Terluka Dan Patah

broken.jpg

Terluka dan patah! Bagaimana caranya saya bisa mengakui hal ini?

2 hari yang lalu di sarapan pagi yang cerah, paling tidak itu gambaran saya tentang hari yang akan saya lewati. Housemate saya mengatakan hal yang begitu menempelak, menghantam dinding pertahanan saya. Beberapa diantaranya memang soal pekerjaan karena kami ada perusahaan yang sama, tetapi pukulan mematikannya tidak berada di point itu, tetapi berada di hal lain.

Pertama. Dia mengkritisi personal space  saya yang terlalu lebar, yang membuat saya tidak mampu membaca kebutuhan, menebak isi hati bahkan sekedar membaca perubahan suara saat emosinya mulai meledak.

Ah! Saya tertegun dengan pernyataannya.

Saya mengakui personal space saya yang mungkin lebih lebar dari GOR Bung Karno, saya yang tak mampu menyentuh hati orang, saya yang hanya mengenal ya dan tidak bukan atau, saya yang tak bisa romantis, saya yang berbicara dengan lugas dan terus terang, saya yang bermuka datar, saya yang entah berapa banyak lagi.

Tetapi saya tidak pernah mengakui asal personal space yang seluas lapangan bola itu pada siapapun.

Saya tidak mengakui kalau saya tidak diasuh mereka yang disebut “orang tua dan saudara kandung”. Saya tidak bisa mengakui kalau sedari kecil saya selalu diperintahkan duduk, diam, jangan sentuh ini – jangan sentuh itu, ini untuk mereka dan bukan kamu. Saya tidak bisa mengakui kalau saya tidak memiliki identitas jelas dari sejak mengenal keberadaan diri saya di usia ter-dini. Saya tidak bisa mengakui kalau saya tidak pernah berhak meminta dan memiliki apapun di rumah tempat saya dibesarkan.

Saya tidak bisa mengakui kalau semua itu membentuk saya menjadi pribadi yang tak mampu menyentuh, memeluk , apalagi membaca rasa yang dimiliki orang lain. Saya buta dan canggung dengan semua itu. Saya ingin seperti kebanyakan orang, dan saat ini saya sedang berusaha meniti jalan menuju kesana.

Kedua. Dia mengkritisi kedatangan salah satu teman kantor yang sering berlama-lama di rumah untuk ngobrol.

Ya, saya mengakui kalau obrolan kami bisa berasal dari satu ujung satu ke ujung yang lain. Berbicara dengannya sangat menyenangkan bagi saya, karena kami bisa membahas sangat banyak hal baik yang terkait dengan pekerjaan maupun tidak. Saya bisa berbicara tentang tanaman, bangunan, arsitektur, religi, sampai puisi dengannya. Hal yang sangat menggairahkan setelah 1,5 tahun membisu di kota yang baru saya kenal tanpa seorangpun teman dekat.

Saya hanya tidak mengakui kalau membuka pintu pertemanan bukan hal yang mudah bagi saya. Saya tidak mengakui kalau saya baru merangkak untuk kembali mempercayai sesuatu yang dinamakan hubungan persahabatan.

Saya  hanya sekedar memberi solusi untuk ketidak-nyaman-an tersebut dengan “baiklah aku yang pergi keluar rumah dan nongkrong di tempat lain jika mau ngobrol dengannya”

Ketiga. Dia mengkritisi sikap saya yang rame dengan orang lain tapi tidak dengannya, tetapi dia tidak mau mendengar saya bicara tentang pekerjaan di rumah.

Ya, lagi-lagi saya tidak mengakui kesulitan saya untuk mempercayakan diri  saya pada sesama perempuan, kecuali kepada ibu dan adik. Solusi yang saya tawarkan hanyalah “baiklah kalau kamu tidak mau mendengar saya bicara soal pekerjaan di rumah, saya akan membuangnya di blog”

Sesaat kemudian pikiran saya dipenuhi lintasan pertanyaan. Darimana semua masalah ini berasal? Dimana ujungnya?  Uh! Terlalu panjang lorong dan selasarnya.

Dan usai percakapan pagi itu, saya berjalan di proyek dengan tubuh bergetar menahan emosi yang berguncang, hasilnya fisik saya tumbang dalam hitungan jam kemudian.

Saya terluka dan patah!

Saya hanya tidak bisa mengakuinya.

** 14/04/2017

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Terluka Dan Patah

  1. Mbak Ie….
    tetaplah bangkit dan semangat mbak. Setiap orang unik dengan cara masing2. Dengan cara mbak, mungkin telah mengisi dirinya, makanya dia bisa berkata seperti itu.

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s