Aku tak mirip ronaldinho

IMG-20170215-WA0030.jpg

“Nih fotomu, tadi ku candid!” kata teman saya

Saya nyengir kesal. Saya tidak suka di foto tanpa  pemberitahuan, karena tidak bisa tampil cakep, ha ha…

“Sebenarnya apa yang membuatmu tidak suka di foto dan sangat tidak percaya diri? Hari gini  pula!” katanya lagi

Saya ngeloyor pergi sambil mengangkat bahu. Akhir-akhir ini, terutama setelah pindah kota lain dan memulai segala sesuatu yang baru, saya selalu mencoba untuk jujur dengan diri sendiri. Paling tidak dari hal sederhana, yakni mengungkap dan menelusuri asal usul bagaimana saya menjadi seperti hari ini.

Saya tidak tahu sejak kapan saya berubah menjadi anak yang tidak percaya diri  dengan penampilan fisik, karena foto TK saya memperlihatkan hal yang sangat berbeda. Saya ternyata memiliki cengiran nakal dan iseng yang menyenangkan.

Tebakan saya, sejak orang mengatakan kalau saya tidak cantik! Itu yang dikatakan 9 dari 10 orang yang saya temui, kalaupun ada yang mengatakan saya cantik itu cuma 1 orang yakni nenek saya. Kulit coklat gelap, wajah lonjong, dan yang paling menjadikan saya khas adalah gigi yang berukuran sedikit lebih besar dan maju.

Ingatan terdekat yang masih terekam baik di soal penampilan adalah ketika seorang pemimpin di komunitas saya nyeletuk di suatu pertemuan yang dihadiri 200an orang bahwa saya ini mirip Ronaldinho. Celetukan sederhana itu di teruskan, dan terus, dan terus, dan terus… oleh hampir semua teman lelaki di komunitas itu berbulan bulan.

“Nanti malam tampil nih…”

“Coba kalau kamu pakai kaos kuning… mirip dengan seragam Brasil”

“Yah… kok kalah sih…”

“Kalau rambutmu dikucir seperti itu… wah… udah deh!”

“Lihat fotomu ni di mading komunitas… mirip kan?”
Dan seterusnya…

Upaya saya untuk menangkis celetukan – celetukan itu tidak membuahkan hasil, bahkan semakin menjadi.

Apalagi jika mereka berkomentar tentang gigi saya. Mereka tidak tahu kalau dulu sekali nenek pernah menawarkan untuk mengoperasi gigi saya, sayangnya biaya yang harus dikeluarkan sebesar panen tambak setahun. Jadi dengan wajah tertunduk saya harus menolaknya, karena tak ingin menambah beban lagi selain biaya sekolah.

Tapi saya tidak mungkin menceritakannya kepada satu persatu mulut yang asal nyeletuk itu kan?

Dan celetukan terus menerus berlanjut, seolah saya ini manusia yang imun terhadap sakit hati.

Dada saya kerap seolah meledak waktu itu, meskipun Ronaldinho salah satu pemain top dunia (sekitar tahun 2004), namun entah mengapa seperti ada api yang merambati setiap sel di tubuh saya.

Aku bukan lelaki, dan aku bukan ronaldinho… sehebat apapun dia

Itu yang selalu berusaha saya katakan.

Saya mencoba merubah penampilan, mengganti celana jeans dengan dress, merapikan rambut, dan memoles bedak di wajah saya, meskipun tetap saja tanpa hasil. Dan saya menyerah! Saya selalu merasa tidak cantik, dan lebih mirip ronaldinho seperti yang mereka katakan, atau jangan-jangan perkataan mereka benar?

Saya terjerembab di ketidak percayaan diri yang parah.

Hingga suatu hari, saatnya Tuhan menolong saya (istilah saya).  Istri dari pemimpin komunitas bertanya, “Apa yang paling membuatmu terganggu dan menjadi tidak percaya diri?”

Dengan pelan saya menjawab, “Panggilan ronaldinho yang ditujukan kepada saya, itu melukai”

Mungkin istri pemimpin komunitas itu menyampaikan luka saya kepada banyak orang, karena sejak itu pula celetukan itu mereda dan akhirnya hilang tanpa bekas.

“Hei! Sudah selesai belum melamunnya!” teriak teman saya

“Emang kenapa?” tanyaku

“Mau ku foto!” katanya ringan

Ah! Ingatan itu seperti lintasan ingatan lain yang datang dan pergi, menjadi penggalan-penggalan cerita yang harus saya tulis supaya tidak penuh di kepala.

~ ie 25/04/17 menjelang pagi

 

 

 

 

 

 

Iklan

Terima kasih sahabat...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s