah kaki saya mencari jalan yang nyaman. Dan pelan namun pasti kenyamanan itu membuat suatu lapisan dalam diri yang saat ini saya beri stempel “tidak pede”, dan seolah menjadi alasan permisif saya untuk kalimat “tidak mau karena aku trauma”

“Kamu tidak mau menerima kesalahan dan menjadikan kesalahan itu sebagai pelajaran” kata kawan saya setelah mendengar cerita panjang lebar

“Tidak sepenuhnya seperti itu, aku mengakui kesalahan, menerima kesalahan, tetapi mengapa harus dianiaya terus menerus karena kesalahan itu? Tidakkah orang-orang itu bisa melupakannya” pembelaan saya

“Mengharap orang melupakan kesalahan itu hampir sama seperti berharap rumput tak tumbuh di musim hujan” katanya

“Jadi?”

“Ikhlas dan relakan hatimu, menjadikan kesalahan itu sebagai pelajaran”

Saya ngakak lagi

“Mudah mengucapkannya, tapi hampir gila melakukannya” jawab saya ngasal

“Menurutmu apa kalau bukan itu?”

Terdiam beberapa saat, saya menengadahkan wajah, “Yap! Sebenarnya memang itu yang harus kulakukan. Belajar dari kesalahan meski itu pahit, dengan demikian aku tidak mengulanginya di waktu yang akan datang. Dan untuk masalah sakit karena dikata-kata’i… ya di ikhlas-kan saja… begitu?”

“Tidak akan semudah ucapanmu” katanya lagi

“Ya memang tidak semudah itu, tetapi jika tidak ada hal lain, ya sudah”

“Jadi, bagaimana dengan tantangan di depan ini? Pekerjaan besar menunggumu! Hei… aku mau bikin kopi ya…” katanya sambil melangkah menuju dapur

“Entahlah… aku akan terus bekerja sebaik yang aku bisa, sekeras yang aku mampu… tidak usah berpikir hal gaib yang belum ada” jawab saya menyusulnya

Sepertinya secangkir coklat panas bisa membantu saya mengerti ucapannya.

***

Iklan

7 thoughts on “Tentang Belajar Pada Kesalahan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s