Memilih Lupa

IMG_20170301_055024.jpg

Bulan lalu mendadak saya dicemplungkan ke grup WA SMA oleh salah satu teman. Ha ha… bukan hal asing tentunya ini bagi banyak orang, yang menganggap itu asing paling cuma saya.

Mengapa? Karena selama ini grup WA yang saya miliki hanya yang berkutat pada pekerjaan atau komunitas yang saya berperan  di dalamnya. Lintasan waktunya pun tidak terlalu jauh dari hari ini, paling sekitar 5 tahun terakhir. Lah ini? Berapa tahun sudah berlalu sejak saya meninggalkan seragam putih abu-abu hingga sekarang rambut saya mulai dihiasi satu dua warna abu-abu serupa?

Jadi saya mulai memberi salam kepada anggota grup SMA yang ternyata berisi teman sekelas, dan mulai menyapa.

Saling mengingatkan tentang satu persatu orang adalah hal berikutnya.

Ingatkah tentang si A yang berambut panjang yang duduk di pojok kanan nomor 2?

Ingatkah waktu A, B, C, D dihukum lari keliling lapangan?

Ingatkah waktu kita melompat pagar dan sialnya tas si E kecemplung kali di bawahnya?

Ingatkah kamu pada pacarmu? 

Ingatkah kamu kalau aku duduk di belakangmu? 

DAMN!

Dan waktu saya menjawab tidak ingat semuanya, mulailah pertanyaan berikutnya memberondong saya.

Mengapa? Ada apa? Bagaimana? 

Disertai postingan foto-foto jaman unyu yang dikirimkan untuk mencoba membantu saya mengingat.

“Maafkan jika tidak banyak yang bisa kuingat dari kelas SMA kita, ada dari kalian yang bisa kuingat namanya namun tidak kisahnya, dan beberapa sebaliknya. Ingatanku kacau balau sejak 2007 ketika sempat sakit. Setelahnya, kabel ruwet mungkin jauh lebih rapi dibandingkan kenangan yang kumiliki” penjelasan saya

Upaya baik mereka tidak berhenti sampai beberapa hari kemudian, sayangnya semakin saya berusaha mengingat, kepala saya berdenyut makin keras dan mulai menyakitkan. Lintasan peristiwa mulai berseliweran liar di kepala saya.

Dari dasar hati yang paling dalam, maafkan aku… karena waktu kita sekelas aku selalu mengolokmu, mengejekmu, memperlakukanmu dengan sangat buruk. Aku mencarimu bertahun-tahun untuk meminta maaf padamu. Dan sekalipun hari ini kamu tak bisa mengingat apa yang sudah kulakukan padamu, setidaknya aku sudah meminta maaf padamu… supaya lega hidupku. Tulis satu orang

Saya terbelalak. Perlakuan apa yang telah saya terima darinya? Tapi, ya sudahlah semuanya telah lewat, jadi memilih memaafkan ‘toh sudah lupa juga. Ya’ kan?

Saya memang tak bisa mengingat banyak, tetapi untunglah tidak semua kenangan terhapus. Ini mungkin yang tidak disadari oleh kebanyakan orang yang berhadapan dengan orang yang mengalami ‘seperti saya’. Mereka mengira kami ‘hilang ingatan’, tak mampu mengingat sama sekali.

Beberapa orang yang kenangannya ‘entah mengapa’ menempel justru mengatakan hal yang terbalik dengan yang mereka lakukan di jaman SMA. Saya hanya bisa nyengir  saat mereka menuliskan banyak hal yang berbeda dengan yang di ingatan saya.

“Untung aku sudah jauh berubah, coba kalau tidak… aku pasti sudah jadi salah satu pemeran penjahat di komik conan… ha ha ha.. ” kata saya

Sebulan telah berlalu sejak saya kecemplung di grup WA itu, masih banyak yang tak bisa saya ingat. Mungkin lebih tepatnya saya yang kurang berusaha keras mengingat dan membiarkan ingatan itu berlalu begitu saja.

Mungkin ingatanmu sengaja dihapus oleh Tuhan supaya tidak jadi gila karena terlalu kelam dan berbatu jalan yang telah kamu lewati sebelumnya, kata salah satu teman saya

Saya meng ‘iya’ kan perkataannya. Terkadang lupa ternyata ada baiknya, paling tidak bagi saya pribadi.

** 14/04/2017

 

 

 

 

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s