Hanya Sebuah Kamar

bedroom.jpg

“Aku kangen pulang, tapi juga tidak ingin pulang” kataku sambil meletakkan pantat di kursi

“Minggu depan saja, sekalian long weekend” jawab teman saya singkat

Sambil menunggu nasi matang, pikiran saya melayang tak tentu arah. Hari yang baru saja kami lewati lumayan luar biasa. Tim pertama kami menerima kunjungan perdana serombongan besar mahasiswa dari sebuah universitas. Bukan hal yang sulit sebenarnya, apalagi acara mereka hanya sekedar mampir, mengikuti tour perkenalan lokasi kami, makan siang, dan pulang. Itu saja. Tantangannya hanya pada mempersiapkan tim perdana saya, yang masih buta pengalaman.

Tanpa sengaja saya menghela nafas panjang.

“Mengapa kangen pulang tapi tidak ingin pulang?” tanya teman saya mengulang pernyataan saya beberapa menit lalu

“Kehilangan tempat pulang” jawab saya singkat

Beberapa waktu lalu saat pulang ke rumah, saya mendapati kamar saya telah diubah menjadi ruang kerja ‘jumini’ si bontot. Tidak ingin membuat masalah ‘lebih panjang’ saya memilih diam, apalagi si bontot ini memang agak ‘serampangan’ terutama dalam meletakkan peralatan-menggambar-menjahit-bekerja. Ibu sudah berbulan-bulan dan mungkin sudah hampir bosan menegur kondisi kamarnya yang lebih mirip gudang dibandingkan tempat istirahat. Dan akhirnya, kamar saya yang terletak persis di sebelahnya, diubah menjadi kamar kerja ‘ si jumini’ apalagi saya pulang hanya dua minggu sekali. Saya hanya mengatakan ‘ya okelah’ waktu mendapati kamar tersebut berubah tatanan.

“Disitulah sebenarnya akar masalahnya” kata teman saya

“Hmmm… mungkin juga.. tetapi bukannya itu hanya sebuah masalah kecil apalagi untuk orang seumurku?”

“Kecil? Nyatanya tidak kan? Itu memberikan pengaruh besar padamu. Kamu kecewa, itu tepatnya. Betul begitu?”

Saya menatap matanya, “Kenapa aku harus jujur dengan orang sepertimu ya…”

Dia mengangkat bahu

“Mungkin itu memang berpengaruh besar. Entah dimana ujungnya. Aku masuk rumah  baru di usia 20 tahun, setelah berpindah asuhan, ditolak dimana-mana, dan tersakiti oleh perjalanan hidup. Akhirnya aku pulang, mengenali keluargaku yang sesungguhnya, meskipun di berat di awalnya. Aku mencoba menemukan tempat untuk dicintai, dan diterima, yang bernama rumah”

Dan proses masuk ‘rumah’ tidaklah semudah satu untaian kalimat yang saya ceritakan. Terbiasa hidup tanpa pernah menyebut ‘ini milikku’ membuat saya menjadi pribadi yang canggung. Entah bagaimana menyebutnya, namun saya selalu berpikiran ‘sudah lumayan saya diterima’, ‘sudah lumayan pula dipelihara’. Dan selanjutnya saya  berhitung dan menghitung terus menerus! Itu yang paling parah! Saya menghitung balas budi yang harus saya kembalikan berupa ‘bakti’ yang berwujud apapun itu.

“Meskipun itu menyakiti dirimu sendiri” tukas teman saya

“Untuk cinta yang diberikan padaku, untuk penerimaan, untuk pemeliharaan, untuk sesuatu yang kusebut keluarga, aku … sialan kenapa aku tak bisa menangis saja” gerutu saya

“Kenapa tidak? Menangis saja kalau kamu mau”

“Aku tak pernah merasa memiliki sesuatu, memiliki hak apapun, jadi… ya terserah saja… mau kamarku diubah berkali-kali biasanya aku diam saja… tetapi ada apa dengan kali ini?”

“Sini kujelaskan. Kamu tidak merasa bermasalah karena sebelum ini kamu tidak pindah rumah lagi. Tetapi setahun terakhir ini tepatnya sejak kamu kerja di kota ini, kamu selalu merasa harus ‘pulang’, kembali pada tempat dimana kamu merasa dicintai, diterima dan …” jelasnya menggantung kalimat

“Rumah adalah serpihan cinta terakhir yang kumiliki” kata saya lebih mirip bisikan

“Dan ketika tempatmu merasa aman itu berubah, itu mengganggumu. Jadi mengapa tidak kamu katakan saja keberatanmu itu pada adik dan ibumu?”

“Aku… selalu merasa apapun itu bukan milikku, bukan hakku… jadi…” saya terdiam. Sejujurnya terkadang menangis mungkin menjadi hal yang paling melegakan untuk dilakukan seorang wanita. Tapi kok susah bagi saya.

“Sekarang pilihlah! Katakan keberatanmu pada keluargamu, atau tidak usah pulang sekalian tiga bulan ke depan!”

Mata saya melotot menatapnya, “Hah! Tidak pulang tiga bulan??”

“Yah… itu pilihannya! Berhentilah berhitung, belajarlah melepaskan dan ikhlas, yang salah satu tindakannya adalah berhenti menyakiti dirimu sendiri. Akan baik bagi dirimu sendiri dan keluargamu waktu kamu berbicara tentang keberatan-keberatanmu dan juga rasa yang kamu miliki. Bahkan mungkin sampai pada sensitif mu terhadap penolakan dan atau penerimaan. Aku berani bertaruh kamu tidak pernah mengatakan hal ini pada keluargamu sendiri” jelasnya

“Hanya sebuah kamar ternyata rumit juga ya kaitannya… panjang…” jawab saya sambil mulai menyendok cah kangkung

“Ya, hanya sebuah kamar… tetapi itu menceritakan hampir separuh perjalanan hidupmu…”

“Ya, kurasa begitu!” jawab saya akhirnya

Mungkin memang hanya sebuah kamar yang menjadi letak permasalahan, namun ternyata dari sana rasa galau ini berawal. Tentang serpihan cinta yang kali ini menyelip entah di kolong sebelah mana.

— ie 220117 —

gambar dari pinterest 

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s