Melompatlah Si Peragu

jump 2.jpg

Saya menatap ke celah berupa parit yang memisahkan petak tambak kami dengan milik Pakde. Terlihat dalam, lebar, dan deras aliran airnya. Saya berpaling menatap seraut wajah yang sedang menunggu.

“Ayo, melompatlah” katanya

Saya menggeleng, keraguan mendadak menyergap kedalam hati saya. Bagaimana jika terpeleset dan kaki saya masuk ke sana, bagaimana jika lompatan saya tidak sampai ke seberang, bagaimana jika?

“Ayo…” katanya lagi

“Gendong saja pak…” jawab saya merajuk

“Kamu bisa, pasti bisa… aku akan menangkapmu dari sini… !” katanya sambil melompat ke seberang dan mengarahkan tangannya pada saya

Saya menatap wajahnya, keraguan sekilas berkelebat, namun sepasang mata di depan saya nampak yakin,…

***

“Mungkin seperti itu keraguanku saat ini, tentang tantanganmu untuk meng-upgrade diriku. Itu ibarat melompati parit yang terlihat dalam, dengan aliran air deras, atau seperti menyeberang di jembatan penyeberangan, atau seperti apapun yang selalu membuatku ragu-ragu” jelas saya di suatu pembicaraan dengan kawan

“Yah, nyatanya ‘toh memang harus seperti itu kan? Beranilah melompat. Melebihi ketakutanmu, ke-tidak-percayaan dirimu, dan apapun yang terpikir olehmu” kata kawan saya

Meng-upgrade diri tidak semudah teori yang dibagikan di buku-buku bacaan, ataupun seminar yang pernah saya datangi. Bagi saya, hal itu mirip dengan berusaha meregangkan diri sebesar mungkin, dan menyangkal hampir semua perasaan ‘tidak mampu’ di dalam diri saya.

Dan lagi-lagi, ingatan tentang “pengalaman gagal, terjatuh, tersungkur, dan terjerembab’ menggoda untuk berhenti mencoba.

“Aku tak punya pengalaman hidup menjadi yang terbaik, yang nomor satu, yang terhebat. Sekian tahun hidupku hanya menjadi orang biasa, bekerja, berusaha sebaik-baiknya dimana aku berada. Tak pernah memenangi kejuaraan apapun. Jadi, nasehatmu untukku melompat itu seperti … ” saya menggantungkan jawaban

“Ini tidak terlalu seperti yang kamu pikirkan. Tidak usah mengejar apapun, tidak usah mencapai apapun. Hanya berhenti menyangkal dirimu bahwa kamu tidak bisa” katanya lagi

“Menyangkal diri?” tanya saya

“Ya! Itu tepatnya!” jawaban yang telak ditujukan pada saya

Menyangkal kemampuan diri sendiri, membuat saya terlihat sebagai peragu. Kata itu yang dulu sering disematkan orang pada saya. Paling tidak seperti itulah yang terlihat di penampilan saya. Di satu kesempatan saya kadang begitu yakin, tapi di lain waktu sangat peragu. Memilih membandingkan diri dengan orang lain yang jauh lebih ini itu, dan berakhir mundur terarur. Ah! Keraguan hampir seperti gurita yang membelit saya.

Hingga beberapa tahun terakhir saat perjalanan hidup membawa saya pada posisi paling dicari di pekerjaan memutar balik si peragu itu. Belajar berpikir cepat meskipun pertimbangan serupa lintasan kabel. Belajar memutuskan dengan cepat dan tepat meskipun keraguan menekan setiap sudut kepala. Belajar membuat pertimbangan yang matang meskipun saya seringkali harus diperhadapkan pada resiko yang tidak sederhana. Sosok peragu itu pelan namun pasti menyingkir, yang sayangnya menunggu saat yang tepat untuk menghampiri.

Ya! Tidak seperti yang sering dikatakan oleh iklan, kalau posisi puncak adalah saatnya menikmati kesuksesan. Berada di posisi itu sangat tidak menyenangkan. Bukan hal yang mudah untuk menjadi orang yang teguh dan sekuat baja.  Hei, tantangan dan benturan yang terus menerus sangat melelahkan. Benar begitu?  Dan menyelinap di balik gunung adalah pilihan menyenangkan untuk menghindarinya.

Sampai kemudian tantangan untuk melompat kembali mendatangi, dan ternyata saya mendapati diri telah hampir kembali menjadi peragu.

“Benar kan bibi guru? Kamu sebenarnya bisa, tetapi aku belum tahu pasti apa yang membuat kamu sembunyi di balik alasanmu itu?” kata kawan saya sambil nyengir jelek

Kawan  satu ini hampir selalu memperhatikan saat saya mengajar staf baru, melihat suatu masalah, dan berembug mencari solusi. Katanya, saat melihat cara-cara saya, dia tahu bahwa saya sebenarnya menyembunyikan sesuatu di balik alasan ket-tidak- bisa-an saya. Ya, saya memang sengaja tidak membawa bekal ‘cerita’ apapun dari pekerjaan sebelumnya ke balik gunung. Tidak.

Saya mengangkat bahu, tidak menjawab.

“Melompatlah peragu! Aku tahu kamu bisa!” ejeknya lagi

***

Hap! Saya melompat! Sepasang tangan telah menangkap saya,

“Apa kataku, kamu bisa kan?” Bapak tersenyum hangat, parit menakutkan itu sudah terlompati.

Saya hanya perlu keyakinan untuk melompat itu sekali lagi.

Sekarang!!

 

 

— ie 060117–

gambar dari pinterest 

 

 

 

Iklan

4 thoughts on “Melompatlah Si Peragu

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s